Komunitas Film di Medan Mulai Menggeliat

Pengamat dan pekerja seni kota Medan, Mukhlis Win Ariyoga menilai perkembangan dunia kreatifitas pembuatan film di Kota Medan semakin menggeliat, ditandai dengan banyaknya komunitas-komunitas film dokumenter yang saat ini bermunculan.
“Medan dulu punya rumah film di Sunggal, namun redup karena  anjloknya perfilman Indonesia kala itu. Namun, belakangan saya melihat geliatnya kembali bermunculan,” ujar Mukhlis Win Ariyoga kepada Analisa, Rabu (27/3).

Ia menjelaskan anak-anak muda Medan yang tergabung dalam beberapa komunitas yang ada memiliki bakat, talent dan keterampilan yang cukup bagus untuk memproduksi sebuah film. Modal utama untuk menuju profesionalisme.

Dari beberapa film yang pernah di tonton, Mukhlis berujar komunitas film dokumenter punya ciri khusus dan kualitas yang cukup bagus. Aktor dan konsep cerita yang ditawarkan pun menarik, meskipun tidak jauh dari persoalan romantisme remaja.

“Dengan budget, pengalaman, dan keterbatasan yang mereka miliki, saya kira kreatifitas mereka patut diapresiasi. Sebab dukungan masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan dunia sineas di Medan,” ujarnya.

Peran pemerintah

Menurut aktor dalam serial TV Si Bolang dan Kisah Anak Nusantara yang diputar TRANS 7 itu peran pemerintah tidak juga dapat dipisahkan. “Mungkin saat ini belum menjadi prioritas, namun mengingat industri kreatifitas di dunia entertainment semakin menjamur, ini dapat menjadi ladang bisnis,” katanya.

Saat ini, katanya, rumah produksi (PH) hanya bermunculan di Jakarta dan sekitar Pulau Jawa saja, untuk Sumatera belum ada.  Pertimbangan inilah yang memungkinkan rumah produksi lokal dapat berkembang pesat.

“Televisi swasta yang berpusat di Jakarta kerap kebingungan bila menggarap cerita-cerita yang mengangkat tentang kultur daerah. Biaya produksi yang tinggi karena harus menyeberangkan alat beserta crew dalam jumlah yang banyak menjadi kendala utama. Hal ini yang seharusnya mampu dilihat oleh para penggiat sineas dan komunitas film di Medan,” ujarnya.

Sumber

Medan, mana film mu?!


Deddy Mizwar Film Naga Bona
Denyut perfilman Medan telah lama binasa. Praktis semua ikut binasa termasuk studio, pekerja, produser dan para pelakon film pun  ikut rahib di telan zaman. Studio film seluar 5 hektare di Sunggal sejak didirikan praktis tak pernah dimanfaatkan untuk produksi film, kini nasibnya  telah ditelan bumi. Para pekerja film tak ada yang bertahan di Medan semuanya hengkang ke Jakarta sebagai kru film.  Produser film tak ada  lagi di Medan. Karena tidak ada kegiatan industri perfilman yang menopang hidupnya profesi produser film.  Walhasil, perfilman Medan pun senyap lebih dari dua dasawarsa.Yang tinggal hanya jejak sejarah sineas Medan  pernah berbuat banyak dalam perfilman nasional.
    Diera digital begitu mudahnya membikin film. Sakin mudahnya, banyak sineas kagetan menjadi sutradara film. Mereka itulah yang mengisi perfilman nasional saat ini, yang kesemuanya kebetulan berdomisili di Ibukota Jakarta. Tak ada sutrdara film nasional saat ini yang berdomisili di luar kota Jakarta. Banyak diantara sineas muda itu sineas asal Medan atau Sumatera Utara. Satu hal yang membingungkan, kondisi rill saat ini, 80% film nasional diproduksi beraroma seks dan klenik.  Hanya satu dua yang berkwalitas. Selebihnya hanya mengejar kwantitas. Bahkan memperburuk moral anak bangsa. Jangan harap kondisi sekarang ini tema kedaerahanan akan tampil, paling cuma "Laskar Pelangi" (Belitung/2008), "Sang Pemimpi" (Belitung/2009), "Naga Bonar Jadi Dua" (Sumatera Utara/2007) namun tidak diproduksi di Medan dan melipatlkan seniman Medan dan terakhir "Seleb Kota Jogja"  (Yogyakarta/2010).
Mengapa sineas Medan tak pernah bangkit? Jawabnya satu; tak ada orang yang berprofesi sebagai produser film di Medan. Dalam produksi film produser memegang peranan penting. Bahwa profesi seorang produser bukanlah pemilik uang, tapi pengelola uang dari investor atas gagasan yang dicetuskannya. Pun juga tak ada sinema grilya yang dilakukan sineas Medan. Artinya memproduksi film secara grilya seperti yang dilakukan sutradara Rudy Soedjarwo  saat memproduksi film "Bintang Jatuh" (2000). Baik mengedarkan dan produksinya dilakukan secara grilya. Untuk mengedarkan film perdana artis Dian Sastrowardoyo itu, Rudy mengedarkannya  dengan memutarnya berkeliling kampus dan ke berbagai daerah dengan alat digital sederhana yang dibawanya sendiri. Saat mengerjakan film "Bintang Jatuh", Rudy Soedjarwo bertindak sebagai sutradara sekaligus produser dan pengedar filmnya sendiri. Kalau itu pengusaha bioskop (Cineplex 21) tidak berpihak kepada perfilman nasional.
    Dalam perjalanan perfilman nasional, Medan pernah memiliki produser  REFIC (Rencong Film Corporation) Abubakar Abdi (1958)  memproduksi "Turang", "Piso Surit" dan  Ordipa (Orang Orang di Kebun Para). Produser Surya Indonesia Medan Film A.Gani Rahman  memproduksi Setulus Hatimu dan  Orando Film Omar Bach, memproduksi "Butet"  serta produser Sinar Film Corporation Ibrahim Sinik memproduksi  "Batas Impian". Sejak itu film nasional hanya mengambil setting Sumatera Utara untuk lokasi syuting seperti film "Secangkir Kopi Pahit", "Sorta", "Buaya Deli" dan Musang Berjanggut".
 
