ILLUMINATI LEWAT FILM ANAK


Mengapa Illuminati menyisipkan unsur-unsur Illuminati dalam film-film kartun? sedangkan yang menonton film-film kartun adalah anak-anak kecil. sebenarnya Freemason ingin menghancurkan Aqidah-aqidah anak-anak umat Islam yang merupakan bibit-bibit Tentara Allah yang nantinya akan menghancurkan Yahudi.
Yahudi takut kepada Umat Islam !


Berikut contoh dari kartun/film yang disisipi unsur,lambang,cerita dan konspirasi Illuminati. Apa pengaruhnya buat yang nonton kalo mereka memasukkan lambang mereka? Jawabannya ya,mereka me 'mind control' dari alam bawah sadar kita jadi secara tidak langsung dan juga untuk membiasakan kita dengan 'mata satu' jika pada saat kedatangannya kita udah terbiasa.

Contoh-contohnya



Liat di huruf M dan Mike Mazowski mata satu



Perhatiin kanan atas







Checquered Floor dan All Seing Eye



Liat yg ditandain



lihat skateboardnya .



Dan dari tulisan Walt Disney di samping tersirat angka 666, do u see it?

biar lebih jelas liat gambar dibawah ini ..


Sasuke dalam kartun Naruto




kalau anda perhatikan lebih jelas... jadi seperti ini nih:





Dalam Film "Despicable Me" yang 100% isinya Konspirasi Illuminati


FREEMASON MENGHANCURKAN LEWAT MEDIA TV!

Film Animasi "Illuminati" 2013


Despicable Me adalah film animasi dari Amerika Serikat yang menceritakan tentang Penjahat super bernama Gru yang tidak menyukai anak - anak dan berusaha mengalahkan vektor, penjahat super lain yang telah berhasil mencuri piramida Giza. Film ini merupakan film CGI pertama yang diproduksi oleh Universal Pictures bekerja sama dengan Illumination Entertainment.

Ilumination Entertainment adalah sebuah perusahaan produksi film Amerika, yang didirikan oleh Chris Meledandri pada tahun 2007. Ini memiliki pembiayaan eksklusif dan kemitraan distribusi dengan Universal Studios dan berbasis di Santa Monica, California . Perusahaan ini terkenal untuk tahun 2010 film animasi Despicable Me yang, yang merupakan film pertama oleh perusahaan. Perusahaan ini sedang mengerjakan sekuelnya, Despicable Me 2 (2013), dan di spin-off nya Minion (2014)

Banyak tanda One Eye yang lebih dan semakin jelas difilm ini




dan yang lebih menggenjarkan mereka bekerja sama dengan Mc Donald





yang mengkhawatirkan adalah banyak masyarakat yang antri dan berbondong ke McDonalds hanya sekedar mendapatkan hadiah mainan minions, minions adalah sejenis makhluk warna kuning yang bersuara – suara imut. sangat mencuri perhatian.




Jenis-Jenis Shot, Sudut, dan Gerakan Kamera



CU (Close Up)
Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
MCU (Medium Close Up)
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.
MS (Medium Shot)
Shot yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
TS (Total Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
ES (Establish Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
Two Shot
Shot yang menampilkan dua orang.
OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
 

SUDUT PENGAMBILAN KAMERA
High Angle (Bird eye view)
Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
Normal Angle
Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
Low Angle (Frog eye view)
Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
Obyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
Subyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.
 

GERAKAN KAMERA
Panning
Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
Pan right : gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan.
Pan left : gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.
Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.
Tilt up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas.
Tilt down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.
Tracking
Track adalah gerakan kamera mendekati atau menjauhi obyek.
Track in : gerak kamera mendekati obyek
Track out : gerak kamera menjauhi obyek

