Mencari Ide, Tema dan Gagasan

http://www.seputarukm.com/wp-content/uploads/2012/01/6a00e54fafb9508834010535cfe543970b-800wi.jpg 
Untuk membuat film salah satu yang dibutuhkan adalah script. Untuk menulis script yang bagus yang dibutuhkan adalah ide yang orisinil. Ide/tema/gagasan yang orisinil tidaklah datang dengan mudah. Sayangnya tidak ada guru yang dapat mengajarkan menciptakan ide bagus. Ide cerita yang bagus belum tentu juga sebuah script yang bagus. Banyak film pendek dengan ide bagus tetapi ketika menjadi script menjadi tidak bagus ketika proses penulisan berlangsung, apalagi kemudian diwujudkan dalam film. Menulis script adalah pekerjaan yang tidak mudah, tetapi banyak trik dan teknik yang dapat dipelajari agar memudahkan dalam penulisannya.
Salah satu pelajaran yang penting untuk menghindari ide yang klise menontonlah banyak film pendek, lihat trend apa yang sedang terjadi dan berusaha untuk memahami. Bahkan jika tidak menyukai film pendek itu tanyakan pada dirimu kenapa kamu tidak suka. Kenapa jelek? Apakah pengembangan karakter tidak cukup? Apakah ceritanya berjalan dengan baik? Tetapi pelajaran yang paling penting adalah latihan, latihan dan latihan. Jika idemu tidak terlalu orisinil cobalah untuk melihat subyek film dari sudut pandang yang lain atau gunakanlah teknik atau style yang berbeda. Tetapi jika berusaha kuat untuk menemukan gagasan yang kuat, cobalah mencari inspirasi dari pengalaman ataupun orang lain atau dari majalah, koran, internet, dan lain-lain.
Kita bisa memulai dengan ide dasar dan itu bisa apa saja. Bisa jadi tertarik akan sebuah situasi? Karakter? Sebuah aksi? Sebuah dilema? Isu sosial? Ekspresi artistik? Sebuah post-modern interpetasi sebuah kehidupan? Jika ingin membuat ide fiksi, bisa memulai dengan karakter, yang harus memikul konsep cerita.
Inspirasi bisa dicari berdasarkan:
  1. Kejadian nyata dalam hidup. Bisa diri sendiri atau orang lain.
  2. Artikel dari koran maupun majalah.
  3. Dari foto-foto, video, web camera, internet.
  4. Pengalaman pribadi; mimpi atau kenangan.
  5. Ide berdasarkan: Bagaimana jika? Sebuah pengandaian, bagaimana jika dunia hancur?

Dimana Film akan Diputar?

https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash2/574984_387500248004654_925597230_n.jpg 
Premier Menatap Layar Atap ( MANTAP ) Produksi Komfaz Production

Alasan untuk membuat film harus diikuti kemana film itu akan diputar. Membuat film pendek bisa diputar di:

  1. Rumah – Banyak filmmaker mencoba mempertontonkan/test filmnya untuk dilihat keluarga maupun teman.
  2. Rumah budaya/komunitas – Film pendek biasa diputar di kantung-kantung budaya maupun komunitas-komunitas yang tersebar di Indonesia.
  3. Kampus/Sekolah – Kebanyakan diputar di kampus bersama kine klub-kine klub atau di kegiatan ekstra kurikuler film.
  4. Internet – banyak film pendek muncul di Internet dan mendapatkan feedback dari kalangan yang lebih luas dan beragam secara international.
  5. Televisi – Jika film pendek secara kualitas bagus, channel televisi akan memutarnya. Biasanya di gabung dengan film pendek yang lain.
  6. Bioskop – sangat sulit tapi bukan tidak mungkin sebuah film pendek diputar dibioskop. Biasanya terjadi di luar negeri karena mereka mempunyai bioskop yang memutar film-film pendek.
  7. Festival – Kesempatan paling besar adalah pemutaran di sebuah festival. Bisa ditonton oleh kalangan industri dan para filmmaker yang lain. Dan jika itu merupakan ajang kompetisi akan menyenangkan jika memenangkan sebuah penghargaan.
Kenapa membuat film pendek, dan kemana film akan diputar tergantung dari ide gagasan, mewujudkan menjadi film, equipment yang digunakan, teknik, budget, jumlah kru, dan pasar yang potensial.