Film Musang Berjangut
   Cukup lama sineas  kota  Medan  tak ikut andil dalam perjalanan panjang  perfilman nasional. Padahal sebelumnya Kota Medan  lebih dua dasawarasa  yang lalu,  sineas kota Medan  disegani dalam  kancah perfilman perfilman nasional. Tak lain karya Anak Medan sempat “bicara” dalam perfilman nasional lewat karyanya. Yang namanya Anak Medan (seniman) akan selalu  mengatakan  bahwa Medan gudang seniman, termasuk pekerja film. Itulah semangat Anak Medan untuk berkiprah dalam dunia kesenian termasuk perfilman. Tapi, semua itu hanya semangat. Ide segudang tak ada artinya bila tidak diwujdukan.
    Bisakah perfilman Medan kembali bangkit? Jawabnya; bisa! Film Medan akan bisa "bernafas" jika ada produser film Medan  yang tak semata  beroerientasi Jakarta. Sineas Medan harus tampil dengan kemedanannya, namun bisa menembus peredaran seluruh Indonesia. Tak usah pakai bahasa "deh" dan "dong", pakailah dialek Medan atau bahasa Indonesia yang baik. Sebab 80%  bahasa yang dipergunakan dalam film nasional tak punya sopan santun. Kalimat; "Anjing", "Ngewek" (bersetubuh) dan bahasa pasaran lainnya menjadi bahasa resmi film nasional. Lembaga Sensor Film (LSF) hanya memperhatikan adegan seks vulgar, tanpa memperhatikan bahasa yang tak beradab.  Jika sineas Medan hendak bangkit, jangan harapkan pemerintah daerah untuk membangkitkannya. Sebab bangkitnya perfilman nasional kembali setelah mati suri selama satu dasawarsa  bukan karena campur tangan pemerintah, tapi karena kemauan keras para sineasnya.  Lucunya, Menbudpar "bernyanyi" dalam FFI 2009 kemarin, seakan bangkitnya film nasional karena campur tangan pemerintah. Film nasional bangkit lagi setelah film garapan Riri Reza "Petualangan Sherinna" (1999) dan film bergenre horornya sutrdara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo "Jekangkung" (2002) meledak saat diedarkan di bioskop.
    Sesungguhnya Konsep, ide dan pemikiran seniman Medan tak kalah dengan sineas yang ada di Jakarta. Tapi sayang, dominasi Jakarta sejak munculnya film pertama yang diproduksi sienas negeri ini tak pernah “dipatahkan” kota lain. Jakarta sebagai ibukota dibangun dan dikembangan oleh anak daerah yang tersebar penjuru negeri ini, termasuk dunia perfilman. Nyaris semua sineas negeri ini adalah putra daerah yang menggembangkan kreatifitas keseniannya di Jakarta. Putra Sumatera Utara memberikan kontribusi yang cukup  meyakinkan dalam perjalanan perfilman nasional. Baik sebagai sutradara, penulis skenario, kamerawan, peñata artistik, produser dan tentu saja sebagai aktor dan aktris. Tapi, semasa di daearah asalnya para sineas itu tidak memberikan apa-apa dalam perfilman nasional. Sebab daerah  tempat asal para sineas  tak memberikan harapan untuk bisa memproduksi film atau mewujudkan kreatiftasnya.
    Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai etnis dan sub etnis serta ras  memiliki segudang gagasan ide cerita yang bisa dilayarlebarkan. Potensi kekayaan ide cerita  bertema horor, komedi, laga, epos maupun drama percintaan seperti tambang emas yang tak pernah dieksplorasi.
