Ide dan Konsep


Oleh: Gerzon Ron Ayawaila ( Dosen dari Institut Kesenian Jakarta dan seorang sutradara film dokumenter )


Seperti sudah dinyatakan bahwa dokumenter merupakan karya film berdasarkan realita dan fakta dari suatu pengalaman hidup seseorang atau sebuah peristiwa sejarah. Maka untuk mendapatkan ide bagi film realita, kepekaan terhadap lingkungan sosial, budaya, politik dan alam semesta, disertai rasa ingin tahu yang besar dengan membaca, berkomunikasi antar manusia dalam pergaulan, merupakan sumber inspirasi yang tak akan habis. Ide cerita untuk film dokumenter di dapat dari apa yang anda lihat dan dengar, bukan berdasarkan suatu hayalan yang sifatnya imajinatif. Untuk mendapatkan ide bagi sebuah produksi film dokumenter adalah tidak semudah mencari ide untuk cerita fiksi. Ide tema bagi dokumenter hanya dapat diperoleh dari apa yangdilihat dan didengar. Seorang dokumentaris harus banyak membaca, banyak mengamati lingkungannya, sering berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat, berdiskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas sosial dan budaya.
Dari hasil observasi dan analisa terhadap apa yang kita baca, lihat dan dengar, maka barulah dapat di olah menjadi sebuah ide untuk membuat dokumenter. Jangan terlalu cepat puas dengan ide yang baru di dapat, karena kadang sebuah tema hanya di awal nya saja menarik, tetapi setelah di evaluasi lebih lanjut malah hampa dan membosankan. Demikian pula dengan subjek yang akan kita seleksi, harus dilakukan secara teliti dengan melakukan seleksi dan pendekatan yang baik.
Dalam mencari dan menemukan ide dapat didasari oleh dua motivasi, yaitu motivasi pribadi dan motivasi sponsor atau produser. Motivasi pribadi itu berdasarkan ide pribadi yang muncul karena kita tertarik pada subjek untuk dijadikan tema film dokumenter. Motivasi kedua adalah kita hanya menjadi tim kreatif untuk memproduksi pesanan dari stasiun televisi, rumah produksi, lembaga pemerintah, swasta dan asing. Motivasi pertama meskipun lebih berat tetapi lebih memuaskan diri anda, tetapi anda harus mampu meyakinkan orang lain mengenai ide tersebut dengan harapan ada sponsor yang tertarik. Apabila motivasi anda kurang kuat maka ini akan berpengaruh pada presentasi pada sponsor, dan tentu akibatnya akan mengalami kebuntuan sumber dana, selanjutnya dapat mengganggu motivasi untuk terus bekerja hingga karya tersebut selesai. Disini perlunya dokumentaris memiliki tim kompak, karena didasari kebersamaan motivasi yang kuat maka diantara tim harus saling mendukung. Motivasi kedua tak perlu dibicarakan panjang lebar karena sebagai tim kreatif kita tinggal mengerjakan pesanan, meskipun tak jarang ada pula kendala saat presentasi karya akhir serta pelunasan biaya produksinya, terutama bila berhadapan sponsor yang awam atau nakal.
Tema & Subjek
Hal awal yang perlu anda tetapkan adalah konsep bagi tema dan subjek yang telah dipilih. Ada tiga hal yang mendasar yang perlu anda mantapkan yaitu;
·         Apa yang akan anda buat atau produksi ?.
·         Bagaimana anda akan membuatnya ? (kemasan, gaya, pendekatan, bentuk) ?.
·         Untuk apa dan siapa film ini anda produksi ? (target/sasaran komunitas) Ketiga hal ini harus di jawab dengan mantap, sebelum melangkah ke proses berikutnya. Meskipun sederhana tetapi kadang ketiga hal dasar diatas ini membutuhkan waktu perenungan panjang dan analisa mendalam. Para pemula umumnya tidak memikirkan serta menentukan dengan mantap ketiga dasar konsep diatas yang seharusnya menjadi titik tolak untuk merealisasikan ide mereka memproduksi film dokumenter.
Tema aktual atau tidak ?
Tema dokumenter tidak sepenuhnya mengacu pada peristiwa aktual, kadang justru dari peristiwa yang tidak aktual dapat menjadi aktual setelah direpresentasikan melalui film dokumenter. Meskipun tidak dipungkiri laporan faktual dapat dijadikan ide dan tema. Dari sebuah peristiwa dokumentaris menyelam ke akar permasalahannya yang merupakan suatu sebab akibat. Sehingga isi representasi tidak hanya sekedar lintasan informasi global dan tidak terjebak pada kulit permasalahannya saja. Bila sensasi menjadi sumber ide pemburu berita, justru bagi dokumenter murni menonjolkan sensasi dapat mengurangi bobot fakta. Kecuali pada dokumenter propaganda, dimana sensasi menjadi menu utama untuk memanipulasi fakta.
Dapat saja terjadi bahwa tema dan subjek yang akan anda garap akan di produksi pula oleh pihak lain atau mungkin pernah disiarkan stasiun televisi. Maka logis hal ini akan menimbulkan keraguan untuk terus dengan rencana semula serta tema yang sudah diputuskan itu atau membatalkannya?. Untuk menganalisa dan menetapkan tema dan subjek yang akan digarap, ada baiknya tidak selalu melihat tema dan subjek yang di pilih itu dari sudut pandangan publik. Tetapi justru konfrontasikan pengaruh pribadi anda terhadap subjek dan tema yang merupakan ide anda itu. Dengan demikian anda akan lebih berani menciptakan ide kreatif dengan arah dan pendekatan gaya yang lebih segar. Untuk menetapkan apakah anda akan jalan terus atau membatalkannya, dibawah ini ada beberapa pertanyaan yang perlu di jawab, sebelum melangkah pada keputusan akhir.
1.     Apakah anda sudah memahami serta menguasai tema dan subjek tersebut secara mantap ?. Tetapi bukan pemahaman yang kaku atau dogmatis.
2.     Apakah anda memiliki ikatan emosi kuat dengan subjek tersebut ?, meskipun sebenarnya ada subjek lain, yang secara praktis lebih mudah digarap.
3.     Apakah antara ide, tema, dan subjek memiliki kecocokan ?.
4.     Apakah ada usaha dan motivasi kuat untuk lebih lanjut mendalami subjek yang telah kita amati itu ?.
5.     Apakah subjek memiliki arti penting yang mendasari pokok pemikiran ide anda ?.
6.     Hal-hal apakah yang luar biasa menariknya dari tema dan subjek tersebut?.
7.     Dimana hal-hal khusus, unik serta berkesan dari subjek tersebut ?.
8.     Bagaimana pendalaman serta pembatasan yang dapat difokuskan, agar film menjadi menarik dan berkesan ?.
9.     Apa yang akan dan dapat di presentasikan dari dokumenter ini, melalui gaya pendekatan yang segar dan baru ?. Untuk memantapkan semua pertanyaan di atas ini, perlu dilakukan riset yang mendalam terhadap subjek yang akan di garap pengalaman hidupnya. Adalah sangat berguna apabila anda melakukan kunjungan beberapa kali ke lokasi subjek, ini merupakan suatu proses pendekatan terhadap subjek serta lingkungannya. Melakukan kunjungan beberapakali kepada subjek dan lingkungannya sangat membantu dalam memberikan rasa percaya bagi subjek, berkaitan dengan kisah pengalaman hidupnya yang akan di rekam. Disamping itu anda dapat memperhitungkan walaupun masih secara kasar, mengenai jumlah anggaran biaya yang diperlukan bagi produksi nanti. Sekaligus memperkirakan lamanya jadwal dan sistim kerja yang harus diterapkan nanti, ketika melakukan shooting.
Riset
Pengertian riset adalah mengumpulkan data/informasi dengan melakukan observasi mendalam terhadap subjek dan lingkungannya, sesuai tema yang akan di ketengahkan di dalam film. Pelaksanaan riset ada yang di lakukan oleh tim riset khusus dan adapula yang dilakukan sendiri oleh penulis naskah merangkap sutradara. Selain penulis dan sutradara harus terjun langsung ke lapangan, juga perlu melakukan kerja sama dalam mengumpulkan informasi dengan pakar disiplin ilmu lain. Apabila anda sudah menentukan gaya dan bentuk penuturan apa yang dianggap sesuai dengan isi dan tema film yang akan digarap, maka ini mempermudah pelaksanaan selanjutnya di dalam riset. Ketika mulai melakukan riset ada baiknya prioritaskan lebih dulu pada hal-hal yang praktis. Perlu di ingat bahwa film hanya dapat dibuat berdasarkan dari apa yang dapat di rekam oleh kamera. Oleh karena itu saat anda melaksanakan riset, harus selalu memperhatikan dan memikirkan aspek-aspek yang ada untuk kepentingan gambar visual.Seorang dokumentaris atau sineas dituntut memiliki visi visual (kepekaan visualisasi), ini bisa berasal dari bakat alam (talenta) yang dibentuk melalui pendidikan sinematografi.