Kenapa Membuat Film Pendek?


Membuat film, baik itu film pendek maupun film panjang adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan cinta dan dedikasi, kegilaan dan petualangan. Kenapa membuat film pendek? Membuat film pendek bisa jadi untuk:
  1. Pengalaman – Sebuah pengalaman dengan mengumpulkan sebuah team untuk membuat cerita dalam film.
  2. Showreel – mengejar karir dalam pembuatan film dan juga untuk menunjukkan keahlian membuat film. Membuat film pendek agar mendapatkan funding untuk membuat film panjang.
  3. Partnership – terjun langsung ke dalam sebuah organisasi untuk berkolaborasi dalam sebuah projeck. Bisa juga untuk menarik seseorang (produser, sutradara, penulis ternama) untuk menolong meningkatkan profil pembuatan film atau untuk meningkatkan profil perusahaan.
  4. Mewujudkan ide – berusaha mewujudkan ide menjadi sebuah film atau mewujudkan ide untuk sebuah film panjang dengan membuat film dalam skala pendek. Bisa juga eksplorasi teknik pembuatan film. Mewujudkan sebuah ide yang hanya bisa dilakukan untuk film pendek.
  5. Uang – mencoba membuat film dengan budget untuk membayar kru film. Biasanya jarang terjadi dalam pembuatan film pendek. Mendapatkan uang dari film pendek sangat jarang terjadi tetapi bukan tidak mungkin. Di Indonesia, film pendek belum menjadi sebuah industri.

Sumber

Tip Praktis Bikin Film Pendek

 
Pengin ikutan kompetisi film pendek? Tapi, sudah pasti susah mengerjakannya.  Apalagi, kita belum berpengalaman dan nggak punya modal besar. Ini nih, pikiran yang mesti dibuang jauh-jauh. Jangan sampai kita menyerah sebelum mencoba. Asalkan niat, nggak susah kok bikin film pendek. Simak langkah-langkahnya, berikut ini:

  • Bentuk tim produksi. Untuk film pendek, idealnya 3-6 orang. Kemampuan membuat film bukanlah hal utama. Yang penting adalah menemukan anggota yang benar-benar niat bikin film dan mau belajar. 
  • Bagi-bagi tugas. Pekerjaan yang paling penting adalah sutradara, penulis naskah, juru kamera dan editor. Oh iya, jabatan tersebut bisa dirangkap. Malah, kadang tim produksi juga merangkap sebagai talent (pemain).
  • Baca & browsing. Cari informasi tentang pembuatan film, job desc tim produksi, sampai cara menggunakan kamera serta teknik mengambil gambar. Pengetahuan bertambah dan ilmunya bisa langsung dipraktekkan ketika membuat film.
  • Buka mata untuk mencari ide. Ide bisa datang dari mana saja, bahkan hal yang paling sederhana sekalipun. Tantangannya adalah memastikan bahwa ide tersebut kreatif dan menarik.
  • Perencanaan & riset. Bikin timeline pengerjaan film, yang berisi jadwal penyelesaian naskah, waktu shooting, editing dan sebagainya. Ini supaya kerja kita efektif dan efisien. Selain itu, biasakan melakukan riset sebelum shooting. Misalnya, datang ke lokasi dan mencari spot yang pas untuk pengambilan gambar. Ini akan membantu banget di hari-H.
  • Kerahkan “Modal”. Berhubung filmnya low budget, jadi kita mesti kreatif memutar otak untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Misalnya, minta tolong teman-teman untuk jadi talent. Terus, cari pinjaman perlengkapan shooting, seperti kamera, wardrobe, properti dan sebagainya.
Selamat bikin film! 