    Gagasan cerita yang dimiliki  Sumatera Utara hanya secuil saja yang diangkat ke layar lebar. Karya  novel Merari Siregar dengan "Azab Sengsara," meski masih relevan dengan kondisi sekarang hanya dilakukan sebatas membikin sinetron.  Sinetron  Azab dan Sengsara yang disutradarai Edward Pesta Sirait  itu pun tak pernah ditayangkan meski Pemda Sumut ketika diera Gubernur Raja Inal Siregar cukup mensuport dengan anggaran yang terbilang  besar.
    Selain  cerita legenda, hikayat dan cerita rakyat, Sumut juga punya segudang ide cerita  untuk layar dilayarlebarkan yang bisa disajikan tidak saja berskala nasional tapi juga internasional. Perjalanan Koeli Kontrak dari tanah Jawa yang ditipu Belanda yang rencanakannya akan dikirim ke Suriname, ternyata dikirim ke tanah Deli. Politik kolonial Belanda  membuat munculnya bangsa Tamil dan China di  Sumatera Utara untuk dipekerjakan sebagai kuli di perkebunuan di Tanah Deli. Puluhan tema masih banyak yang belum tergali.
    Kemunculan bangsa China daratan dan Tamil memiliki gagasan ide yang  tak kalah menariknya  dari novel Remy Silado yang dilayarlebarkan oleh Nia DiNata dengan judul yang sama  "Cau Bau Kan" (2001).  Di Medan, ada tokoh multikulturalisme, Tjong A Fie cukup  menarik untuk dilayarlebarkan. Sosok koeli miskin dari China daratan menjadi tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Medan. Tak lain  karena jasanya yang cukup besar terhadap kedamaian dan kemakmuran di kota  Medan.
    Bikin film itu mudah! Namun saat ini tidak ada yang menjadi lokomotif perfilman Medan. Kalau pun ada produser film asal Medan, lebih memilih "bertarung" di Jakarta, seperti yang dilakukan  produser Anthony Pictures lewat  film "Tapi Bukan Aku" (2008), namun hasilnya jeblok. Membikin film seperti membikin pesta, bisa mahal bisa murah. Ratusan tema yang menarik bisa diangkat ke layar lebar. Cerita sederhana jika digarap serius bisa menghasilkan karya apik. Produksi film di Medan jauh lebih murah dari daerah lainnya, dengan peralatan digital dan peralatan yang standar bisa melahirkan sebuah karya film. Tapi siapakah yang menjadi lokomotif perfilman di Medan? Untuk itu diperlukan seorang produser yang loyal dengan perfilman Medan. Bila saja ada produser yang memproduksi film untuk membikin master saja, itu sudah sebuah kemajuan. Sebab, biaya termahal dari produksi film adalah biaya pasca produksinya. Untuk satu juudl film bisa edar serentak di seluruh penjuru negeri diperlukan minimal 40 copy. Jika tidak, para pembajak film di Glodok, Jakarta, siap membajak  film yang sedang beredar. Biaya produdksi film  bisa sampai 3 miliar tak lain karena semua film nasional masih diblow-up di Thailand dan biaya satu copy 10 juta di Inter Studio, Jakarta.
    Sinema  gotong royong, adalah tepat untuk membangkitkan perfilman Medan. Biaya produksi dilakukan secara gotong royong, begitu saat pasca produksi. Artis dan kru tak perlu 100% dari Jakarta. Untuk nilai komersil, setidaknya diperlukan artis Jakarta yang sudah populer. Selebihnya bisa dikerjakan oleh para sineas Medan yang sudah puluhan tahun tak memproduksi film bergaya Medan.  Dengan konsep itu, setidaknya, para pengusaha, pejabat Pemda, politisi dan sponsor bisa mematangkan biaya pasca produksi. Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau menjadi lokomotif perfilman Medan meski hanya untuk memproduksi master film tok?