Sumber

Editing

 old-video-camera.jpg
Sejarah Editing
Pada saat lumiere mulai membuat film, editing belum menjadi bagian dari proses pembuatan film. Karena pada saat itu film-film lumiere hanya terdiri dari satu buah shot (single shot) dengan panjang durasi yang sama dengan kejadian sesungguhnya (real time). Tidak ada manipulasi waktu.
Melies adalah orang pertama yang membuat film dengan melalui proses editing. Editing yang dilakukannya masih sangat sederhana. Film pertamanya yang menggambarkan perjalanan orang ke bulan (a trip to the moon) hanya menggunakan editing untuk kesinambungan bercerita (cutting to continuity). Melies melakukan editing untuk menyambung tiap2 adegan yang hanya terdiri dari satu shot untuk tiap adegannya (sequence shot).
Le Voyage Dans la Lune – A Trip to the Moon (1902)
Dari sini bisa kita simpulkan bahwa editing terjadi apabila terjadi proses pemotongan dari banyak shot.
Seiring dengan perkembangan jaman, editing juga mengalami perubahan. Sebuah film tidak lagi terdiri dari satu shot untuk tiap adegannya. Kita juga kemudian mengenal adanya tipe shot. Sehingga editing memegang peranan yang cukup penting dalam pembuatan dalam sebuah film.
Dengan adanya editing, kita akhirnya mengenal adanya film time, waktu yang terjadi dalam film. Editing dapat melakukan manipulasi waktu dalam film. Sehingga waktu yang diciptakan bisa menjadi lebih singkat, atau malah sebaliknya menjadi lebih lambat. Sebagai contoh, sebuah kejadian 10 tahun bisa diceritakan hanya dalam waktu 10 menit. Begitu juga waktu yang hanya 10 menit, bisa diceritakan menjadi 1 jam.
Meskipun tahapan editing dikerjakan oleh editor dan dilakukan setelah proses pengambilan gambar, pemikiran editing (editorial thinking) sudah harus dilakukan oleh semua tim kreatif jauh sebelum pengambilan gambar dimulai. Sehingga ketika semuanya sudah masuk ke meja editing menjadi materi yang siap untuk diedit.