Sumber

Jangan Takut Membuat Film!!!

http://b.vimeocdn.com/ps/281/713/2817133_300.jpg 
Sebuah karya lahir karena diciptakan. Tidak ada karya tanpa pencipta, yang ada adalah pencipta yang tak sadar bahwa ia telah berkarya. Seorang seniman tidak akan bisa dilepaskan dari realita, apa pun yang terjadi dan sekecil apapun realita itu adalah bagian yang memengaruhi karya-karyanya. Walaupun ada yang mengatakan bahwa karya yang lahir adalah buah dari imajinasi semata, perlu juga diingat bahwa imajinasi adalah bukti konkret dari keberadaan realitas.
Salah satu interpretasi yang muncul dari realitas adalah karya film, baik itu yang berbentuk dokumenter maupun film cerita yang kini banyak digemari oleh masyarakat kita, baik bagi orang desa maupun kota. Orang desa dapat menangkap gambaran realitas yang ada dikota melalui film-film yang menampilkan kehidupan kota. Sebaliknya orang kota dapat menyelami kehidupan desa melalui film-film yang mengambil latar pedesaan. Melalui karya film, sebuah realita dapat dikemas, disajikan dan lalu dinikmati oleh siapa pun.
Terlepas dari manipulasi realita yang tidak bisa dimungkiri sering dilakukan dalam sebuah karya film, adanya sebuah realita yang ditampilkan adalah bukti konkret bahwa sang pembuat film tidak melepaskan realita yang terjadi di sekitarnya.
Indie ataupun independen sering diartikan sebagai kemandirian atau mandiri, dan jika kita berpacu pada pengertian tersebut, maka independen memiliki ruang untuk adanya kebebasan. Kebebasan dalam berkarya.
“Kebebasan” yang dimaksud dalam kata indie itu mengartikan bahwa film ini memberikan kebebasan bagi para pembuatnya dalam mengimplementasikan keinginan, skill ataupun konsepnya sendiri. Tanpa ada embel-embel yang berupa titipan ataupun tuntutan pihak lain, seperti titipan produser ataupun atasan, tuntutan pasar, dsb., film yang lahir benar-benar menampilkan keorisinalan karya pembuatnya.
Film indie adalah sebuah tawaran bagi seniman film untuk menampilkan idenya sendiri dengan bebas dan ekspresif tanpa adanya kontaminasi tuntutan ataupun titipan pihak lain. Seniman yang dimaksud dapat berkarya dengan penuh emosi dan memaksimalkan buah pemikirannya sendiri.
Ekplorasi Pemikiran
Eksplorasi pemikiran saya artikan sebagai pendayagunaan kemampuan berpikir untuk melahirkan sebuah ide ataupun buah pemikiran yang maksimal, tanpa adanya paksaan ataupun tekanan baik secara psikologis maupun materiil.
Seperti yang sering disinggung oleh banyak pakar khususnya dibidang kesehatan dan kedokteran bahwa daya pikir manusia memiliki kekayaan yang begitu besar. Alangkah besarnya karya pemikiran yang akan lahir jika manusia yang bersangkutan dapat memaksimalkan daya pikirnya sendiri. Begitu pula dalam sebuah karya film, lahirnya sebuah film besar dan sukses tentunya diawali dari proses eksplorasi pemikiran dari si empunya ide film yang bersangkutan.
Film indie yang notabene menjadi tren ataupun genre yang disukai khususnya kaum muda adalah salah satu ajang yang tepat untuk melakukan proses eksplorasi pemikiran, karena dengan posisi atau umur yang masih muda, terutama yang belum terkontaminasi banyak permasalahan dalam hidup, pemikiran yang lahir akan sangat memungkinkan untuk dieksplorasi secara maksimal.
Adanya kekebasan dalam mengeksplorasi pemikiran dalam film indie kemudian memicu lahirnya warna baru dalam kancah perfilman khususnya dinegara kita. Hal ini bisa kita lihat khususnya dalam karya-karya film mahasiswa yang umumnya masih idealis dan berorientasi pada kepuasan gagasan, tanpa terlalu jauh memikirkan aspek keuntungan secara materil.
Dalam karya film mahasiswa seperti yang saya dan rekan-rekan —Jurnalistik Unisba angkatan 2003—, dalam pembuatan film yang kami beri judul “Mail-Box”, ide cerita dibuat sendiri, soundtrack film yang diciptakan serta diaransemen sendiri, tokoh film yang diperankan sendiri, teknis lapangan yang dikerjakan sendiri (tim film) serta finansial pun banyak keluar dari uang sendiri. Walaupun sebagian didukung dari dana fakultas, selebihnya kita menambalnya dari sponsor yang kita cari sendiri.
Hal ini tentu dialami oleh rekan-rekan mahasiswa lain dan para sineas indie pada umumnya. Aspek kepuasan dalam berkarya adalah hal yang diutamakan maka dalam film indie kebebasan ide mutlak menjadi salah satu tuntutan yang harus dipenuhi.
Film indie sebagai sarana ekplorasi pemikiran adalah salah satu solusi untuk mewadahi kreatifitas, khususnya sineas-sineas muda yang masih mencari jati diri, secara eksistensi ataupun karier, dan dengan adanya sarana tersebut maka tidak ada alasan lagi kalau karunia kemampuan berpikir yang dimiliki tidak di ekpslorasi secara maksimal, apalagi kaum muda memang dituntut untuk lebih peka terhadap realita yang berkembang di sekitarnya.
Tentunya kita akan lebih bangga jika karya yang kita buat adalah hasil kerja keras sendiri. Setuju?