Sumber

Pasang Surut Perfilman Nasional

Perkembangan perfilman nasional belakangan ini memang boleh dibilang cukup mengesankan. Ini mengingat penonton Indonesia sendiri mulai bersedia meluangkan waktu untuk menonton film nasional. Bahkan di antaranya cukup getol mengikuti perkembangan film Indonesia. 

Tumbuh berkembangnya perfilman Indonesia memang cukup memprihatinkan. Selama 12 tahun lamanya, perfilman Indonesia sempat mati suri alias mengalami kevakuman. Tidak ada satu pun produksi film dinilai bagus pada tahun 1990-an ke atas.
Munculnya sineas baru seperti Riri Reza, Mira Lesmana, Nia Dinata dan masih banyak sineas lainnya belakangan ini justru menjadi pelopor bagi kebangkitan perfilman Indonesia.
Lain film, lain pula tayangan-tayangan televisi. Justru di saat perfilman Indonesia mengalami kevakuman, tayangan-tayangan televisi, seperti sinetron, infotainment dan talk show mengalami booming dan semakin digemari. Tapi apa yang terjadi sekarang? 
Tayangan televisi yang awalnya memberikan kisah-kisah sinetron menarik, kini berubah bentuk dan nuansanya. Tayangan televisi lebih banyak diisi dengan tayangan-tayangan sinetron berbau mistik sarat balutan religi. 
Tak pelak, kontroversi mengenai tayangan-tayangan tersebut sempat merasuk di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat senang dan sangat menikmati hiburan tayangan-tayangan mistis-agamis. Namun sejumlah kalangan menilai, cerita-cerita seperti itu tidak memiliki kelayakan untuk dikonsumsi oleh sebagian besar penonton televisi Indonesia, khususnya anak-anak.
Inikah yang diharapkan oleh para pencipta film dan sinetron di Indonesia? Siklus yang hampir sama terjadi pada keterpurukan film di masa lalu manakala film-film berbau mistis mulai merajai pasaran. Akibatnya, penggemar film pun satu per satu mulai mundur untuk menyaksikannya. Mereka lebih memilih menonton film-film produksi luar negeri ketimbang film-film lokal.
Dua belas tahun lamanya, perfilman Indonesia tertidur pulas. Kini setelah terbangun kembali dan Piala Citra kembali diperebutkan, lagi-lagi film-film bertajuk horor secara perlahan mulai bermunculan. Sebut saja, film Jalangkung, Bangsal 13, Di Sini Ada Setan, dan Rumah Pondok Indah. 
Seolah sejarah yang sama mulai terulang. Dan tampaknya pencipta film kurang sensitif terhadap keinginan pasar masyarakat Indonesia sendiri.
Kisah misteri yang mencekam dan menakutkan memang bisa menjadi satu bumbu menarik untuk dijadikan tontonan. Tapi bukan berarti penonton akan bisa menimkati bila terus disuguhi kisah-kisah serupa tanpa adanya pembaharuan dalam kisah itu sendiri.
"Siklus perputaran gender film ini bukan menjadi satu-satunya alasan bagi runtuhnya perfilman di Indonesia," kata Mira Lesmana saat dihubungi Suara Karya melalui telepon genggamnya. "Bagi saya, penyebab utama semua itu adalah kurang adanya perhatian pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah film itu sendiri," ujarnya. 
Menurut istri Mathias Muchus ini, kreativitas seorang insan film menjadi modal utama untuk mencerahkan dunia perfilman belakangan ini. Namun kalau harapan yang besar demi perkembangan film Indonesia ini hanya ditumpukan pada segelintir insan film yang memiliki idealisme tinggi tentang perfilman, perkembangan film nasional akan terus tersendat-sendat.
Untuk menunjang hal tersebut, PT Amanja Mega Persada sebagai mitra PT Modern Photo Tbk, distributor produk-produk film dari Fuji melakukan kerja sama dengan Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia). Sebagai organisasi insan insan film di Indonesia, Parfi dipercaya membuka sebuah kelas tempat kursus membuat film. 
Yang diharapkan, tempat kursus seperti ini maka akan memberikan pembaharuan bagi perkembangan film nasional di masa-masa mendatang. Dengan demikian, film-film Indonesia benar-benar bisa menjadi alat komunikasi yang mendidik bagi masyarakat luas.
"Kursus seperti itu memang bisa membantu. Tapi alangkah lebih baiknya kalau pemerintah memberikan perhatian melalui jalur akademis yang benar, tanpa melalui kegiatan-kegiatan kursus yang hasilnya bisa kurang mendalam," Mira Lesmana, kakak kandung musisi jazz Indra Lesmana ini.
Bagaimana pun kursus membuat film hanyalah merupakan jalur cepat bagi seseorang untuk bisa mengetahui seluk beluk perfilman. Kelas-kelas seperti ini tidak bisa menjadi salah satu tempat penyaluran apresiasi film bagi insan film itu sendiri. "Kursus hanya membantu, tidak lebih," ujar Mira pula. 
Menurut Mira, sekolah akademis perfilman di Indonesia sampai sekarang masih terbatas. Padahal sekolah akademis perfilman sangat penting bagi perkembangan film-film nasional agar semakin bermutu. Sekolah akademis perfilman, tidak hanya mendidik siswa membuat film. Tetapi, mereka juga diarahkan jalur kariernya. Perkembangan perfilman nasional belakangan ini memang boleh dibilang cukup mengesankan. Ini mengingat penonton Indonesia sendiri mulai bersedia meluangkan waktu untuk menonton film nasional. Bahkan di antaranya cukup getol mengikuti perkembangan film Indonesia. 
Kenapa pemerintah tidak mulai memprakarsai berdirinya sekolah akademis perfilman nasional?


Sumber

Siklus perkembangan film Nasional


 
Perkembangan Perfilman Indonesia, hmm.. sebenarnya Film di Indonesia pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut Gambar Idoep”. Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton.

Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan.

Pada tahun 1926, Indonesia membuat film lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng diproduksi oleh NV Java Film Company. menyusul selanjutnya adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah.
Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film ini dianggap karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Kebangkitan perfilman Indonesia

Tahun 1970-an dapat di katakan sebagai bangkitnya era perfilman Indonesia, Papa dan Mama kita dulu mungkin masih terngiang-ngiang dengan film-film lama seperti Ali Topan Anak Jalanan, Romi dan Yuli, dan lain sebagainya, meski demikian jumlah film yang di produksi saat itu masih 604 judul, tapi semuanya berkualitas. dan dialog masih sangat kaku dengan menggunakan kata ganti AKU dan KAU.