Pengertian Editing
Editing adalah proses penyambungan gambar dari banyak shot tunggal sehingga menjadi kesatuan cerita yang utuh.
Editor menyusun shot-shot tersebut sehingga menjadi sebuah scene, kemudian dari penyusunan scene-scene tersebut akan tercipta sequence sehingga pada akhirnya akan tercipta sebuah film yang utuh. Ibarat menulis sebuah cerita, sebuah shot bisa dikatakan sebuah kata, scene adalah kalimat, sequence adalah paragraph. Sebuah cerita akan utuh bilah terdapat semua unsur tersebut, begitu juga dengan film.
Seorang editor harus tahu bagaimana bertutur cerita yang baik. Dia bertanggung jawab dalam pengerjaan akhir sebuah film. Tanpa proses editing yang baik, sebuah produksi yang telah mengorbankan uang dan tenaga menjadi sia-sia. Memang benar, seorang editor hanya bisa menghasilkan film yang baik, sebaik materi yang dia terima. Hanya saja, seorang editor yang baik dan kreatif mampu menutupi semua kekurangan yang dialami ketika proses pengambilan gambar. Sehingga penonton tidak pernah tahu dimana letak ketidaksempurnaan itu.
videoediting.jpg
Seorang editor dituntut untuk membuat keputusan setiap saat. Dia menentukan shot mana yang akan dipakai, berapa lama shot itu akan dipakai, kapan sebuah shot harus dipotong, bagaimana urutan shot yang disusun, dan sebagainya. Sebuah awal adegan bisa saja dimulai dengan Establish Shot sebuah tempat kejadian, tapi bisa juga dimulai dengan Close Up aktor. Sebuah materi yang sama bisa menghasilkan banyak kemungkinan. Apalagi dikerjakan oleh editor yang berbeda. Jangan ragu untuk bereksperimen dalam menyusun shot-shot tersebut.
Untuk membantu menentukan keputusan-keputusan tersebut, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Antara lain:
a. fungsional, menentukan sebuah shot berdasarkan fungsinya.
Sebuah shot lebar (Wide Shot) mempunyai fungsi yang berbeda dengan shot padat (Close Shot). Untuk menekankan sesuatu biasanya digunakan shot padat.
b. proposional, menempatkan sebuah shot sesuai dengan proporsinya.
Panjang pendek sebuah shot haruslah proposional. Begitu juga dengan penentuan titik potong (cutting point) dari sebuah shot. Penempatan shot yang terlalu panjang akan membuat penonton menjadi bosan, meskipun shot itu sangatlah baik. Begitu juga dengan penempatan shot yang terlalu pendek akan membuat penonton tidak menangkap pesan yang ingin disampaikan.
c. struktural, menentukan struktur susunan shot yang dibuat.
Struktur editing tidaklah harus berurutan dari a sampai z. Bisa saja strukturnya dimulai dari b-c-a-g-d dan seterusnya. Ini juga dikenal sebagai juxtaposition.
Pertimbangan ketiga hal diatas agar tujuan dari pesan yang ingin kita sampaikan bisa tercapai dengan baik.
TIPS
Posisikan diri kita sebagai penonton setelah kita selesai mengedit sebagian atau seluruh film kita. Tanyakan pada diri kita apakah pesan yang ingin disampaikan bisa diterima atau tidak. Mintalah bantua orang lain untuk menonton hasil kita untuk membantu mengurangi penilaian kita yang terlalu subyektif. Tanyakan juga kepada mereka apakah pesan yang mereka terima, apakah sudah sama dengan pesan yang ingin kita sampaikan
Editing berdasarkan media rekamnya
1. editing dengan media seluloid
editing dengan media seluloid secara fisik memotong dan menyambung pita seloluid. Biasanya menggunakan alat editing dengan merk STEINBECK dan MOVIOLA.
2. edting dengan media video
editing dengan melakukan proses copy dari satu pita video ke pita video yang lain. Menggunakan minimal dua alat yang berfungsi sebagai pemutar dan perekam (VTR, Video Tape Recorder). Editing seperti ini juga dikenal sebagai editing Deck to Deck atau Tape to Tape.
Karena menggunakan alat analog, kemungkinan terjadinya penurunan kualitas sangatlah besar. Selain itu, kemungkinan pita tergores (scratch) juga besar dikarenakan terlalu seringnya pita kita diputar.
studio-pic.jpg
Saat ini hampir semua proses editing dilakukan dengan menggunakan komputer. Semua materi terlebih dahulu ditransfer (capture/digitize) ke dalam komputer, baru kemudian dilakukan proses editing. Untuk ini diperlukan seperangkat komputer multimedia dengan video capture card (firewire card apabila menggunakan video digital) dan software editing. Saat ini banyak sekali software editing yang beredar di pasaran. Yang paling sering digunakan dalam dunia profesional untuk Digital Video (DV) adalah AVID XpressPro®, Adobe Premiere Pro® dan Final Cut Pro®.
Dalam pengerjaannya, editing dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Linear Editing
Editing dengan menyusun gambar satu per satu secara berurutan dari awal hingga akhir (seperti membentuk sebuah garis lurus tanpa putus). Sehingga seandainya terjadi kesalahan dalam menyusun gambar, kita harus mengulang kembali proses editing yang telah kita lakukan.
Editing dengan proses seperti ini biasanya dilakukan dengan media video.
ppistudio1104b.jpg
2. Non-Linear Editing (NLE)
Editing dengan menyusun gambar secara acak (tidak berurutan). Dengan editng seperti ini, kita tidak lagi harus memulai editing dari awal dan berurutan hingga akhir. Kita bisa saja memulainya dari tengah, akhir, atau darimana pun. Tergantung dari materi mana yang telah siap terlebih dahulu. Dengan editing ini juga, memungkinkan kita untuk merubah susunan dan panjang gambar yang telah kita buat sebelumnya.
Editing dengan proses seperti ini hanya mungkin dilakukan pada media seluloid dan tekhnologi digital (komputer). Karena editing dengan media film sudah sangat jarang digunakan dan pemakaian komputer untuk editing semakin sering kita temui, maka Non Linear Editing identik dengan Digital Video Editing.
Editing yang akan kita gunakan adalah Non-Linear Editing