Sumber

10 Tips Membuat Film Pendek

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFA3rA6YkFJ1kiNkF-nFA1iQG3u_g1ykz3T3N7en8rHHRjlNx8l1Ve1aPFU91PSMnUQNzcaDOWVop_G8oDeNxUEvWQJTCHVz9gdjXePalHabmTD6al3KK8iuZto4DahOO83ycLoQFM_2c/s1600/shortfilm.jpg 

Film pendek merupakan primadona bagi para pembuat film indepeden. Selain dapat diraih dengan biaya yang relatif lebih murah dari film cerita panjang, film pendek juga memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa. Meski tidak sedikit juga pembuat film yang hanya menganggapnya sebagai sebuah batu loncatan menuju film cerita panjang.

Membuat film kita lebih OK!.
Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dalam membuat film pendek. Dengan mengikuti langkah-langkah yang akan diuraikan ini, maka kita dapat mengurangi beberapa hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Meskipun begitu, ini merupakan saran-saran saja, dan dapat dikembangkan berdasarkan keahlian dan pengalaman. Take a look..


1. Apakah film Anda layak ditonton
Sebelum semuanya dimulai, maka selayaknya kita bertanya: apakah semua orang pasti menonton film yang akan kita buat ?. Jawabnya, No!. Artinya tidak semua orang �pasti� akan menonton film kita. Sebelum menulis skenarionya, mari tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu; mengapa orang harus menonton film yang akan kita buat.


2. Jangan mulai produksi tanpa adanya budget
Film, meskipun sederhana sangat membutuhkan biaya!. Besar biaya memang tidak terbatas, bisa besar bisa kecil. Dengan membuat prakiraan biaya (budget), maka kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan dengan uang yang dimiliki. Produksi tanpa budget menyebabkan rencana-rencana tidak bisa diprediksi. Apalagi jika uang yang tersedia tidak mencukupi, bisa-bisa film yang sedang dikerjakan tidak selesai-selesai.


3. Minta persetujuan pihak-pihak yang terlibat
Sebelum shooting dilakukan, ada baiknya meminta persetujuan tertulis dari pihak-pihak yang terlibat didalam film, seperti aktor/aktris, music director, artwork, sponsor, atau siapa saja yang ingin berkontribusi. Bereskan dulu semua ini!. Karena kalau memintanya saat shooting dimulai, maka �kemangkiran-kemangkiran� dari pihak-pihak tersebut akan terasa sulit dimintakan pertanggung jawabannya. Maka, do it Now!.


4. Buatlah film pendek memang pendek!
Penulis naskah dan/atau sutradara harus bisa memenuhi standar yang menyatakan bahwa sebuah film adalah film pendek. Bertele-tele dalam penyajiannya akan membuat penonton bosan. Jika itu film pendek..maka harus pendek. Meskipun sulit, tapi memang harus begitu. Standar film pendek adalah maksimal berdurasi 30 menit!.


5. Jika memakai aktor yang tidak professional, maka lakukan casting
Tidak lepas kemungkinan film pendek dibintangi oleh aktor/aktris yang tidak professional (amatir). Ini sih wajar-wajar saja. Apalagi mereka (mungkin) tidak dibayar. Tapi untuk memilih karakter-karakter pemain yang sesuai, wajib melakukan pemilihan peran (casting). Jangan memilih orang sembarangan apalagi casting baru akan lakukan beberapa saat menjelang shooting. Berbahaya!.