Jalinan kerja sama antara Tim Riset, Penulis dan Sutradara, harus serasi serta saling mengisi, karena komunikasi di antara mereka akan terus berlangsung hingga menuju tahap penyelesaian penulisan naskah (script). Diantara mereka juga harus saling membatasi diri pada profesi masingmasing, tanpa harus mencampuri hal-hal yang bukan tugas atau urusannya.
Dengan melakukan riset pendahuluan (preliminary research) dapat membantu mendapat gambaran untuk mengembangkan ide yang ada menjadi lebih mantap. Hal ini di lakukan melalui analisa visi visual di barengi dengan orientasi kritis. Ide untuk film dokumenter di dapat dari apa yang di dengar dan di lihat, bukan berdasarkan imajinasi. Akan tetapi untuk mendapatkan ide bagus tidak cukup hanya dari mendengar dan melihat saja, karena tidak semua peristiwa penting dapat dijadikan tema film dokumenter. Ide bagus masih membutuhkan orientasi lebih jauh lagi terhadap semua informasi yang telah didapat. Kemudian berdasarkan visi kreatif dikembangkan hingga mencapai kematangan konsep yang menarik. Banyak ide pada awalnya tampak menarik tetapi setelah dilakukan orientasi lebih jauh dan mendalam lagi, terasa bahwa hanya pada awalnya saja menarik tetapi selanjutnya terasa hambar dan membosankan. Demikian pula dengan subjek yang akan kita seleksi, harus dilakukan secara teliti dengan melakukan pengamatan dan pendekatan yang baik. Kemampuan kreatifitas tinggi di imbangi dengan kepekaan analisa visual, merupakan salah satu titik tolak membuat karya dokumenter yang memukau.
Untuk menjawab permasalahan ini maka sangat perlu dilakukan riset, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa motivasi untuk melakukan riset di Indonesia sangat minimal. Padahal untuk menciptakan suatu karya seni maupun ilmu pengetahuan yang memiliki bobot visi dan misi, melakukan riset adalah mutlak.
Melakukan riset berarti melakukan pengumpulan data/informasi yang diperlukan untuk penulisan naskah. Riset untuk dokumenter dilakukan terhadap sumber data dan informasi, yang umumnya dalam beberapa macam atau bentuk data:
1.     data tulisan (buku, majalah, surat kabar, surat, selebaran, dsb.)
2.     data visual (foto,film,video, lukisan, poster, patung, ukiran, dsb.)
3.     data suara (bunyi-bunyian, musik, lagu, dsb.).
4.     data mengenai subjek, nara sumber, informan.
5.     data lokasi (tempat kejadian/peristiwa). Berangkat dari hasil riset di bentuk suatu kerangka global mengenai arah dan tujuan penuturan, serta subjek-subjek yang akan menjadi tokoh (karakter) di dalam tema film. Kemudian penulis naskah dan sutradara mengevaluasi transkrip hasil riset, untuk mengetahui serta menetapkan dengan pasti:
·         Mana informasi yang penting dan yang kurang penting.
·         Bagian informasi mana yang perlu diperdalam dan diperluas lagi.
·         Pada bagian mana sebab dan akibat dari peristiwa, dapat digunakan sebagai penunjang aspek dramatik. Ini penting agar anda dapat menyusun struktur penuturannya.
·         Mana bagian utama dan mana bagian pelengkap untuk memberikan makna pada film. Ini penting demi efisiensi kerja ketika melakukan shooting nanti, agar anda tak perlu mengalami kekurangan atau kelebihan stock shot.
Baik penulis maupun sutradara harus mengetahui materi apa saja yang diperlukan guna melengkapi visual, yang tak ditemui atau yang tak dapat di shot di lokasi peristiwa. Misalnya pengumpulan materi film/video (footage) dari lembaga arsip, museum, dan sinematek. Kadang kita juga perlu membeli dari stasiun televisi atau perusahaan film swasta atau pemerintah. Bila kita membuat film kompilasi maka seluruh materi berdasarkan dari arsip/dokumentasi (footage) film/video, yang harus dikumpulkan dan di seleksi dalam waktu cukup lama. Dokumentaris Belanda, Vincent Monikendam yang membuat film dokumenter kompilasi berjudul “Mother Dao”, mengatakan bahwa untuk filmnya ini dibutuhkan waktu dua tahun lebih untuk mengumpulkan dan menyeleksi materi footage yang terdiri dari potongan-potongan film hitam putih lama. Film dokumenter Monikendam merupakan kompilasi dari arsip film hitam-putih yang di rekam di Indonesia sejak tahun 30an hingga 50an.
Sangat membantu bila menggunakan alat perekam audio (tape recorder), ketika melakukan riset, untuk mewawancarai orang-orang yang akan dijadikan subjek atau nara sumber. Karena dari hasil rekaman suara sutradara dapat mengetahui apakah subjek memiliki volume vokal yang keras atau lembut, artikulasinya jelas atau tidak, kemudian ritme dan gaya berbicaranya membosankan atau tidak, bagaimana mimiknya (ekspresi) bila berbicara dan seterusnya. Kegunaan lainnya ialah apabila subjek anda belum pernah diwawancarai, maka dengan tape recorder dapat melatih atau membiasakan dirinya, terutama bila nanti dihadapan sorotan kamera.
Tokoh dan Nara Sumber
Didalam merancang atau menyusun penulisan naskah, peranan antara tokoh dan nara sumber perlu dijelaskan. Tokoh atau subjek utama didalam film dokumenter memiliki peranan fungsional untuk mengetengahkan realita dari suatu peristiwa, dengan tujuan memberikan sentuhan dramatik pada cerita anda. Sedangkan nara sumber dapat berperan sebagai sumber informasi saja atau dapat pula sebagai subjek pembantu. Akan tetapi jangan terlalu diabaikan karena subjek pembantu juga dapat mengentalkan unsur dramatik.
Sejumlah pertanyaan di bawah ini perlu dikaji sebagai cara melakukan seleksi, untuk menemukan subjek yang betul-betul tepat sesuai dengan tema.
·         Dengan mengacu pada hasil riset, penulis dan sutradara dapat menganalisa, apakah subjek yang di pilih sudah tepat sebagai pemeran atau sebagai nara sumber ?.
·         Apakah peranan tokoh ini sebagai informan cukup penting, serta mampu mengekspresikan tema tersebut dan memberikan unsur dramatik?.
·         Apabila peran subjek hanya sebagai nara sumber, maka menampilkannya cukup liwat komentar atau narasi saja (off screen) dilengkapi dengan ilustrasi gambar.
·         Apabila mengenai suatu aksi, penulis harus menganalisa apakah aksi dari subjek tersebut yang perlu ditampilkan dalam cerita atau tidak ?.
Mengetengahkan gaya bertutur potret/biografi dengan subjek yang sudah tidak ada (wafat) perlu pendekatan khusus untuk menentukan aspek kreatif dalam penyuguhannya. Maka untuk mengisi sugesti dari ketidak hadiran sang tokoh, ditampilkan hal-hal yang berhubungan erat dengan kehidupan si tokoh. Misalnya menampilkan nara sumber yang sangat dekat dan intim dengan subjek, seperti teman, saudara, kerabat keluarga, sekaligus sebagai saksi hidup yang mengetahui perjalanan hidup dan peranan si tokoh didalam peristiwa itu. Atau dapat pula menampilkan benda-benda atau materi yang merupakan identitas dan simbol dari figur si tokoh. Pendekatan ini dapat memberikan perincian kongkrit, sebagai sketsa dari ketidak hadiran sang tokoh tersebut.
Teori film mengatakan bahwa setiap penonton akan mengidentifikasikan dirinya pada salah satu tokoh dalam cerita film. Hal ini dilakukan karena simpati atau semacam pengenalan diri (identitas) dari si penonton itu sendiri, dimana sikap ini dilakukan tanpa sadar. Beranjak dari teori ini, tak ada salahnya menggunakan metode tersebut untuk memilih tokoh-tokoh serta membangun karakter yang akan dimunculkan pada film.