Editing Dokumenter
Secara Garis Besar, jenis film terbagi menjadi 2, yaitu fiksi (cerita) dan non-fiksi (dokumenter). Dalam pengerjaannya, khususnya di bidang editing, tiap-tiap film membutuhkan penanganan khusus. Sebuah film cerita lebih menekankan pada pengembangan plot cerita, sedang dokumenter lebih menekankan pada pemaparan sebuah tema.
Produksi film cerita biasanya jauh lebih bisa dikontrol daripada dokumenter. Skenario yang telah dibuat kemudian dipecah menjadi gambar-gambar yang siap di rekam (director shot/shot list). Kemudian semua kru mempersiapkan adegan yang akan direkam. Penataan kamera, lampu, warna, pemain dan sebagainya disiapkan untuk menerjemahkan skenario yang ada menjadi gambar (footage) yang siap diedit. Setelah itu editor bertugas menggabung potongan-potongan shot tersebut menjadi satu kesatuan cerita yang utuh sesuai dengan skenario yang telah dibuat.
Dokumenter secara umum bekerja dengan cara yang berlawanan. Tidak ada pemain disini, hanya subyek yang diikuti oleh pembuat film. Orang-orang sungguhan yang berada dalam suasana sungguhan, melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Penempatan kamera dan lampu hendaknya bukan menjadi hal yang menonjol. Peristiwa yang terjadi di depan kita tidak memungkinkan untuk kita melakukan itu. Peran sutradara menjadi tidak besar. Film dokumenter dibentuk di dalam editing. Ini menjadikan editor memiliki fungsi yang sangat penting dalam menyelesaikan pembuatan film dokumenter. Fungsi ini memberi kebebasan lebih bagi seorang editor dokumenter. Hanya saja yang perlu diingat adalah, dengan kebebasan juga tertadapat tanggung jawab yang besar.

Tahapan Editing
Film Fiksi
Keterangan:
Logging: Mencatat dan memilih gambar yang akan kita pilih berdasarkan timecode yang ada dalam masing-masing kaset.
NG Cutting: Memisahkan shot-shot yang tidak baik (NG/Not Good)
Capture / Digitize: Proses memindahkan gambar dari kaset ke komputer
Assembly: Menyusun gambar sesuai dengan skenario
Rough Cut: Hasil edit sementara. Sangat dimungkinkan terjadinya perubahan.
Fine Cut: Hasil edit akhir. Setelah mencapai tahapan ini, susunan gambar sudah tidak bisa lagi berubah.
Visual Graphic: Penambahan unsur-unsur graphic dalam film. Seperti teks, animasi, color grading, dsb.
Sound Editing/Mixing: Proses editing dan penggabungan suara. Suara meliputi Dialog, Musik dan Efek Suara
Married Print: Proses penggabungan suara dan gambar yang tadinya terpisah menjadi satu kesatuan.
Master Edit: Hasil akhir film.
Film Dokumenter
Tidak seperti film fiksi yang memiliki skenario, seperti yang disebut diatas, film dokumenter baru bisa dibentuk di editing. Untuk itu seorang editor bersama sutradara dan penulis skenario diharuskan menonton semua hasil shooting. Setelah itu kita bisa memulai editing di atas kertas, menentukan bentuk yang kita inginkan. Sementara kita melakukan ini, proses capture / digitize bisa dilakukan.

Istilah Tekhnis Editing
Metode Editing
Terbagi menjadi 2, yaitu CUT dan TRANSISI
• Cut
Proses pemotongan gambar secara langsung tanpa adanya manipulasi gambar
• Transisi
Proses pemotongan gambar dengan menggunakan transisi perpindahan gambar
Optical Effect secara garis besar terbagi menjadi 3, al:
1. wipe, perpindahan gambar dengan menggeser gambar lainnya.
Wipe meliputi banyak transisi, antara lain wipe, slide, dll.
2. fade, gambar secara perlahan muncul atau menghilang.
Fade meliputi fade in, fade out dan dissolve
3. super impose, dua gambar atau lebih yang muncul menumpuk dalam satu frame.
Dengan adanya tekhnologi komputer, transisi tidak lagi didasari oleh perpindahan gambar. Kita bisa menggunakan transisi berdasar elemen/bagian dari gambar, baru kemudian disambung dengan bagian lain dari gambar tersebut sampai gambar tersebut menjadi utuh.

