7 Film yang Mengacaukan Fakta di Dunia

1. 10,000 B.C.

 Yang pertama 10.000 B.C. Sutradara Roland Emmerich itu emang suka mainin fakta kali ya (misal: mengirimkan virus komputer lewat Macintosh untuk membunuh alien di film Independence Day). Jadi dengan sangat berat hati kami menginformasikan bahwa para mammoth bukanlah alat untuk membuat piramid. Lagian, mammoth nggak hidup di padang pasir. Buat apa rambut tebal kalau harus tinggal di tempat begituan? Dan… jaman begono belum ada piramid, seenggaknya sampai 2.500 SM atau lebih.

2. Gladiator

Kaisar Commodus sama sekali bukan sister-complex seperti yang digambarkan dalam film. Alkoholik yang kejam, benar juga sih, tapi enggak secengeng itu. Dia bahkan mampu memerintah lebih dari satu dekade dan bukan hanya beberapa bulan aja. Dia juga nggak membunuh ayahnya sendiri, Marcus Aurelius, yang aslinya wafat karena penyakit cacar. Dan terakhir, alih-alih dibunuh di arena gladiator, Commodus sebenarnya dieksekusi di kamar mandinya sendiri.

3. 300

Walaupun film ini mengambil latar berdasarkan kejadian nyata yaitu Battle of Thermopylae, film ini kebablasan dalam berkreasi dengan stylenya. Yang paling keliatan adalah si Raja Persia Xerxes nggak setinggi 8 kaki seperti yang digambarkan oleh Cirque du Soleil. Lalu konsul di Sparta hanya boleh diikuti oleh orang yang berusia 60 tahun lebih, dan nggak ada satupun orang seperti Theron yang diperankan oleh Dominic West yang berusia 37 tahun. Dan para pejuang Sparta pergi ke medan perang dengan menggunakan baju besi, bukan hanya celana dalam seksi dari kulit.

4. The Last Samurai

Orang jepang di akhir abad 19 tidak menggunakan tenaga dari luar negeri untuk memodernisasikan militer mereka. Kalaupun iya, kebanyakan adalah orang Perancis, bukan Amerika. Karakter Ken Watanabe diambil dari orang bernama Saigo Takamori yang mati karena melakukan bunuh diri, atau “seppuku,” karena menderita kekalahan dan bukannya mati karena dibredel peluru. Lagian, diragukan sekali bahwa seorang veteran perang pemabuk berusia 40an, bahkan yang punya ramput indah pun, bisa menguasai sumpit dan pedang samurai seahli itu.

5. Apocalypto

Film ini telah berhasil membuat migrain departemen Antropologi. Memang benar suku Maya mengorbankan manusia untuk upacara tapi bukan untuk Kulkulkan, si dewa matahari, dan hanya petinggi-petinggi yang diambil dalam perang saja yang dibunuh. Para penginvasi yang datang pada akhir movie seperti pahlawan kesiangan aja, karena 90% dari penduduk Amerika asli meninggal karena cacar yang ditularkan dari babi Spanyol yang terinfeksi.

6. Memoirs of a Geisha

Kedewasaan geisha, atau “mizuage,” hanyalah sebuah perubahan penampilan, dimana ia merubah tata rambut dan pakaiannya. Proses ini tidak melibatkan geisha jadi lebih intim dengan pelanggannya. Dalam sebuah adegan klimaks dimana Sayuri menyuguhkan tarian megah pada para penonton, settingnya – seperti sepatu berhak, salju buatan, dan lampu-lampu aneh – lebih kelihatan seperti Studio 54 daripada Kyoto sebelum masa perang.

 

7. Braveheart

Mari lupakan sejenak bahwa kilt -semacam rok tradisional Skotlandia- belum digunakan sampai kira-kira 300 tahun setelah William Wallace. Menurut film ini, pesona dari mata biru Wallace saat perang Falkirk sangat powerful, dia berselingkuh dengan istri raja Edward II, yaitu Isabella dari Perancis, dan menghasilkan Edward II dari hubungan itu. Tapi berdasarkan buku-buku sejarah, Isabella baru berumur 3 tahun pada saat perang terjadi, dan Edward II baru lahir 7 tahun setelah kematian Wallace.