Pendekatan subjek
Pendekatan terhadap subjek merupakan proses penting, dari mulai riset hingga shooting nanti. Pendekatan seorang dokumentaris berbeda dengan pendekatan riset para ilmuwan sosial seperti antropolog atau sosiolog terhadap respondennya. Metode riset dan pendekatan untuk film dokumenter bukan melalui pengumpulan kuesioner atau angket yang biasa dilakukan dalam suatu penelitian sosial. Akan tetapi dokumentaris harus terjun langsung dan mengadakan komunikasi (dialog) antar manusia yang sederajat dengan subjeknya. Dengan demikian bila perlu dokumentaris tinggal bersama subjeknya untuk memahami bagaimana kehidupan dan karakter subjek dalam keseharianya. Baik buruknya pendekatan yang anda lakukan terhadap subjek, itu akan terlihat pada saat melaksanakan shooting dan wawancara.
Dokumentaris harus memahami betul bagaimana subjek menilai dirinya sendiri serta menilai dunia diluar pribadi dan lingkungannya (view from within and view from without). Kita tak bisa memahami subjek secara generalisasi atau komparatif seperti yang diterapkan dalam metode riset ilmu sosial. Dokumentaris harus observasi langsung terhadap objek atau subjeknya, dari situ baru di dapat suatu visi untuk kepentingan visual.
Pendekatan juga merupakan suatu langkah awal produksi, untuk menciptakan suatu komunikasi antar manusia. Komunikasi antara tim produksi secara intern, serta kominunikasi dengan subjek serta lingkungan terkait seperti birokrasi setempat. Pendekatan yang baik akan memberi rasa intim pada subjek, sehingga dapat memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang nanti akan merekam, wajah, suara, serta kisah hidupnya. Sebab itu anda perlu melakukan kunjungan beberapa kali terhadap subjek, atau tinggal bersama subjek selama melakukan riset hingga shooting. Tindakan ini dapat menghilangkan kesan asing dari diri subjek terhadap anda, selain itu dapat lebih mendalami normalisasi kehidupan subjek, yang mungkin sebelumnya luput dari pengamatan. Selain itu keintiman hubungan dokumentaris dengan subjek akan lebih terjalin lagi. Dan jangan lupa, dalam melakukan kunjungan beberapa kali, perlu selalu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan baru, untuk melengkapi data riset.
Kunjungan yang berkesinambungan dengan pendekatan khusus lebih diperlukan pada dokumenter sejarah, demikian pula pada bentuk portret biografi. Pendekatan pribadi yang intim hasil kunjungan beberapakali, akan membuat subjek merasa lebih percaya dan lebih bebas menceritakan tentang dirinya. Hal ini sangat bermanfaat bagi pengumpulan informasi yang di butuhkan, terutama data/informasi yang di anggap peka (sensitif) bagi subjek dan lingkungannya.
Apabila subjek anda adalah masyarakat awam maka saat melakukan kunjungan awal cukup hanya membawa buku catatan kecil saja, jangan perlihatkan kesan terlalu formil kepada subjek, yang mana dapat menimbulkan rasa gugup bagi subjek. Mengenai apa yang sudah kita ketahui mengenai diri subjek serta informan atau nara sumber mana saja yang sudah dihubungi untuk mengorek informasi mengenai subjek, perlu kita jelaskan. Jangan menutupi atau bersikap yang dapat menimbulkan kecurigaan subjek terhadap anda. Berilah kesempatan pula bagi subjek untuk menanyakan hal-hal mengenai diri anda dan tim kreatif lainnya, agar rasa percaya serta hubungan antar pribadi menjadi lebih erat. Kadang dapat terjadi di saat melakukan wawancara ada informasi yang terlewatkan, hal ini disebabkan adanya rasa tegang dalam diri subjek, sehingga mengganggu dan menghambat daya ingatnya. Hal ini perlu diperhatikan, karena tidak mudah untuk berbicara secara lancar dihadapan sorotan kamera.
Partisipasi dan Observasi
Metode penelitian yang dilakukan pada ilmu Antropologi Budaya dengan cara melakukan observasi partisipasi. Metode dan teori ini dikembangkan oleh Antropolog B.Malinowski ketika melakukan penelitian pada masyarakat etnik Trobiand di daerah Papua Nugini. Dimana dilakukan suatu interaksi mendalam antara si peneliti dengan pihak-pihak yang diteliti (responden). Malinowski berpendapat bahwa, suatu hasil penelitian yang baik dan akurat akan berhasil, tergantung dari berapa lama si peneliti tinggal dan bergaul di dalam masyarakat yang ditelitinya itu. Makin lama si peneliti bergaul dan tinggal bersama para respondennya itu, maka hasil penelitiannya pun makin memiliki bobot akurasi yang memuaskan.
Metode riset partisipasi observasi dapat di terapkan dalam kepentingan riset bagi film dokumenter, selain melakukan observasi terhadap subjek, akan lebih baik lagi bila anda ikut berpartisipasi di dalam kegiatan sehari-hari subjek serta lingkungannya. Sehingga rasa kekeluargaan antara tim produksi dengan subjek serta lingkungan masyarakatnya makin terjalin. Selama melakukan partisipasi anda terus melakukan dialog baik formal maupun informal, untuk terus menggali informasi dari subjek yang dapat menambah masukan bagi penulisan nanti. Disamping akan terus memperluas wawasan visi visual dan evaluasi anda terhadap tema, serta subjek. Perpaduan dari pandangan yang berbeda antara dokumentaris dengan subjeknya, akan menjadi bahan olahan yang selalu baru dan terus berkembang.
Selanjutnya baik audio maupun visual yang terekam nanti, merupakan hasil pengamatan dan penilaian anda terhadap pengalaman subjek, dikombinasikan dengan penilaian subjek terhadap pengalamannya sendiri. Dengan demikian akan terekam nanti suatu perimbangan antara subjektifitas dan objektifitas pada suatu peristiwa pengalaman seseorang secara akurat.
Ini merupakan usaha untuk merekam realita peristiwa atau pengalaman hidup seseorang, agar menghasilkan suatu karya dokumenter yang minimal memiliki keseimbangan objektif. Meskipun harus disadari bahwa mencapai tingkat pandangan objektif adalah sebuah obsesi, karena semua teori film sudah di mulai dengan visi subjektif sinematografis. Akan tetapi keutuhan mengetengahkan sebuah fakta peristiwa tetap merupakan tuntutan moral.
Suatu hal penting untuk di ingat bahwa ketika anda melakukan shooting, jarak antara anda sebagai dokumentaris dengan subjek anda harus ditetapkan batasannya dengan jelas. Anda tak boleh hanyut pada emosi yang diekspresikan subjek anda, hal ini dapat mengakibatkan visi objektifitas anda akan terganggu bahkan terpengaruhi oleh subjektifitas opini subjek anda itu. Secara profesional harus disadari bahwa anda sedang membuat film dokumenter, bukan sedang menjadi pendengar yang baik mengenai keluh kesah seseorang.
Penulisan Konsep
Sebagai langkah awal untuk menawarkan ide, anda perlu menyusun sebuah tulisan naskah rancangan (draft) untuk diajukan kepada pihak-pihak yang berminat. Menulis draft naskah bukan berarti seperti menulis catatan kecil saja, tetapi kita harus menuliskan semua informasi dari transkrip data riset. Umumnya draft naskah di tulis dalam susunan pembagian sekwens (sequence), agar nanti pada saat merampungkannya pada tahap produksi, dapat dijabarkan secara terperinci dalam susunan shot dan adegan yang lebih jelas. Tulisan draft pun harus lengkap dan jelas menerankan ruang dan waktu pada setiap sekwens, karena ini merupakan bagian dari isi proposal yang akan diajukan pada sponsor. Setelah anda menetapkan bentuk penuturan apa yang menjadi gaya dan struktur film anda, maka perlu disampaikan dalam naskah, ini merupakan salah satu daya tarik yang dapat anda ajukan kepada sponsor.