6. Tata suara sebaik-baiknya
Tata suara yang buruk pada kebanyakan film pendek (meskipun memiliki konsep cerita menarik) menyebabkan tidak nyaman ditonton. Gunakan perangkat pendukung tata suara seperti boom mike untuk mendapatkan hasil yang baik. Kalau gak punya, beli atau pinjam aja


7. Yakin OK saat shooting, jangan mengandalkan post-production
Saat ini semua film kebanyakan dikerjakan dengan kamera digital. Maka tidak sulit untuk memeriksa apakah semua hasil shooting sudah memenuhi sarat atau belum dengan melakukan playback. Periksa semua! frame dialog, tata suara, pencahayaan atau apa saja. Apakah sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan ?. Sangat penting; periksa setelah shooting, bukan pada saat paska produksi.


8. Hindari pemakaian zoom saat shooting
Kameraman yang baik adalah yang bisa mengurangi zooming. Kecuali bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Mendapatkan gambar lebih dekat ke objek sangat baik menggunakan dolly, camera glider, atau lakukan cut and shoot!. 


9. Hindari pemakaian efek yang tidak perlu
Sebuah film pendek banyak mengandalkan efek-efek seperti; memulai film dengan alarm hitungan mundur (ringing alarm clock), transisi yang berlebihan seperti dissolves/wipe, dan credit titles yang panjang. Pikirkan dengan baik, apakah hal-hal ini perlu ditampilkan atau tidak. Pilihan yang sangat bijak jika semua itu tidak terlalu berlebihan. 


10. Hindari shooting malam di luar ruang
Suasana gelap adalah musuh utama kamera (camcorder). Pengambilan gambar diluar ruang pada malam hari sangat membutuhkan cahaya. Apabila tidak menggunakan lighting yang cukup maka hasilnya akan jelek sekali. Meskipun dapat melakukan color correction pada saat editing, tapi sudah pasti dapat menyebabkan noise dan kualitas gambar menjadi drop. Paling baik adalah merubah skenario menjadi suasana siang hari. Tidak akan mengganggu cerita toh?.

Menonton Film Karya Anak Medan


Di tengah banyak perusahaan rumah produksi berslaka nasional gencar memproduksi film-film terbaru, kalangan seniman di Sumatera Utara tak mau ketinggalan. Mereka pun berani terjun di industri ini.    


Penulis: Midian Simatupang 




H Amsyal terlihat sibuk di studio rumah produksi miliknya di Jalan Utama No 1- A Helvetia, Medan, Rabu sore (21/8). Pria bertubuh tambun berdarah Minang ini sedang meyelesaikan pembuatan film terbarunya. "Bulan Juli lalu kita sudah selesai shooting film pendek "Padan". Sekarang sedang tahap edit dan mejelang puasa 2013 kita membuat film iklan TV menyambut Puasa " Ngongesa ", katanya. 

H Amsyal sudah menggeluti dunia perfilman sejak tahun 1982. Awalnya ia masih menjadi pemain di beberapa film produksi televisi Medan. Dua film yang masih diingatnya adalah film "Menuai Badai" yang disiarkan program akhir pekan, TVRI Nasional di Jakarta tahun 2002. Saat itu ia sebagai peran utama. 

Kemudian tahun 2008, ia bermain pada film sinetron  “Anak Siampudan“ sebanyak 14 eposide.
Memiliki pengalaman di perfilman, ia pun mendirikan rumah produksi di bawah bendera PT Widy Production tahun 2007.

 Di perusahan ini, ia merangkul tenaga profesional yang berpengalaman seperti wartawan media cetak, kameranen televisi dan para seniman teater untuk menggarap film. Sejumlah film karyanya adalah, film "Pesona Wisata Langkat“, film Profile ”Kota Medan 314 Tahun“, Film Profil PT Pertamani Medan Grup, VCD “ Sosialisasi Undang Undang Industri dan Perdagangan “, Film Pendek “Padan“. 
Ia melihat perfilman di Sumatera Utara akan semakin berkembang.

 "Saya sangat optimis perfilman di Sumut maju dengan di buktikannya sekarang banyak berdiri Production House di Sumut walaupun selama ini pemerintah tak mendukungnya padahal di Undang-Undang Film sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah," katanya bersemangat. 

Media Identitas

Berkembangnya industri perfilman di Sumatera Utara juga diakui Andi Hutagalung. Menurut pendiri Media Identitas ini, film hasil karya anak Medan kini sudah mendapat sambutan dari masyarakat Sumatera Utara. Ia mencontohkan, film karyanya saat ini malah sudah ditunggu penonton setianya. 