Memasuki era 1980-an produksi film di tanah air menjadi 721 judul film, Temanya juga bervariasi, era itu adalah eranya Warkop dan H. Rhoma Irama film-film mereka selalu laris bak kacang goreng. Salah satu momentum bersejarah di era 1980-an adalah screeningnya film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah Orde Baru) sebanyak 699.282. di akhir era 1980-an nama Lupus dan Catatan si Boy menjadi ikon tersendiri. Menjelang era 1990-an film-film karya Cinta dalam Sepotong Roti mampu memenangkan berbagai penghargaan di festival film internasional

Terpuruknya Perfilman Indonesia
Era 1990-an dapat dikatakan sebagai Kiamatnya perfilman Indonesia, hal ini disebabkan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Praktis semua aktor dan aktris panggung dan layar lebar beralih ke layar kaca. Selain itu tema yang selalu menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air adalah tema Horror sex, di era 1990-an judul-judul film Indonesia amat sangat vulgar contoh Misteri Janda Kembang, Noktah merah perkawinan, Gairah Terlarang, Meski sejumlah aktor Hollywood kelas B seperti Frank Zagarino, Chintya Rothrock, David Bradley turut meriahkan dunia film tanah air, kondisi penonton tetap tak berubah, Mimin masih ingat judul film warkop terakhir di layar lebar yaitu "Saya duluan dong" setelah itu film tanah air jadi mati suri... Anehnya saat terpuruknya perfilman tanah air banyak yang menyalahkan pihak Amerika (Hollywood) dan Bioskop 21. Namun di sisi lain, di era 1990-an banyak komunitas film-film independen. Beliau-beliau inilah yang akan membangkitkan perfilman tanah air di awal 2000-an

Dunia baru perfilman tanah air

Awal 2000-an sempat muncul salah satu film anak yang menjadi legendaris saat itu, "Petualangan Sherina" dibintangi Derby Romeo, Sherina Munaf. bisa dikatakan "Petualangan Sherina" adalah oase di tengah sepinya bioskop tanah air. Lalu di tahun 2002 muncul pula film fenomenal lainnya yaitu "Ada Apa Dengan Cinta", "Jaelangkung", dan lain sebagainya. Film Indonesia pun menemukan kembali ruhnya. Genre film juga kian variatif, alhasil di tahun-tahun berikutnya penonton mulai tertarik untuk menonton film Nasional, film-film seperti "Heart", "Naga Bonar Jadi Dua", "Ayat-Ayat Cinta" adalah film-film yang mendapat jumlah penonton tertinggi. Bahkan Film Indonesia mampu bersaing dengan film Hollywood secara sehat.

Meski Demikian Perfilman Indonesia masih saja dirusak oleh oknum-oknum Mr. X yang hanya mencari keuntungan kesempatan dalam kesempitan dengan membuat film-film Horror Sex, (admin heran di kota mana sih yang jumlah penonton Horror Sexnya meningkat). Hal ini justru membuat Film Nasional yang bagus menjadi seperti batu diantara lelumutan, lama-lama lumut itu bisa menghancurkan batu itu sendiri, meski sekokoh apapun batu itu.

Di tahun 2011 terjadilah sebuah peristiwa yang justru menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air, yaitu Kisruh Film Impor, apalagi di tahun itu Film-film Horror Sex seperti "Goyang Jupe-Depe" dan lain sebagainya menjadi Jamur, Menjamur dimana-mana. Penonton menjadi risih, mereka menginginkan Hollywood kembali seperti dulu, meskipun diantara menjamurnya film Horror Sex itu terdapat film - film berkualitas seperti "tanda tanya" Hanung Bramantyo.

Akhirnya Film Hollywood kembali hadir di tanah air pada bulan Ramadhan tahun itu (admin lupa bulannya mungkin sekitar Juli - Agustus)

Menurut Admin peristiwa kisruh film Hollywood tahun lalu para moviemaker semakin kreatif, film-film Horror Sex menjadi semakin sedikit di tahun ini. sementara film-film Berkualitas seperti The Raid, 5 CM, Garuda di Dadaku 2 (di publish tahun 2011 setelah kisruh). semakin banyak. Ya mimin, berharap semoga kondisi seperti ini berlangsung selamanya, Apalagi salah seorang aktor Indonesia Joe Taslim main film di Fast Six (Pertama kalinya aktor Indonesia main film Blockbuster), mimin pernah berkhayal bahwa akan ada aktor Indonesia mengucapkan Alhamdulillah saat perhelatan academy awards. Ini membuktikan bahwa aktor kita bukanlah aktor kacangan, terlebih lagi yang telah dan akan bermain film di tanah air bukanlah aktor kelas B. Nama-nama seperti Julia Roberts, Mickey Rourke bukanlah nama-nama seperti Chintya Rothrock atau pun Frank Zagarino. Julia Roberts dan Mickey Rourke pernah meraih oscar. Sedangkan Rothrock dan Zagarino adalah aktor-aktor yang filmnya banyak diedarkan dalam bentuk DVD.