Pada prinsipnya penyusunan konsep naskah film dibagi dalam lima tahapan: Ide, ini merupakan jantung dari sebuah karya seni, konsep struktur dan batasan dari isi keseluruhan cerita.Treatment/outline, merupakan sketsa dasar yang dapat memberikan gambaran pendekatan dan keseluruhan isi cerita. Di pihak lain treatment merupakan materi presentasi untuk menawarkan ide anda kepada produser/sponsor. Treatment mutlak diperlukan bagi documenter, meskipun bentuk treatment tak ada yang baku. Naskah Syuting (shooting script), meskipun kadang ini tak dilakukan dalam produksi dokumenter yang menggunakan metode Cinema Verite dan Direct Cinema, tetapi sangat penting untuk mendapat gambaran kongkrit dan jelas sebagai cetak biru atau master plan. Deskripsi mengenai audio dan visual akan menjadi acuan sutradara untuk menentukan visualisasi shot, susunan adegan hingga sekwens. Naskah ini juga memberikan kejelasan bagi setiap pihak yang ikut dalam Tim Produksi, agar dapat memahami apa yang harus dikerjakan sesuai dengan propesi dan posisi masing-masing. Naskah Editing (editing script),naskah ini merupakan penentuan visualisasi struktur cerita. Meskipun bentuk penulisannya tak begitu berbeda dengan shooting script, tetapi isinya dapat saja berlainan mengenai konstruksi shot, adegan (scene), sekwens (sequence). Tidak aneh bila editing script dapat mengalami beberapa kali perubahan, karena proses editing (penyuntingan) juga melalui beberapa tahapan hingga mencapai hasil akhir (final). Naskah Narasi (narration script), ini lebih merupakan susunan penulisan narasi yang nantinya akan di bacakan oleh seorang narator sebagai voice over ketika mixing. Umumnya dokumenter sejarah atau biografi menggunakan narasi, juga gaya dokumenter konfensional seperti dalam format penayangan di televisi.
Semua prinsip struktur dalam metode penulisan naskah (script) tak perlu dijadikan suatu peraturan baku, tetapi gunakanlah sebagai alat bantu yang berfungsi menjelaskan apa dan bagaimana film tersebut akan di sampaikan. Setiap struktur cerita baik pada skenario fiksi maupun non fiksi, memiliki logika dan kekuatannya sendiri-sendiri.
Bila membuat film edukasi (pendidikan/penyuluhan) atau instruksional, sebelumya perlu memperhatikan untuk kelompok sasaran mana film ini ditujukan. Misalkan membuat tema mengenai penyakit kangker, bila sasarannya untuk umum maka cukup menjelaskan penyebabnya, gejalanya, serta akibatnya secara umum pula. Karena penonton harus mampu menangkap dan mengerti secara mudah informasi apa yang disuguhkan, dimana realita tersebut dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-harinya. Apabila sasarannya pada kelompok khusus, seperti mahasiswa kedokteran, perawat, petugas penyuluhan kesehatan, maka sutradara perlu mengetahui terminologi medis yang berhubungan dengan suatu penyakit, atau menggunakan penasihat ahli bidang medis.
Dari hasil riset penulis kurang lebih sudah mengetahui bagaimana struktur penuturan yang akan disusunnya. Penulis juga mengetahui gambaran apa yang dapat divisualisasikan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Apabila harus menggunakan materi visual (footage) harus diteliti lebih dahulu apakah masih layak pakai atau tidak. Materi visual yang bisa didapatkan, merupakan faktor penting atau faktor kemudi bagi penulisan dokumenter.
Sering pula terjadi informasi yang terkumpul dari riset terlalu banyak, sehingga penulis kesulitan untuk menyeleksi informasi mana yang tepat untuk tema. Hal utama yang menjadi titik tolak seleksi informasi ialah, penulis dapat mengawalinya dengan mengamati hal utama dari peristiwa, sehingga mampu melukiskan konflik-konflik yang ingin diungkapkannya. Kemudian setelah itu penulis dapat menganalisanya lebih jauh, untuk mengkongkritkan akurasi informasi yang ada, serta yang masih dibutuhkan. Suatu hal yang menjadi kenyataan bahwa tidak ada penulisan skenario yang sempurna, setiap penulis memiliki gaya pendekatan kreatif yang berbeda.
Naskah awal untuk dokumenter biasa dibuat dalam bentuk Treatment, tetapi ada pula yang dalam bentuk skenario kasar. Maksudnya kasar disini adalah isi naskah tidak menampilkan detil aspek filmis seperti tipe shot, isi dialog wawancara, posisi kamera (camera angle) dan lain-lainya. Pembaca draft naskah cukup diberi informasi mengenai apa isi dan susunan penuturan di dalam film dokumenter tersebut. Bagi penulis sendiri untuk menyerahkan ide cerita ke sponsor sebelum perjanjian atau kontrak kerja di sahkan, lebih baik dalam bentuk draft. Karena penanganan terhadap pelaku tindakan hukum terhadap pembajakan hak cipta di Indonesia belum mampu memberi jaminannya secara menyeluruh, oleh karena itu tak ada ruginya anda melakukan antisipasi.
Treatment
Penulisan treatment untuk produksi dokumenter memiliki fungsi penting. Fungsi treatment tak hanya menuliskan tentang urutan adegan (scene) dan shot saja, tetapi harus ditulis secara kongrit keseluruhan isi yang berkaitan dengan judul dan tema, sehingga merupakan The Treatment of TheStory.
Umumnya ketika memulai melakukan shooting, sutradara cukup mengacu pada treatment karena selain penulisan skenario memakan waktu lama, juga dianggap oleh sebagian dokumentaris dapat mengekang kebebasan. Karena seorang sutradara dan penata kamera selalu harus siap dan peka selalu ketika mengikuti adegan demi adegan yang berlangsung dalam peristiwa tersebut, bahkan kadang adegan tak terduga (spontan) dapat saja terjadi saat perekaman gambar (shooting). Skenario baru ditulis pada saat memasuki tahap proses paska produksi untuk kepentingan editor, itupun sudah dalam bentuk naskah editing (editing script). Akan tetapi pada beberapa bentuk penuturan dokumenter, skenario sangat dibutuhkan sebagai cetak biru yang lengkap diatas kertas.
Pada beberapa dokumenter memang diperlukan naskah seperti dokumenter sejarah, dokumenter pendidikan dan instruksional, dokumenter film kompilasi dengan menggunakan sejumlah footage. Bentuk penuturan potret/biografi umumnya juga mengandalkan skenario. Dokumenter sejarah umumnya dituturkan secara kronologis, sehingga kreatifitas editor diperlukan untuk menginterpretasikan rancangan kronologi penuturan yang sudah di susun penulis naskah beserta sutradara. Mungkin pada dokumenter yang tidak memerlukan sisipan footage film, treatment kadang dibuat secara step out-line saja. Dimana susunan adegan dan pengambilannya ditulis pada out-line. Akan tetapi pada prinsipnya minimal anda membuat treatment yang baik agar rekan kerja anda pun dapat memahami apa ide anda dan apa yang diinginkan dari film tersebut.
Di dalam treatment harus di jelaskan mengenai apa yang akan divisualkan atau direpresentasikan dalam dokumenter tersebut. Penempatan narasi dan komentar, khususnya pada adegan dimana visual tidak mampu menyampaikan informasi yang dibutuhkan penonton, harus diinformasikan di dalam treatment, meskipun isi narasi tak perlu ditulis secara kongkrit. Apabila ada wawancara maka dalam treatment perlu pula dijelaskan, meskipun isi wawancara tidak perlu ditulis secara menyeluruh, dengan memberikan catatan pada bagian isi wawancara yang utama. Selain itu sebuah treatment juga sudah memberikan alur cerita jelas, serta atmosfir bagi penataan suara yang diperlukan.
Berikut ini diketengahkan contoh sebuah Treatment yang merupakan bentuk umum di dalam dokumenter. Ini bukan bentuk baku karena ada pula tretament yang ditulis lebih sederhana lagi sehingga seperti sebuah catatan, di pihak lain ada pula treatment yang penjabarannya lebih luas dari pada contoh dibawah ini. Segala bentuk treatment di tulis sesuai dengan kemauan dan kebutuhan dari si pembuat itu sendiri. Akan lebih menarik bila isi treatment dilengkapi pula dengan sejumlah gamabr visual hasil riset.
Publikasi:
Yayasan Komunikatif
www.komunikatif.org