TIPS
Pergunakan transisi sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Penggunaan transisi secara berlebihan dan tidak tepat akan memberi kesan yang tidak baik bagi film kita.
Cut terbagi menjadi 2, al:
1. Match Cut, penggabungan 2 shot yang saling berkesinambungan
2. Cut Away, Penggabungan 2 shot yang sama sekali berbeda
Dalam film fiksi, match cut secara mutlak wajib dilakukan. Match cut memungkinkan sebuah film yang terdiri dari banyak shot yang terpotong-potong, seolah-olah bagaikan rangkaian gambar yang mengalir tanpa terasa adanya potongan.
Hal-hal yang harus diperhatikan agar terciptanya match cut:
1. matching the look
menyamakan arah pandang tiap2 subyek pada tiap2 gambar yang disambung.
2. matching the position
menyamakan letak/posisi obyek pada tiap2 gambar yang disambung.
3. matching the movement
menyamakan arah gerak subyek pada tiap2 gambar yang disambung.
Apabila kita mengabaikan ketiga hal diatas, maka akan terasa ada loncatan (jumping) dalam penggabungan gambar yang kita lakukan. Dengan memperhatikan match cut, maka akan tercipta adanya Continuity Editing.
Dalam film dokumenter, karena penanganannya berbeda dengan film fiksi seperti yang sudah di atas, continuity editing tidaklah mutlak dilakukan. Fungsi editing dalam dokumenter lebih mengarah ke cutting to continuity, editing dilakukan untuk kesinambungan bercerita, bukan kesinambungan antar shot.

Sumber

Menjadi Sutradara



Bagaimana Menjadi Seorang Sutradara ?

Gak ada kata yang pas menjawab pertanyaan di atas. Paling gampang untuk menjadi 
seorang sutradara adalah: ambil kamera (baca: camcorder), and starting to direct!.
Yuhuu.., you’re a director!.. kamu sudah jadi sutradara�.

Apa segampang itu?. Ya! Kalau maunya cuma segitu. Tapi maksud kamu pasti
bukan yang sederhana seperti itu. Ya kan?. Maka judul diatas mari kita
ganti menjadi Bagaimana Menjadi Sutradara Profesional atau “how do I become
a professional, paid film director ?”.

APA SEBENARNYA YANG DILAKUKAN SEORANG SUTRADARA?

Banyak orang gak tau apa sebenarnya yang dilakukan seorang sutradara film. Tapi kalau
kita harus strictly to the point, maka seorang sutradara adalah orang yang bertanggung
jawab atas layaknya sebuah film untuk dilihat, layaknya suara-suara yang diperdengarkan
dan layaknya aktor memerankan adegan.
Seorang sutradara adalah orang yang selalu berada di lokasi set. Dialah yang berperan
penting dalam hampir semua aspek pembuatan film. Mulai dari menyetujui model kostum
yang dipakai, audisi para pemeran (casting), menentukan sudut pengambilan gambar
(camera angle), menciptakan nuansa dan atmosfir adegan, menentukan gaya penampilan
pemeran, dan segala macam kreatifitas-kreatifitas yang harus ditampilkan oleh sebuah film.
Tapi ini bukan berarti bahwa seorang sutradara mengerjakannya sendiri. Dia harus bisa
memimpin sebuah departemen produksi untuk bersama-sama melakukannya, seperti
kameraman, petugas lighting, juru rias, petugas dekor, dll.
Seorang sutradara professional harus bisa membuat ide-ide kreatif bersama seluruh pimpinan
produksi. Mereka harus berkolaborasi!. Mengapa? Karena masing-masing pimpinan produksi
pastilah memiliki keahlian masing-masing. Sehingga masukan ide kreatif dari masing-masing
ahli itu akan sangat membantu untuk menciptakan film yang baik. Biasanya seorang sutradara
selalu didampingi penulis naskah pada saat proyek film akan dimulai. Selanjutnya bersama
editor dan pe�ata musik pada proses akhir. Itulah sebabnya mengapa seorang sutradara harus
bekerja mulai dari awal sampai akhir�
Dalam beberapa kondisi seorang sutradara kadang-kadang juga sebagai produser atau penulis
naskah. Tapi umumnya seorang sutradara rada ogah menjadi kameraman. Karena sutradara
harus lebih fokus pada pengaturan adegan. Masalah pengambilan gambar akan lebih baik
dipercayakan kepada DOP (Director of Photography) yang bertanggung jawab pada
kamera dan lighting. Karena pada dasarnya kameraman gak penting-penting amat
memperhatikan penampilan actor. Mereka lebih fokus bagaimana menciptakan gambar-gambar
yang bagus dan layak ditonton pemirsa.
Berbeda dengan sutradara film independent, maka biasanya sutradara akan merangkap
beberapa jabatan didalam proyek film. Bisa saja dia sebagai produser, penulis naskah,
kameraman, dan penyandang dana. Bahkan kadangkala dia pun bisa sebagai editor.
Ada dua cara kehidupan seorang sutradara dalam bekerja. Mereka bekerja sebagai sutradara
lepas (freelance) yakni direkrut oleh berbagai produser atau perusahaan produksi film untuk
menangani proyek film, atau mereka bekerja pada sebuah production house sebagai karyawan.
Pilihan kedua biasanya lebih disukai karena pendapatan seorang sutradara akan lebih stabil.
Tapi, pilihan mana pun yang dijalani, mentalitas sebagai seorang sutradara professional adalah
hal yang utama.