Sayangnya, sifat orang Indonesia masih suka latah, jika sedang ramai horor, banyak yang mengambil tema horor, begitu juga dengan tema-tema remaja/anak sekolah. lihat saja setelah sukses AADC, Muncul film Cinta Pertama, atau film-film cinta lainnya setelah sukses Laskar Pelangi muncul pula film si Brandon (mimin lupa judulnya) dan sudah berapa banyak film-film anak yang meski berkualitas tapi kurang laku. Setelah sukses film Ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, film-film seperti Perempuan berkalung Sorban malah hadir. Sinetron-sinetron tentang religi percintaan pun tak terhitung jumlahnya.

Latah, mungkin gak hanya di alami orang Indonesia, di dunia perfilman Hollywood juga begitu, sadarkah teman bahwa tema-tema yang diusung film Hollywood saat ini sebagian besar diangkat dari Novel, Komik, tapi yang menjadi kekuatan adalah bagaimana cara mereka meramu, meski kadang ramuan mereka terasa sinting, seperti mengubah-ubah dongeng. Manusia memiliki sifat ingin sesuatu yang baru dan hal inilah yang dimanfaatkan Hollywood, Korea, dan negara maju lainnya.

Sumber

Perjuangan Komunitas Film Indie di Sumut

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/207208_652801291400824_1171797578_n.jpg

Tak mesti berbiaya mahal, cukup sekitar Rp 1 – 2 jutaan saja, beberapa anak Medan ternyata masih punya kreatifitas dan keberanian untuk membuat film, khususnya film indie. Selama ini memang ada anggapan kalau membuat film tentu harus punya dana besar, biasanya sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Akan tetapi, kali ini, anak Medan ingin membuktikan bahwa dengan biaya yang minim tetap bisa menghasilkan karya film.
Hal demikian terungkap dalam konferensi pers dan diskusi Premiere Film Omnibus “Bohong” yang diadakan di Rimba Kafe, Senin (20/5), di Jl HM Joni, Medan. Konferensi pers yang disampaikan 5 orang sutradara film (Andi Hutagalung, Imanuel, Opiq, Hendry, dan Abrar) tersebut memaparkan bagaimana perilaku berbohong menjadi hal tematik dalam film omnibus (gabungan dari 5 film pendek) tersebut. Termasuk juga bagaimana mereka membicarakan seputar proses anak Medan berkarya dan berkreatifitas saat pembuatan film ini dalam keterbatasan, misalnya menyangkut soal dana atau fasilitas saat memproduksi film-film mereka. Apalagi tentang minat masyarakat terhadap film karya anak Medan dan minusnya sponsor dari pemerintah atau dinas terkait, terutama dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara & Kota Medan.
Menurut Andi dari Media Identitas (MiD), diluncurkannya Film Omnibus “Bohong” yang terdiri atas 5 film ini merupakan proyek idealis 5 komunitas film indie di Medan, yaitu gabungan dari, film Kong Kali Kong (produksi Media Identitas), Kontradiksi (produksi Manuproject), Segi Empat (produksi Matasapi Film), Ego (produksi Opiq Pictures), dan Seribu (produksi Rumah Film – Rufi). “Niat awalnya ingin menjelaskan kepada publik bahwa gairah dan potensi anak Medan untuk memproduksi film masih cukup baik,” jelasnya.
Mengenai tema sentralnya soal kata “bohong”, Hendry menambahkan, ke 5 film yang rata-rata berdurasi 15 menit ini bercerita tentang masifnya perilaku kebohongan dan manipulasi di semua kalangan saat ini. Ada juga kisah selingkuh yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, penyelewengan tender project dll. Jadi, film Omnibus Bohong ini merupakan refleksi para penggiat film indie di Medan terhadap realitas yang terjadi, yaitu menyangkut perilaku berbohong yang terlanjur dianggap biasa. “Semoga film ini dapat memberi pencerahan kepada masyarakat bahwa bohong itu sesuatu hal yang salah dan mengakibatkan berbagai akibat buruk,” tutur Hendry.
Berangkat dari kenyataan inilah, Andi, Hendry, Imanuel, Opiq, dan Abrar yang tergabung dalam Komunitas Film (KoFi) Sumut meluncurkan film Omnibus “Bohong”. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, mereka pun berharap, peluncuran film Omnibus “Bohong” pada bulan Mei ini dapat menjadi motivasi bagi kebangkitan film Medan dan Sumatera Utara.
5 sutradara dan produser film indie ini, sangat optimis bahwa film anak Medan harus bangkit seiring dengan kekompakkan dan saling apresiasi antar insan film di Medan. “Bagaimanapun, kita butuh dukungan, baik dari para pembuat film maupun masyarakat pencinta film Medan. Sebab di omnibus ini paling tidak kami ingin mengangkat sosial budaya Medan dan Sumut melalui film. Meski dengan keterbatasan dana, tetapi kelahiran omnibus ini merupakan wujud kekompakkan insan muda film di Medan. Apalagi dengan keterbatasan dana tersebut, rasa solidaritas menjadi perekat bagi kemajuan dan kreatifitas film karya anak Medan di masa mendatang,” ujar Andi.
Adapun film-film yang berlatar belakang kota Medan dan wilayah Sumut ini akan diputar pada 21-22 Mei di Fakultas Bahasa dan Seni Unimed. Rencananya, kata Andi, film-film ini juga akan di-roadshow-kan ke beberapa daerah di Sumut, seperti di Rantauprapat, Berastagi, Tebing, dan beberapa tempat lainnya. “Tak tertutup kemungkinan juga akan diputar di luar Sumut. Tapi kami sangat ingin ada kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk pemutaran film ini, karena pesan moral yang dibawanya dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup” jelasnya. (Juhendri)