Festival Film Indie Tingkat Nasional 2013


Persyaratan Umum:
1. Kompetisi dibagi menjadi dua (2) kategori: Pelajar (SMP/SMA/SMK) dan Masyarakat Umum/ Mahasiswa.
2. Pendaftar adalah Warga Negara Indonesia, pelajar (SMP/SMA/SMK) dan masyarakat umum/ mahasiswa.
3. Film yang disertakan adalah film fiksi dengan durasi 15 – 24 menit.
4. Tahun produksi film adalah 2012 dan 2013.
5. Tema lomba : Bhinneka Tunggal Ika
6. Film yang menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia, wajib memiliki teks Bahasa Indonesia.
7. Film dikirimkan dalam format DVD-Video Pal (DVD-Play), sebanyak tiga (3) copy (tiga keping).
8. Pendaftar bertanggungjawab penuh atas keaslian semua materi yang dikirimkan.
9. Pendaftar wajib menyertakan surat ijin dari pemegang Hak Cipta apabila menggunakan materi non-orisinal.
10. Pendaftar wajib menyertakan kelengkapan pendaftaran sesuai yang diminta.
11. Pendaftar boleh mendaftarkan lebih dari satu film.
12. Film dan kelengkapan pendaftaran harus sudah diterima oleh panitia Festival Film Indie paling lambat tanggal 21 Oktober 2013, jam 15.00 WIB.

Kelengkapan Pendaftaran:
1. Data teknis film yang berisi: a. Judul b. Sutradara c. Tahun Produksi d. Sinopsis
2. Salinan script cerita.
3. Salinan credit title.

Ketentuan Pengiriman
1. Film dikirim dalam bentuk DVD-video pal (DVD-play), diberi label Judul Film, Nama Sutradara dan Tahun Produksi.
2. Film dan kelengkapan pendaftaran dimasukkan dalam amplop, dengan diberi keterangan pada bagian sudut kiri atas amplop: “Festival Film Indie, Pekan Film Yogyakarta 2013”, diikuti kategorinya: Pelajar atau Umum.
3. Film dan kelengkapan pendaftaran dikirimkan ke:
Panitia Festival Film Indie 
Pekan Film Yogyakarta 2013 
Seksi Perfilman, Dinas Kebudayaan DIY 
Jalan Cendana No. 11, Yogyakarta 
Telepon:             (0274) 562628      

Hadiah:
1. Total hadiah 115 juta rupiah
2. Film pemenang akan ditayangkan di stasiun televisi lokal
3. Trofi Sri Sultan HB X
4. Piagam penghargaan

Kontak info:
Email : kuswardhani_thy@yahoo.com
Twitter : @PekanFilmYogyakarta
Telpon : (0274) 562628     

Festival Film Pelajar Jogja 2013

Logo FFPJ 2013


Festival Film Pelajar Jogja adalah ruang belajar bersama, berbagi dan silaturahmi komunitas dan karya film pelajar tingkat sekolah menengah atas dan yang setara. Pada penyelenggaraan yang ke-4 di tahun 2013 ini panitia membuka kesempatan seluas-luasnya kepada peserta dari berbagai wilayah di Indonesia untuk berpartisipasi. Kegiatan seminar, workshop, klinik film, temu komunitas serta kompetisi film pendek fiksi dan dokumenter akan menjadi bagian dari festival.
Festival Film Pelajar Jogja merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2010 secara sederhana. Sejak penyelenggaraannya yang pertama terdapat 258 karya film pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia yang berpartisipasi dalam festival ini. Karya-karya dari Sumatera Utara, Jambi, Pekanbaru – Riau, Lampung, Palu – Sulawesi Tengah, Denpasar – Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menyajikan warna pemikiran-ide-gagasan, sikap-ekspresi, komunikasi dan eksplorasi teknik beragam. Panitia dan partisipan festival yang berdatangan dari beragam kalangan (pelajar-mahasiswa, guru-dosen, seniman, budayawan, aktivis, praktisi media, dll) memberikan apresiasi yang tinggi untuk segala ikhtiar peserta dalam berkarya, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya.
Festival Film Pelajar Jogja akan selalu hadir tiap akhir tahun. Pada tahun 2013 ini festival akan diselenggarakan pada tanggal 14-15 Desember. Festival ini akan selalu dirayakan bersama untuk mendukung aktivitas komunitas film pelajar di Indonesia dengan segala dinamikanya.
Tujuan dan Manfaat
1. Belajar bersama memahami dan menggunakan film sebagai sarana ekspresi seni, komunikasi, pendidikan dan budaya.
2. Berbagi pengetahuan, pengalaman dan keterampilan pembuatan film.
3. Bersilaturahmi antarkomunitas pelajar yang memiliki minat belajar seni film serta menumbuhkembangkan kepedulian berbagai pihak dalam mendukung kegiatan komunitas film pelajar.
Pelaksanaan
Hari : Sabtu dan Minggu
Tanggal : 14 dan 15 Desember 2013
Pukul : 09.00 WIB - selesai
Tempat : Komplek Pondok Pemuda Yogyakarta
Kriteria Peserta dan Karya
1. Peserta adalah pelajar sekolah menengah atas/setara dari seluruh Indonesia.
2. Kategori karya FIKSI (live action & animasi) dan DOKUMENTER.
3. Tema bebas.
4. Durasi maksimal 10 (sepuluh) menit (sudah termasuk opening dan credit title).
5. Tahun produksi 2013.
6. Karya dibuat individu/kelompok, dalam satu sekolah yang sama/berbeda, dan dikirimkan atas nama sekolah yang diikuti sutradara.
7. Tim produksi pelajar aktif (dibuktikan dengan scan kartu pelajar terbaru).
8. Karya yang menggunakan bahasa lokal wajib diberi subtitle/teks bahasa Indonesia.
9. Boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya.
10. Karya yang pernah mengikuti festival lain boleh diikutsertakan.
11. Karya dikirimkan via pos dalam bentuk cakram DVD (PAL system) file .AVI paling lambat 10 Nopember 2013 (cap pos). Formulir pendaftaran dan kelengkapan karya boleh dikirimkan melalui email.
12. Musik/lagu dan materi lainnya (foto, video, grafis, dll) yang digunakan dalam film tidak boleh menggunakan milik orang lain, kecuali ada ijin tertulis dari pembuatnya. Peserta bertanggungjawab sepenuhnya atas hal ini jika ada tuntutan pihak lain di kemudian hari.
13. Hak cipta karya milik peserta. Khusus untuk kepentingan publikasi, penyelenggara dapat menggunakan karya (sebagian/utuh) untuk ditampilkan di website FilmPelajar.com dan media nirlaba lainnya.
14. Keputusan juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat.
15. Jika dikemudian hari didapatkan bukti bahwa karya pemenang diragukan keasliannya, maka penyelenggara berhak membatalkan dan menarik penghargaan yang sudah diberikan.
Juri Utama
1. Perwakilan dari Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
2. Perwakilan dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.
3. Perwakilan dari Padepokan Film Grabag Magelang – Jawa Tengah.
Juri Seleksi
Tim Panitia Festival Film Pelajar Jogja 2013.
Penghargaan
1. Karya Terbaik I Kategori Fiksi mendapatkan Piala dari Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta + Sertifikat.
2. Karya Terbaik I Kategori Dokumenter mendapatkan Piala dari Wahana Audio Visual Indonesia + Sertifikat.
3. Karya Terbaik II dan III kategori Fiksi dan Dokumenter masing-masing mendapatkan Piala dari Panitia + Sertifikat.
Sekretariat Penerimaan Karya
Jln. Veteran, Gg. Janur Kuning No. 11 A
Pandean, Umbulharjo, Yogyakarta 55161
HP:             0878-3942-0097       (Eni)
Website: www.filmpelajar.com
Email: festivalfilmpelajarjogja@yahoo.com
Twitter: @filmpelajar dan @ffpj2013
Page Facebook: Festival Film Pelajar Jogja
Grup Facebook: Forum Film Pelajar Indonesia
Penutup
Festival Film Pelajar Jogja adalah sebuah hajatan yang dihidupi oleh beragam pihak yang memiliki perhatian terhadap tumbuhkembangnya komunitas film pelajar Indonesia. Festival Film Pelajar Jogja terus membuka diri terhadap dukungan dan kerjasama berbagai pihak yang memiliki visi sebangun. Dukungan yang paling utama adalah partisipasi karya-karya pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia beserta doa dan kehadiran tim produksinya di Jogja untuk belajar bersama, berbagi dan bersilaturahmi