"Sangat di tunggu-tunggu karena kontennya bicara lokal sosial dan melibatkan langsung masyarakat lokal," ujarnya saat disinggung sejauhmana sambutan masyarakat terhadap karyanya.   

Di kalangan insan sineas Medan, nama Andi Hutagalung sudah tak asing lagi didengar. Pria ramah dan murah senyum ini dikenal piawai dalam menggarap film dokumenter. Bukti itu terukur dari tidak sedikit prestasi diperoleh dari berbagai festival film. Film Opera Batak yang digarapnya misalnya, meraih juara pertama di Festival Film Dokumenter di Bali tahun 2011. 

Kemudian juara pertama Lomba Video Dokumenter SOi Indonesia tahun 2010, dan juara pertama Festival Film Kebudayaan Nasional 2012 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Medan. 

Andi mengawali kariernya di industri perfilman dari ikut pelatihan di sebuah lembaga (BMS) di kota Medan. Untuk mendalami dunia perfilman ia rela menjadi relawan liputan video selama dua tahun.
"Dari awal itu saya jadi lebih tertarik untuk mendalaminya terus, coba-coba buat film bersama dengan kawan-kawan di kampus ITM yang akhirnya membuat sebuah komunitas film yg bernama KoFi 52, dan setelah itu kami mendapatkan job kecil-kecilan dari lembaga anak-anak di kota Medan," katanya mengisahkan perjalanan kariernya. 

Seiring berjalannya waktu, ia memutuskan membuka usaha perfilman sendiri dengan mengibarkan bendera Media Identitas pada tahun 2011. Selama terjun di perfilman, sudah tujuh judul film fiksi pendek dan 18 judul film dokumenter dihasilkannya. 

 "Saya mendirikan Media Identitas yang lebih terfokus di dalam bidang spesialis videography yang mengerjakan video profil, video promosi, video report, video klip, film dokumenter dan film fiksi sampai dengan sekarang," pungkasnya. 

Menurut Andi, agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju ke depan, kalangan pelaku industri perfilman harus berani membuat cerita konten lokal, agar bisa sekalian mempromosikan daerah sendiri. "Kerja-kerja seperti ini kita harus bersatu untuk merubah paradikma film lokal, agar lebih dicintai di daerah kita sendiri, kalau bicara keluar juga ini yang sangat dibutuhkan orang luar bisa melihat potensi lokal," tuturnya.

Opique Pictures

Semangat menggarap film lokal tak pernah kendur di pikiran M Taufik Pradana. Meski sudah ratusan judul film dibuat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantaranya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film dokumenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Dalam waktu dekat, Ketua Umum Opique Pictures ini akan memproduksi lagi film indie durasi panjang berjudul “Medan Buzzer”. Garapan film ini bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. 

"Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal," ujarnya.  

Komunitas Opique Pictures terbentuk berawal dari ketika ia masih duduk di kelas dua SMA, dengan teman-temannya iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan pada tahun 2008 lalu dan tanpa sengaja membuat nama produksi Opique Pictures.

 Setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan, menjadi motivasi dasar baginya mendalami dunia sinematografi.

Tak kalah dengan rumah produksi lain, komunitas ini juga banyak menyabet penghargaan dari berbagai ajang festival film diantarnya, Sutradara terbaik versi film dokumenter di Festival Film Anak (FFA) pada tahun 2008, dalam film berjudul “Rumah Kita”, Editor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Impian Anakku”, juara dua film dokumenter FFA pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”. 

"Saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya," terangnya. 

Aron Arts Production


Aron Arts Production juga sedang menggarap film terbarunya. Perusahaan yang didirikan Joey Bangun ini tak lama lagi akan meluncurkan film berjudul "Perlajangen" (Merantau). 

Joy Bangun memang dikenal dengan identitasnya sebagai pembuat film khas budaya Karo. Sudah sepuluh film yang diproduksinya, yakni berjudul Anak Mami, Rondong Durhaka, Jinaka, Melumang La Kepaten, Erpudun La Erpadan, Dalan Robah, Boru Panggoaran, Latersia Juma Peranin, dan Calon Bupati. 