Sinematografi




Apakah sinematografi itu? Sinematografi adalah segala perbincangan mengenai sinema ( perfilman ) baik dari estetika, bentuk, fungsi, makna, produksi, proses, maupun penontonnya. Jadi seluk beluk perfilmam dikupas tuntas dalam sinematografi.
Memasuki dunia perfilman berarti memasuki dunia pemahaman estetik melalui paduan seni acting, fotografi, teknologi optic, komunikasi visual, industri perfilman ide, cita-cita dan imajinasi yamg sangat kompleks. Pemahaman estetik dalam seni (secara luas), bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayatan dalam menghadapi karya seni (termasuk film). Apresiasi tidak identik dengan penikmatan, karena mengapresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam sebuah karya seni. Seorang penghayat film, terkebih dahulu ia harus mengenal struktur dasar film, mengenal bahasa visual film yang dihadirkan, mengenal konteks audio-visual dan semiotika (system pelambangan) bahasa gambar, mengenal dimensi ruang dan waktu, serta mengetahui azas desain penggarapan film dan karakter setiap unsure pendukungnya.
Pemahaman atau apresiasi film memiliki dimensi logis, sedangkan penikmatan sebagai proses psikologis. Apresiasi film menuntut keterampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pengalaman estetik dalam mengamati karya film. Pengalaman estetik dapat tumbuh pada setiap orang apabila terdapat proses penghayatan yang sungguh-sungguh, terpusat dan pelibatan emosional. “The aesthetic experience may be defined as satisfaction in contemplation or as satisfying intuition”, bahwa pengalaman estetik merupakan hasil interaksi antara karya film dengan penghayatannya.
Anatomi film pada dasarnya dapat dibagi secara subjek dan objek. Subjek film terdiri dari kemampuan sensoris-visual. Dalam gambar film tersimpan visual auditif idiil yang saling berkaitan. Film merupakan sebuah proses kreatif, mimesis dan peristiwa, ada espresi/ide, ada simulasi peristiwa dan menimbulkan apresiasi. Sedangkan objek dalam film terdapat aspek material yang harus dipahami seperti medium celluloid, serta optik dalam compact disk, dll. Aspek formal berbentuk gambar, gambaran ruang dan waktu secara virtual, dan film dibuah berdasarkan pentusunan skenario yang didasarkan atas ide kehidupan manusia secara virtual.
Estética film terdiri atas estética ILUSI DAN IMAJI. Ilusi timbal dari kumpulan gambar. Imaji sebagai sifat utama reproduksi. PROYEKSI DAN FOTOJENI: Proyeksi : penonton masuk kedalam kejadian filmis. Gambar dan imaji diproyeksi oleh proyektor. Proyeksi dari kehidupan batiniah penonton. Hubungan timbal balik antara imaji filmis dengan penonton disebut FOTOJENI. Dalam film terdapata Dunia Virtual dan waktu filmis. Selain itu ada proses identifikasi. Identifikasi adalah proses penonton menyerap kejadian di layar ke dalam dirinya. Sementara itu Penghayatan Filmis merupakan proyeksi dan identifikasi optik, proyeksi dan identifikasi emosional dan proyeksi dan identifikasi imajiner.

Materi diklat dasar #9 Kine Klub UMM
Oleh : DR. Arif Budi Wurianto
(pembina UKM Kine Klub UMM

Film Dokumenter



Sebelumnya perlu diketahui bahwa film secara umum dibagai sebagai berikut :
  1. Film Dokumenter, merupakan film yang berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Film Dokumenter tidak menciptakan suatu peristiwa atau kejadian namun merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi atau otentik.
  2. Film Fiksi, merupakan film yang sering menggunakan cerita rekaan di luar kejadian nyata serta memiliki konsep pengadeganan yang telah dirancang sejak awal.
  3. Film Eksperimental, merupakan jenis film yang berbentuk abstrak dan tidak mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena mereka menggunakan simbol-simbol personal yang mereka ciptakan sendiri.