Sumber

10 Film Omnibus Terbaik

Dalam dunia perfilman, ada beberapa istilah dalam genre perfilman itu sendiri, salah satunya adalah Omnibus atau Anthology. Kata ‘omnibus’ berasal dari bahasa Latin ‘omnibus’ yang artinya ‘untuk semuanya’. Mungkin ini sebabnya dalam suatu film omnibus, ada genre berbeda-beda yang ditawarkan. Drama, komedi, horor, thriller, dan romkom. Dalam suatu omnibus boleh ada satu tema, atau satu sutradara, atau satu penulis, atau satu aktor yang selalu muncul. Check this out :
1. 4Bia

4bia atau Phobia adalah film horor Thailand yang terbagi atas empat segmen yang masing-masing segmen ditulis dan disutradarai oleh Youngyooth Thongkonthun, Banjong Pisanthanakun, Parkpoom Wongpoom, and Paween Purijitpanya.
1. Kebahagiaan/Kesendirian (Judul asli – Ngao/Loneliness; Sutradara: Youngyooth Thongkonthun)
Pin adalah seorang gadis muda yang tinggal sendirian diapartemennya. Kecelakaan yang menyebabkan kakinya harus digips sukses menyabotase kesehariannya, dan membuatnya terus berada dikamarnya. Kesehariannya hanya melihat internet dan kirim sms dengan temannya, sampai suatu ketika ada sebuah sms dari nomor tak dikenal yang ingin kenalan dengan Pin. Awalnya Pin merasa sangsi, tapi karena ia benar-benar tidak ada pekerjaan, ia akhirnya melayani pengirim itu. Pin pun senang ketika tahu bahwa pengirim sms itu adalah seorang pria.
Keseharian Pin berubah menjadi lebih ceria, karena pria itu membalas sms-sms Pin cepat sekali, tidak seperti teman-temannya. Sesuai judul segmen ini, Pin akan merasa bahagia jika sms-nya langsung direspon, tapi sangat kesepian kalau sms-nya tak kunjung direspon. Pria itu pun minta Pin mengirimkan fotonya, dan Pin meminta sebaliknya. Setelah mengirimkan fotonya, Pin dikejutkan karena pria tadi hanya mengirimkan kembali foto yang Pin kirimkan padanya. Pin merasa si pria mempermainkannya, sampai pria itu meminta Pin untuk melihat lebih jelas difotonya, dan ketika dilihat, terlihatlah siluet seorang pria sedang ikut berfoto dengan Pin.
2.Mata Ganti Mata (Judul Asli – Yan Sang Tai/Deadly Charm; Sutradara: Paween Purikitpanya)
Pink adalah siswi SMU yang juga anggota dari geng sekolah yang paling berkuasa. Suatu hari, gengnya kecuali Pink dan Chieko, anggota lain, dilaporkan oleh seorang siswa nerd bernama Ngid karena ketahuan sedang menghisap ganja. Ngid pun dihajar habis-habisan oleh geng itu. Beberapa hari setelah malam “penghajaran” Ngid, ia kembali kehadapan geng itu, dengan membawa buku yang jika sebuah gambar dilihat, yang melihatnya akan segera mati. Geng itu kembali menangkap Ngid, tapi Chieko melihat gambar itu dan terjatuh kederetan besi tajam yang melubangi lehernya. Pemimpin geng yang marah karena Chieko terluka pun mendorong Ngid dan secara tidak sengaja membuatnya melihat gambar itu sendiri. Ngid pun ketakutan karena ia sekarang terkena kutukan, dan karena tidak hati-hati ia pun terjatuh dari jendela dan tertusuk tiang bendera diluar.
3.Orang Ditengah (Judul asli – Kon Klang/Person or Persons Unknown; Sutradara: Banjong Pisanthanakun)
Aey, Puak, Shin dan Ter adalah pemuda yang menyukai rafting. Sebelum tidur, mereka saling bercerita dan mengejek, namun salah satu diantaranya, Aey, bercanda bahwa jika ia mati disana, ia akan mengajak orang yang tidur di tengah untuk tidur bersamanya. Keesokan harinya, ketika sedang bermain arung jeram, karena kebodohan Puak yang berdiri di atas kapal, kapal mereka pun sukses terbalik dan menjatuhkan semua penumpangnya. Aey, Puak dan Shin berhasil sampai ketepian, tapi Ter masih tenggelam. Aey pun berinisiatif menolongnya, tapi ketika Ter sampai ketepian, Aey sudah tidak terlihat lagi.
Malamnya ketika akan tidur, Ter pun teringat terhadap candaan Aey malam sebelumnya, yang diikuti dengan persetujuan dari Shin. Puak yang awalnya tidak peduli, akhirnya memutuskan bahwa mereka akan tidur dengan posisi segitiga agar tak ada yang tidur di tengah.
4.Penerbangan 224 (Judul asli – Teaw Bin 224/Flight 224; Sutradara: Parkpoom Wongpoon)
Pim, seorang pramugari dikejutkan bahwa ia harus mengudara pada hari liburnya untuk menjemput seorang putri dari kerajaan Vanistan, Sophia. Awalnya ia akan berdua dengan temannya, Tui, tapi Tui sedang ada masalah dan Pim pun sendirian bersama putri Sophia dipesawat itu. Suami putri Sophia, pangeran Albert sudah terlebih dahulu berada di Thailand. Selama dipesawat, putri Sophia bertindak semena-mena pada Pim, mulai dari menjatuhkan kopi panas ketangan Pim sampai menceritakan bagaimana hukuman bagi yang berselingkuh dikerajaannya, yaitu wanita itu akan disiksa, dan sebelum meninggal, ia harus berlutut pada istri dari pria yang diselingkuhinya untuk minta ampun. Pim pun berniat balas dendam.
2. Paris Je T’aime

Paris, je t’aime (Bahasa Prancis untuk (Paris, Aku Cinta Kamu) adalah sebuah film tahun 2006 yang dimainkan beberapa aktor dari beberapa negara termasuk Amerika, Inggris, dan Prancis. Film 2 jam ini terdiri dari 18 film pendek yang terjadi di arrondissement (sektor) yang berbeda. Film ini disutradarai oleh 21 sutradara termasuk Gurinder Chadha, Sylvain Chomet, Joel dan Ethan Coen, Gerard Depardieu, Wes Craven, Alfonso CuarĂ³n, Nobuhiro Suwa, Alexander Payne, Tom Tykwer, Walter Salles dan Gus Van Sant. Film ini terdiri dari 18 film pendek. Aslinya, film ini terdiri dari 20 film pendek. Mengikuti 20 sektor di Paris. Namun karena beberapa kendala, 2 film tidak jadi dimasukan.
3. Cinta Setaman