Yang memotivasi dirinya terjun di bidang perfilman karena ia ingin merealisikan imajinasi pikiran pada kearifan lokal yang ada di Sumut.
Ia memulai profesinya di dunia film sejak tahun 2005. Saat itu ia dikontrak sebagai Asisten Sutradara oleh sebuah production house di Jakarta untuk memproduksi sinetron Bawang Merah Bawang Putih. 

Besarnya cinta pada dunia perfilman mendorongnya untuk mendirikan usaha sendiri. Tahap awal dilakukannya adalah mencoba menawarkan ke produser lokal untuk menggarap video klip daerah. 

"Setelah dia (produser lokal) puas, saya menawarkannya untuk membuat film. Pelan-pelan beberapa produser mulai menghubungi saya dan saya bisa membuat lebih banyak film," katanya mengisahkan. 

Melihat peluang bisnis di perfilman cukup menjanjikan, ia akhirnya mendirikan Aron Arts Production. Hasilnya pun tak sia-sia, karya filmnya laku keras. "Sangat menguntungkan. Film saya paling sedikit laku sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu keping,".

Menurutnya, film mengisahkan kehidupan sosial masyarakat pasti laku di pasaran karena televisi nasional hanya menggambarkan secara nasional saja. "Film-film seperti akan semakin maju, apresiasi sangat mendukung, hanya orang-orang kreatifnya yang masih kurang," paparnya.

Daniel Irawan
Pengamat perfilman Medan, Daniel Irawan, melihat fenomena banyak seniman Medan memproduksi film beberapa tahun belakangan ini merupakan tanda positif industri perfilman di Medan sedang bangkit. Hanya, kalangan perfilman harus mampu meningkatkan kualitas dari satu produksi ke produksi lainnya karena kebanyakan masih menyisakan semangat yang luarbiasa besar, tapi belum kualitas hasil yang layak terutama film-film indie.   

Bagi kolektor film ini, perkembangan film-film dokumenter lebig bagus ketimbang fiksi karena masih stuck di satu genre tanpa mau mencoba berkembang ke genre lain. "Kalaupun ada hanya satu-dua. Selebihnya melulu hanya drama," terangnya.

Menurut Daniel, agar usaha industri perfilman di Medan bisa menjanjikan, perlu lebih banyak diadakan workshop-workshop penguasaan teknis karena film adalah sebuah karya visual yang padu, bukan hanya sekedar rekaman gambar tanpa arah. 

"Itu yang masih sering terjadi di film-film indie kita. Bahkan, film daerah juga masih sering berhadapan dengan masalah yang sama. Kualitasnya tak meningkat dan pembuatnya terlena dengan hasil penjualan yang kenyataannya cukup tinggi," paparnya.

Daniel Irawan dikenal kalangan perfilman di Medan sejak menjadi penulis review film di sebuah harian di Medan sejak tahun 1997. Lama kelamaan, hobinya ini berkembang ke aktifitas blogging. Ia banyak menulis tentang film di blognya (danieldokter.wordpress.com) dan akun twitter @danieldokter. 

Tujuannya, agar lebih menjangkau pembaca dan networking yang lebih luas ke orang-orang dalam industri perfilman, tentunya memiliki pandangan yang sama.

Aktif menulis tentang film di blognya, dilirik beberapa media nasional menjadi penulis. Pengetahuannya yang banyak tentang perfilman memberi peluang menjadi juri di beberapa festival film. Bahkan, di industri film nasional, ia dipakai sebagai konsultan skrip atau produksi, salah satunya film ‘Finding Srimulat’. 

Tak hanya sebagai pengamat dan penulis, pada tahun 2002 ia bersama rekan-rekan yang juga punya passion yang sama membuat film indie berjudul ‘Hacker’ untuk sebuah festival film indie di TV swasta. Lantas di tahun 2005 membuat film ‘Lifeline’ dan sebuah short parody yang akhirnya memenangkan kompetisi ‘Shoot It and Spoof It’ di MTV Movie Awards, LA. 

"Baru-baru ini saya juga membuat film indie ‘Untuk Ibu’ buat sebuah festival film indie selain terlibat di beberapa film indie yang dibuat oleh komunitas film indie di Medan  dan Oktober nanti diundang sebagai film journalist dalam event Tokyo International Film Festival di Jepang," paparnya.
sumber