Membuat Skenario

Skenario adalah unsur yang paling penting dalam sebuah produksi film (televisi) karena merupakan unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan untuk membuat film. Dengan sebuah skenario yang baik, sebuah film telah selesai dibuat dalam bentuk tertulis.


 
Cerita Dasar
Sebelum membuat skenario, kita harus tahu apa yang akan kita tulis. Jangan tergesa untuk segera menuliskan adegan pertama. Yang pertama kita butuhkan adalah cerita dasar (basic story), sebuah penjelasan tentang siapa, kapan, kenapa, dimana dan bagaimana dari hal yang ingin kita buat skenarionya. Cerita dasar, boleh juga kita  istilahkan sebagai sinopsis umum atau sinopsis global.
 
Karakter
Dalam skenario yang akan kita buat, akan muncul tokoh-tokoh. Kita harus membuat dan mengenalinya lebih dalam. Gunanya banyak. Kita akan tahu bagaimana tokoh tersebut berdialog, berpikir dan bertindak. Kita akan tahu bagaimana si tokoh akan memecahkan masalah. Juga bagaimana koflik antara satu tokoh dengan tokoh lain.
Pada tahap pencarian pemain (casting), penjelasan karakter juga sangat membantu untuk menemukan pemain yang cocok untuk memerankan tokoh yang dibuat. Selanjutnya, bagi pemain itu sendiri akan lebih mudah untuk memahami karakter tokoh yang harus dimainkannya.
Untuk mengembangkan karakter tokoh, kita bisa melakukannya dengan memberikan data mengenai : nama lengkap dan panggilan, agama, umur, hubungan keluarga dan pertemanan, kegemaran (ilmu pengetahuan, film, musik, olahraga, bacaan, makanan), ciri-ciri fisik, intelejensia, gaya busana, cara berbicara, sifat, tempat tinggal, dan lain-lain.
 
Set / Lokasi
Untuk membuat adegan, kita harus menentukan set dan lokasi (tempat adegan berlangsung) terlebih dahulu. Ini akan memudahkan kita untuk menentukan adegan. Sedang apa, posisinya dimana, dari mana, menuju kemana, melihat apa atau memandang ke arah mana.
Tempat kejadian berlangsung itu bisa berupa set yang dibangun di studio, misalnya ruang-ruang dalam rumah seperti teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar, dapur atau kita menggunakan bagian dari bangunan rumah yang sebenarnya. Yang dimaksud set tidak selalu harus rumah, tapi juga jalan atau tempat lain.
Penjelasan set ini, selain berguna bagi kita ketika membuat skenario, juga berguna sebagai petunjuk bagi set builder untuk membangun set di studio atau bagi unit produksi untuk mencarikan bagunan yang akan dijadikan sebagai set yang sesuai dengan tuntutan skenario.
 
Sinopsis
Sebelum menulis skenario, kita harus pastikan cerita yang akan diskenariokan. Jangan sampai mereka-reka cerita ketika skenarionya dibuat. Cerita tersebut kita bisa buat secara ringkas, namun memuat unsur-unsur tokoh, waktu dan tempat kejadian, permasalahan, perkembangan masalah dan penyelesaiannya. Itulah sinopsis.
 
Alur Cerita (storyline)
Apabila sinopsis yang sudah kita buat akan dikembangkan menjadi skenario untuk tayangan televisi dengan durasi 24 menit, kita uraikan lagi sinopsis itu menjadi sebuah alur cerita (storyline) yang terbagi menjadi 4 babak (ACT) dengan perhitungan bahwa dalam penayangannya akan diselingi jeda iklan sebanyak 3 kali.
Tujuan dari pembuatan alur cerita ini adalah untuk menciptakan perkembangan persoalan dan unsur dramatik yang bisa selesai dalam satu fase di setiap babaknya sehingga penggalan iklan menjadi tidak terlalu mengganggu dan menciptakan adegan di bagian akhir yang membuat penonton ingin tahu kelanjutannya.