Film ini mengisahkan 8 cerita yaitu, kisah anak kecil yang selalu bekerja keras seharian demi hanya sebotol air bersih dan sepasang sepatu roda, kisah kakak beradik penjual dvd bajakan yang mulai berseteru lantaran sang adik mulai keranjingan minum kopi starbucks, kisah anak seorang psk yang mulai terpikat dengan sorang lelaki namun lelaki itu guru PMP nya, kisah orang Jepang yang haus mencari cinta sejati dan bertemu seorang gadis pemandu karaoke, kisah seorang sutradara televisi, yang bergaji kecil mencari pelepasan dari tekanan isteri dan atasan kantornya, Kisah seorang ibu kepala sekolah taman kanak-kanak yang berusaha menjalani kaidah Islam yang di yakininya di tengah-tengah segala himpitan hal-hal duniawi, kisah mantan sopir dari sorang asing yang justru punya masalah besar setelah ia menerima hadiah berharga kenang-kenangan dari sang boss, Kisah seorang wanita pedagang kain, yang saat impian hidupnya naik haji bisa di topang oleh sang anak satu-satunya, ia malah menemukan sebuah kenyataan lain. Semua cerita tersebut terangkai dalam satu tema cerita cinta dan di bintangi oleh 27 aktor dan aktris papan atas Indonesia.
4. Perempuan Punya Cerita
Perempuan Punya Cerita merupakan kumpulan 4 film pendek yang dikemas dalam sebuah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film ini dibuat dengan mendekati subyek mereka memakai perspektif perempuan.
Film ini terdiri dari empat segmen yang disutradarai oleh empat sutradara dan dua penulis skenario yang berbeda. Segmen pertama dengan judul Cerita Pulau ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Fatimah Rony. Segmen ke-dua berjudul Cerita Yogyakarta ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Upi Avianto. Segmen ke-tiga berjudul Cerita Cibinong ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Nia Dinata. Segmen ke-empat berjudul Cerita Jakarta ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo
Perempuan Punya Cerita dibintangi antara lain oleh Fauzi Baadila dan Kirana Larasati. Tayangan perdananya pada pertengahan Januari 2008.
5. Takut: Faces of Fear

Takut: Faces of Fear merupakan film antologi horor dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film ini dibintangi antara lain oleh Dinna Olivia, Fauzi Baadila, Marcella Zalianty, Shanty, Lukman Sardi, Eva Celia Latjuba, dan Mike Muliadro.
Segment 1 : Show Unit
Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty) adalah pasangan yang bulan depan akan menikah dan saat ini tinggal di sebuah kompleks perumahan mewah. Dinna dahulu bercerai dengan suaminya Andre (Donny Alamsyah) dimana dari pernikahan itu berbuahlah seorang putri bernama Shira. Dalam pesta di rumah tetangganya, Bayu melihat lampu rumahnya menyala dan menyangka rumahnya dimasuki oleh perampok. Bayu pun masuk dengan menggenggam pisau dan berusaha mencari perampok, namun malah menusuk Shira yang ternyata hanya ingin mengagetkan Bayu saja. Berkeringat dingin karena membunuh Shira yang tidak bersalah, dalam ketakutannya Bayu memasukkan mayat Shira ke dalam bagasi mobilnya.
Segment 2 : Titisan Naya
Naya (Dinna Olivia) adalah seorang gadis berpola pikir metropolitan dan modern. Namun ia dilahirkan di keluarga Jawa yang adat-adatnya masih dipertahankan. Malam itu Naya harus menginap di tempat keluarga jauhnya yang sedang mengadakan sebuah upacara cuci keris keramat adat kejawen bersama seluruh anggota keluarga besar. Bukannya mengikuti, ia malah merayu sepupunya Leo (Junior Liem) di kamar atas. Diatas, Leo memperingatkan Naya atas sikap Naya yang acuh dan kurang ajar terhadap upacara tersebut. Saat Naya dan Leo hampir berciuman, lampu mati tepat saat ayam yang digunakan sebagai prosesi ritual meninggal.
Segment 3 : Peeper
Bambang (Epy Kusnandar) adalah seorang pria yang bertugas sebagai petugas kebersihan / cleaning service yang sangat gemar dengan hobi (voyeur), dimana ia sangat mencintai dan menikmati keindahan tubuh wanita melalui lubang intip. Suatu hari ia mengunjungi sebuah teater yang menyuguhkan pertunjukan wayang orang. Bambang diberikan tiket gratis oleh seorang pengelola teater itu, dan menonton pertunjukan tentang Sarpanaka (Wiwid Gunawan). Bambang terpikat dengan gemulai dan misteriusnya penari Sarpanaka dan ingin sekali menikmati keindahan tubuh sang penari wanita tersebut. Setelah pertunjukan selesai, Bambang menyelinap ke belakang panggung dan mengintip kamar ganti wanita itu. Bambang yang lengah sejenak, kaget melihat wanita itu menghilang.
Segment 4 : The List
Andre (Fauzi Baadila) menemukan dirinya mulai terganggu oleh ilmu santet aneh yang dikirim oleh mantan pacarnya yang pencemburu, Sarah (Shanty). Sarah yang dendam kepada Andre membayar seorang Dukun (Ahmad Syaeful Anwar) yang disewa Sarah untuk menghukum Andre dalam serentetan adegan serangan ilmu hitam yang lucu namun menyeramkan. Sarah meminta dukun tersebut agar ia bisa melihat Andre dan supaya Andre bisa melihat Sarah juga. Dan demikianlah yang terjadi, Sarah melihat Andre dalam pantulan air sang Dukun dan Andre melihat Sarah dengan TV-nya.
Segment 5 : The Rescue
Ledakan “Laboratorium Namro-4″ di Jakarta membuat sebuah virus aneh menyebar dengan ganas, membuat Jakarta diambang kehancuran dan menjadikannya kota mati yang secara resmi dikarantina. Jakarta kini dipenuhi sekelompok ‘manusia’ haus darah yang memburu semua makhluk yang bergerak untuk dimangsa. Tim Gegana dikirim ke kota Jakarta dalam sebuah Operasi Penyelamatan untuk mencari sisa-sisa manusia yang belum terjangkit. Gadis (Eva Celia) dan Anton (Sogi Indra Dhuaja)adalah warga sipil yang berhasil ditemukan oleh tim Gegana yang turun dalam operasi tersebut, yaitu Antariksa (Reuben Elishama), Ngurah Rai (Ananda George), dan Hatta (Tegar Satrya). Cerita ini menceritakan usaha tim tersebut untuk keluar dari sebuah gedung yang menjadi sarang ribuan “manusia ganas” ke gedung lain yang menjadi titik penjemputan helikopter penyelamat. Hatta meninggal dalam perjalanan tersebut, sementara Anton dan Antariksa yang berpencar dari lainnya, berhasil sampai duluan ke tempat tersebut.
Segment 6 : Dara / Darah
Dara (Shareefa Daanish) adalah seorang juru masak sekaligus pemilik sebuah restoran mahal. Perawakan Dara yang anggun dan cantik membuat banyak pria tertarik dan datang ke rumahnya. Adjie (Mike Muliadro), Eko (Dendy Subangil), dan Rama (Ruli Lubis) datang di waktu yang hampir bersamaan, padahal Dara sudah mengatur mereka untuk datang di malam berbeda. Adjie yang memang direncanakan datang malam itu oleh Dara, diberi obat tidur dan dikurung di kamar jagal yang berisi potongan-potongan tubuh manusia. Sebelum Dara sempat menghabisinya, Eko datang dan membuat Dara terpaksa meniggalkan Adjie dalam keadaan terikat tak berdaya. Eko pun disediakan makan malam oleh Dara. Dalam suasana tak terduga, Rama pun juga datang dan juga dihidangkan makan malam oleh Dara. Musik klasik mengiringi pembicaraan mereka berdua, tapi, Adjie berhasil melepas penutup mulutnya dan tentunya berteriak minta tolong di tengah proses melepaskan diri itu. Hal itu membuat Eko curiga, saat ia berdiri, Dara yang sudah menyiapkan banyak senjata dibawah meja makan, mengambil golok dan menggorok leher Eko hingga Eko menggelepar di lantai, sementara Rama hanya terduduk mati kutu karena ketakutan.
6. VALENTINE’S DAY