Istilah feature sendiri berangkat dari tradisi jurnalisme cetak yang menggambarkan jenis laporan jurnalistik yang memberikan kebebasan bagi penulisnya untuk mengemas laporan dengan teknik pemaparan kreatif sehingga tulisan lebih nyaman dibaca dan tidak kaku.
Sebagai karya jurnalistik, feature cetak kental dengan pembatasan kode etik dan prinsip nilai-nilai berita. Berdasarkan logika tersebut, calon penyedia jasa berpendapat bahwa feature adalah varian karya film dokumenter yang secara ketat menganut pembatasan kode jurnalistik dan prinsip nilai berita.Tentu saja seperti halnya feature cetak, nilai human interest atau point of view lainnya biasanya lebih menarik untuk dijadikan daya tarik utama.
Secara lebih spesifik, feature dapat diterjemahkan sebagai laporan khusus. Features termasuk reportasi yang dikemas secara lebih mendalam dan luas disertai sedikit sentuhan aspek human interest agar memmiliki dramatika (sekitar 15 menit).
Feature menyuguhkan suatu topic tertentu, yang dilengkapi wawancara, komentar dan narasi. Bisa juga diseput liputan khusus. Feature dapat dibedakan dengan berita aktual antara lain karena durasi feature lebih panjang. Bila reportase berupa berita aktual, feature tak menuntut aktual.
Produk audio visual yang dihasilkan pada pekerjaan ini adalah berupa feature, artinya produk audio visual tersebut tidak harus sesuatu yang bersifat aktual, akan tetapi merupakan liputan khusus yang di kupas secara mendalam. Karena bukan merupakan produk rekaan (fiksi) maka feature digolongkan kedalam jenis film dokumenter.
Pada tahun 1926 Robert Frierson menjabarkan definisi film dokumenter, yaitu karya film dokumenter merupakan sebuah laporan actual yang kreatif (creative treatment of actuality). Kriteria ini dijabarkan pada saat Robert Grierson mengulas film Moana karya Robert Flaherty.
Empat kriteria yang menerangkan bahwa documenter adalah film nonfiksi adalah :
  • Setiap adegan dalam film dokumenter merupakan rekaman kejadian sebenarnya, tanpa interpretasi imajinatif seperti halnya dalam film fiksi. Bila pada film fiksi latar belakang (setting) adegan dirancang, pada dokumenter latar belakang harus spontan otentik dengan stuasi dan kondisi asli (apa adanya),
  • Yang dituturkan dalam film dokumenter berdasarkan peristiwa nyata (realita), sedangkan pada film fiksi isi cerita berdasarkan karangan (imajinatif). Bila film dokumenter memiliki interpretasi kreatif, maka dalam film fiksi yang dimiliki adalah interpretasi imajinatif,
  • Sebagai sebuah film nonfiksi, sutradara melakukan obervasi pada suatu peristiwa nyata, lalu melakukan perekaman gambar sesuai apa adanya,
  • Apabila struktur cerita pada film fiksi mengacu pada alur cerita atau plot, dalam dokumenter konsentrasinya lebih pada isi dan pemaparan.
Di tahun 1990-an lahir hybrid documentary form, yaitu gaya kemasan baru pada dokumenter yang mencangkok berbagai bentuk media audio – visual, termasuk gaya bertutur, fiksi, untuk menciptakan daya tarik bagi pentonton atau pemirsa untuk tujuan komersial. Dokumenter seri televisi berjudul America pada tahun 1989 yang memperkenalkan gaya ini. Gaya ini juga disebut sebagai Postmodern Documentary atau Neo-Documentary.
Film Dokumenter memiliki beberapa bentuk bertutur, diantarnya adalah :
  1. Laporan Perjalanan. Penuturan model laporan perjalanan mendokumentasikan pengalaman yang didapat selama melakukan perjalanan jauh.
  2. Sejarah. Merepresentasikan fakta sejarah sesuai dengan periode (waktu peristiwa sejarah), tempat (lokasi peristiwa sejarah), dan pelaku sejarah.
  3. Potret/Biografi. Representasi kisah pengalaman hidup seorang tokoh terkenal ataupun anggota masyarakat biasa yang riwayat hidupnya dianggap hebat, menarik, unik, atau menyedihkan.
  4. Perbandingan. Mengetengahkan perbedaan situasi atau kondisi, dari satu objek/subjek dengan yang lainnya.
  5. Kontradisi. Dari sisi bentuk maupun isi, tipe ini memiliki kemiripan dengan tipe perbandingan; hanya saja tipe kontradiksi cenderung lebih kritis dan radikal dalam mengupas permasalahan.
  6. Ilmu Pengetahuan. Menyampaikan informasi mengenai suatu teori, sistem, berdasarkan disiplin ilmu tertentu.
  7. Nostalgia. Mengangkat suatu kisah kilas-balik.
  8. Rekonstruksi. Pecahan-pecahan atau bagian-bagian peristiwa masa lampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksi berdasarkan fakta sejarah.
  9. Investigasi. Mengetengahkan adegan-adegan terhadap sebuah peristiwa yang coba diungkap karena masih menjadi misteri atau tidak pernah terungkap jelas.
  10. Assoxiation Pictory Story. Disebut sebagai film eksperimen atau film seni. Gabungan gambar, musik dan suara atmosfer (noise) secara artistic menjadi unsur utama.
  11. Buku Harian. Penturannya sama seperti catatan pengalaman hidup sehari-hari dalam buku harian pribadi.
  12. Dokudrama. Rekonstruksi suatu peristiwa atau potret mengenai seseoran yang direpresantisak secara kreatif, dalam tipe ini subjek yang berperan adalah artis film karena gaya bertutur ini memiliki motivasi komersial.