Sumber

Membuat Film Itu Tidak Harus Mahal


film








Pengertian membuat film bagi sebagian banyak orang awam termasuk sesuatu yang mahal, itu merupakan anggapan salah dan masih dibawa sampai sekarang. Jika anggapan tersebut di masa 20 atau 30 tahun yang lalu ya wajar dan bisa dimaklumi bahwa untuk membuat film dibutuhkan modal gede dengan kru yang bejibun seperti dipasar serta ribet dalam memasarkan atau minimal mempertontonkan pada orang lain.
Pada saat ini teknologi dan informasi sudah berkembang semakin modern sehingga memudahkan pengguna dalam melakukan pekerjaannya termasuk pada bidang sinematografi. Sebagai contoh jika ingin merekam gambar jaman dulu harus menggunakan kamera sebesar koper untuk mendapatkan kualitas bagus, tapi sekarang itu bukan menjadi patokan lagi. Kamera semi pro dan profesional sekarang sudah berukuran kecil hingga tidak membuat pegal pundak dan tangan selama dipergunakan serta mudah dibawa dalam kondisi apapun.
Nah seringkali ada komentar-komentar menggelitik bikin geli seperti dibawah ini;
  • “Kok pakai kamera video yang kecil mas? Kan bagus kamera gede yang dipanggul itu. Nanti kalau hasilnya jelek gimana hayo?” (busyet Sony DSR PD177 dibilang kamera video abal-abal)
  • “Kamera videonya ini gambarnya bisa bagus ngga’ pak? Soalnya bentuknya kek handycam gitu.” ( Panasonic AG-DVX100 dibilang seperti handycam…parah kuadrat sodara-sodara!)
Gambaran seperti diatas menunjukkan orang masih melihat secara fisik saja tanpa mau tau kemampuannya seperti apa.
Baiklah sekarang kembali lagi ke topik membuat film itu tidak harus mahal. Anda bisa merekam obyek dengan “hanya” menggunakan mini camcorder (handycam) bahkan telefon seluler (yang tentunya ada perangkat kamera-nya). Hah! bikin film pakai handphone?? Nanti aja bahasnya ya :D
Dengan menggunakan perangkat tersebut yang tidak terlalu memerlukan modal besar, seseorang akan dapat membuat film. Pengertian membuat film disini adalah film sederhana yang mempunyai alur (bukan asal rekam sana-sini).
Mengenai kru yang dibutuhkan dalam membuat film pun tidak perlu banyak-banyak, sebagai contoh penulis naskah, juru kamera, dan sutradara bisa dipegang oleh satu orang. Untuk bagian lain bisa disesuaikan dengan kebutuhan selama pengambilan gambar, yang jelas memakai cara minimalis dan yang penting bisa dikerjakan dengan kerjasama tim secara baik.
Pengerjaan pada pasca produksi pun juga dibuat minimalis juga, soal musik latar untuk kebutuhan editing juga bisa dicari dan didapatkan dengan mudah di internet jika memang tidak ada yang punya kemampuan untuk membuat musik sendiri. Musik dan efek dengan lisensi gratis ada banyak jika mau mencarinya, biasanya yang diminta hanya mencantumkan nama pencipta musiknya tersebut dengan tautan ke situs pribadinya di bagian akhir film. Setelah film tersebut jadi bisa dicetak dalam bentuk cakram digital (DVD) dan diunggah (upload) di situs video streaming seperti YouTube, Vimeo, dan yang sejenis itu.
Ini bukan cuma teori, tapi udah benar-benar dipraktekkan. Jadi ya kalau ingin buat film bikin saja, jangan ragu dan berkecil hati bahkan minder menggunakan kelengkapan produksi secara minimalis.
Oh iya, tentang telefon genggam yang dipakai untuk produksi film tadi memang benar, film berjudul OLIVE yang di-sutradarai oleh Hooman Khalili dan dibintangi Gena Rowlands (aktris yang 2 kali masuk nominasi OSCAR) ini dalam produksinya menggunakan kamera Smartphone NOKIA N8 serta lens-adapter 35mm. Mau lihat hasilnya seperti apa? Dibawah ini ada 2 video hasil jadi serta selama pembuatan film tersebut. Silakan disimpulkan sendiri setelah melihat video tersebut.



Sumber