Film ini menceritakan beberapa kisah cinta yang terjalin pada hari Valentine.
Kate (Julia Roberts) adalah seorang perwira militer yang menjadi penumpang dalam sebuah penerbangan dari Irak ke Los Angeles ketika ia bertemu Holden (Bradley Cooper), seorang laki-laki gay.
Pemilik toko bunga, Reed (Ashton Kutcher) mengajak pacarnya, Morley (Jessica Alba), untuk menikah setelah dia mengetahui bahwa sahabatnya, Julia (Jennifer Garner), punya pacar bernama Harrison (Patrick Dempsey) yang ternyata sudah menikah. Ibu Julia, Estelle (Shirley MacLaine) adalah pensiunan yang bahagia yang harus mengungkapkan perselingkuhannya di masa lalu kepada suaminya, Edgar (Hector Elizondo), sementara cucunya (Emma Roberts) akan berhubungan seks dengan pacarnya di sekolahnya. Tyler Harrington (Taylor Lautner) dan Samantha Kenny (Taylor Swift) juga adalah sepasang kekasih yang akan berpacaran di sekolah.
Seorang asisten bernama Liz (Anne Hathaway) bekerja di agen pencarian bakat terbesar di kota dan berpacaran dengan pegawai bagian surat, Jason (Topher Grace). Sementara itu, seorang wartawan bernama Kara (Jessica Biel) harus bekerja pada hari Valentine bersama bosnya Kelvin Briggs (Jamie Foxx) yang mana Kara jatuh cinta padanya.
Kathy Bates berperan sebagai “ahli terapi cinta” dan Joe Jonas mengisi suara anjing milik Morley.
7. Jakarta Maghrib
Jakarta Maghrib merupakan film Indonesia yang dirilis pada 4 Desember 2010. Film ini disutradarai oleh Salman Aristo serta dibintangi antara lain oleh Indra Birowo, Widi Mulia, Asrul Dahlan, Sjafrial Arifin, Lukman Sardi, Ringgo Agus Rahman, Deddy Mahendra Desta, Fanny Fabriana, Lilis, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, dan Aldo Tansani.
Film Jakarta Maghrib merangkum “Maghrib” sebagai waktu spesial yang telah lama menebar berbagai anggapan ke tengah masyarakat. Ia berusaha menangkap maghrib bukan saja sebagai fenomena relijius tetapi sebagai bagian yang khas dari masyarakat urban Jakarta, lalu menyusunnya kedalam lima tautan cerita sebagai strategi penyampaian narasinya.
8. Sad Movie

Dengan Gwan Kwon Jong-gwan sebagai sutradara dan sederet bintang Korea papan atas mulai dari Jung Woo-sung, Im So-jeong, Cha Tae-hyun, Yeom Jung-ah, Shin Min-ah, Son Tae-young, dan Lee Ki-woo, Sad Movie menghadirkan empat kisah yang saling bertautan.
Kisah pertama adalah tentang Jin-woo (Jung Woo-sung) yang berprofesi sebagai seorang pemadam kebakaran yang memacari seorang penerjemah bahasa isyarat bernama Su-jung. Hanya satu hal yang membuat hubungan keduanya sulit untuk diteruskan ke jenjang pernikahan : Jin-woo menolak untuk melepas profesinya yang penuh bahaya dan kerap membuat Su-jung kuatir.
Tokoh kedua adalah Su-eun (Shin Min-ah), adik Su-jung yang bisu dan mempunyai bekas luka di pipi. Meski kerap memberikan dukungan bagi kakak dan calon iparnya, Su-eun sendiri mempunyai problem : saat bekerja sebagai badut di taman hiburan, ia jatuh cinta pada pelukis Sang-gyu (Lee Ki-woo). Karena keterbatasannya, Su-eun hanya bisa mendekati Sang-gyu dengan kostum yang dipakainya sehari-hari.
Ju-yung (Yeom Jung-ah) adalah tokoh ketiga dalam film, seorang pekerja keras yang kerap bertengkar dengan putranya Hui-chan. Keadaan mulai berubah ketika Ju-yung masuk rumah sakit akibat ditabrak mobil, Hui-chan mulai membaca buku harian sang ibu yang menceritakan tentang kelahiran hingga saat dirinya dibesarkan. Suasana sedih makin terasa ketika belakangan Ju-yung divonis mengidap kanker.
Dalam perjalanan cerita, Hui-chan berpapasan dengan Ha-seok (Cha Tae-hyun), si tokoh keempat yang bekerja serabutan sebagai target pukul seorang petinju. Harapannya hanya satu : bisa mendapat banyak uang untuk bisa merebut kembali cinta kekasihnya Suk-hyun (Son Tae-young).
Sesuai dengan judulnya, Sad Movie benar-benar menghadirkan empat kisah yang penuh derai air mata.
9. New Year’s Eve
Pada malam tahun baru beberapa warga kota New York mengalami kejadian yang tak biasanya terjadi dalam hidup mereka. Mereka akan dipertemukan dengan beberapa orang yang bakal mengubah hidup mereka, beberapa adalah orang yang sempat singgah dalam kehidupan mereka sementara beberapa adalah orang yang baru pertama kali mereka kenal.
Setahun yang lalu Sam Ricker (Josh Duhamel) sempat bertemu seorang wanita yang tak pernah bisa ia lupakan. Tahun ini Sam berharap bisa bertemu wanita itu lagi. Di saat yang sama, Ingrid (Michelle Pfeiffer) memutuskan kalau tahun ini ia tak boleh melewatkan semua yang telah ia rencanakan sebelumnya. Semuanya harus terwujud.
Tess (Jessica Biel) sangat berharap bisa melahirkan tepat di malam tahun baru sedangkan Randy (Ashton Kutcher) justru adalah orang yang paling membenci malam tahun baru. Lain lagi dengan Laura Carrington (Katherine Heigl) yang sangat berharap bisa menikmati liburan namun terpaksa harus bekerja di saat semua orang merayakan malam tahun baru.
Konsep ini sempat ditawarkan film berjudul Valentine’s Day. Malahan awalnya film berjudul New Year’s Eve ini dimaksudkan sebagai kelanjutan dari Valentine’s Day meski pada akhirnya film ini malah berdiri sendiri sebagai film yang lepas dari Valentine’s Day. Menggabungkan banyak karakter penting dalam satu film memang punya tingkat kesulitan cukup tinggi namun semoga saja dengan sederet pemeran dengan kemampuan akting di atas rata-rata, sutradara Garry Marshall bisa mengatasinya dengan baik.
10. LOVE ACTUALLY

Love Actually adalah salah satu film komedi romantis ber-setting jelang Natal yang berasal dari Inggris yang dibuat pada tahun 2003. Film ini dibuat pada tahun 2003, dengan mengambil setting lima pekan menjelang Natal. Alur ceritanya sendiri berisi delapan cerita dengan keterkaitan satu sama lain. Dan pada akhir film, semua pemeran film ini bertemu di bandara Heathrow, Inggris, sebulan setelah Tahun Baru.

Bonus!

BOHONG

Omnibus ini merupakan omnibus pertama di sumatera utara yang di dukung oleh Kofi Sumut (Komunitas Film Sumatera Utara). 

Produksi 5 komunitas film indie.
- Mid Films "Kong Kali Kong" Karya Andi Hutagalung

 
Perjalanan ke Berastagi membawa Biner ke pusaran konflik antara sekelompok bandit proyek. Kastar sahabat sekaligus pemandu Biner meminta pertolongan kepada Azon. Kastar tak menyadari bahwa Azon adalah bagian dari sebuah konspirasi antar-elit yang dipimpin Lidya. 

- Manuprojectpro "Kontradiksi" Karya Immanuel Prasetya Gintings

 
Kesenjangan hubungan pertemanan dengan permusuhan yang berliku tajam dan permainan "tipu daya" yang akan membuat siapapun tak akan bisa menebak apa yang akan terjadi pada akhirnya...

- Opique Pictures "Ego" Karya Winda Mitari Utami

 
Film ini menceritakan konflik keluarga yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari

- Matasapi Films "Segi Empat" Karya J Hendry Norman

 
sebuah film pendek semi drama action kisah perselingkuhan yang di bungkus dengan adegan semi action. Produksi tahun 2013 oleh Matasapi Films yg di sutradarai oleh J Hendry Norman.

- Rufi Komuniti "Seribu" Karya Muhammad Abrar.