5 Film Indonesia yang Sukses mendunia

Fenomena perfilman Indonesia memang saat ini sedang menggairahkan, walaupun banyak film dengan genre dan ‘bumbu’ yang sama saling menyikut demi setali uang dan popularitas di pasaran film Indonesia. Namun akhir-akhir ini dunia perfilman Indonesia kembali dikejutkan dengan sebuah kebanggaan dan prestise secara internasional, ketika sebuah film bergenre laga/action berhasil meledak di pasaran internasional, The Raid, sebuah film yang juga menganggkat olahraga beladiri khas Indonesia. Untuk itu berikut uniknya.com merangkum 5 film karya anak bangsa yang sukses di kancah internasional:

1.    The Raid
 Dunia perfilman Indonesia yang baru saja menghebohkan dunia lewat film the Raid, penayangan perdana di hollywood mendapat sambutan luar biasa dari insan perfilman, bahkan tidak hanya di amerika film tersebut mendapat apresiasi tinggi, di Kanada,Australia yang juga menjadi negara tempat penayangan perdana secara serempak selalu disesaki penonton.
Sebelum beredar di bioskop, ‘the Raid’ yang diproduksi tahun 2011 telah mendulang beragam penghargaan bergengsi di kancah perfilman internasional, seperti  Cadillacs People’s Choice Award,di Toronto international film festival 2011, dan the Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival 2012. ‘The Raid’ juga ikut serta dalam festival film Sundance 2012, dan menjadi salah satu karya yang paling disukai panitia Sundance.
2.    Pintu Terlarang
Gebrakan pada dunia film internasional dilakukan film Indonesia lainnya yakni, pintu terlarang. Sebenarnya film bergenre horor yang dibintangi aktor Fachri Albar ini kurang mendapat apresiasi di Indonesia. Namun film yang dirilis pada tahun 2009 tersebut cukup menerima penghargaan di internasional.
Bahkan ‘Pintu Terlarang’ terpilih dan diputar pada ajang Intenational Film Festival Rotterdam ke 38 pada 21 Januari hingga 1 februari 2009 silam, dan penghargaan cukup membanggakan diraih di Fantastic Film Festival. Dalam festival yang digelar di Korea Selatan 16 hingga 26 Juli tersebut, ‘Pintu Terlarang’ mendapat penghargaan Best of Puchon atau salah satu kategori film terbaik.
Selain Fachri Albar, film ini melibatkan artis ternama lainnya seperti Marsha Timothy, Ario Bayu, Tio Pakusadewo, dan Henidar Amroe, cerita film ini diadapasi dari novel berjudul sama, karya Sekar Ayu Asmara.
3.    Daun Di atas Bantal
 Film yang kurang diminati di negeri sendiri tapi mendapat apresiasi tinggi di luar negeri juga diterima film daun di atas bantal. Film karya sutradara Garin Nugroho yang diproduksi tahun 1998 ini sempat terhenti pembuatannya akibat krisis ekonomi yang melanda indonesia pada 1987 silam.
Film yang di produksi oleh Christine Hakim tersebut akhirnya diselesaikan di Australia. Film  yang mengisahkan seorang ibu dengan tiga anak jalanan itu selesai berkat adanya bantuan dari pihak ketiga, seperti Hubert Bals Fund, NHK, dan lainnya.
Walaupun penggarapannya sempat terhenti, namun film tersebut dianggap memiliki kualitas sebagai film festival secara penggarapan. Terbukti dengan beberapa penghargaan intenasional yang diraih daun di atas bantal.
Pada ajang asia Pacific Film Festival pada tahun 1998, ‘Daun di Atas Bantal’ dinobatkan sebagai film terbaik,dan Christine Hakim sebagai aktris terbaik. Menjadi unggulan dalam kategori Silver Screen Award Best Asian Feature film pada Singapore International Film Festival pada 1999. Sementara sutradara Garin Nugroho memperoleh Special Jury Prize pada Tokyo International Film festival 1998.
4.    Laskar Pelangi
 Film Indonesia lainnya yang mendapat banyak penghargaan internasional yakni Laskar Pelangi. Film yang diadopsi dari novel laris karya Andrea Hirata dengan judul yang sama juga menjadi salah satu film yang diputar pada festival film international fukuoka 2009 di Jepang.
film yang disutradarai Riri Riza itu juga diputar di barcelona asian film festival 2009 di spanyol,singapore international film festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat.
Bahkan  studio film di negara seperti, Namibia, Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, Amerika, Australia, dan Portugal beramai-ramai menayangkan film tentang mimpi 10 anak di desa terpencil dalam mengenyam pendidikan tersebut.
Setelah rilis pada tahun 2008, ‘Laskar Pelangi’ meraih penghargaan the Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Film for Children dan Young Adults di Hamedan, Iran. Menjadi nominasi film terbaik di Berlin International Film Festival 2009, serta editor terbaik asian film 2009 di Hongkong.
5.    Pasir Berbisik

Film  Indonesia lainnya yang berhasil mencuri perhatian dunia yakni, ‘Pasir Berbisik’. Film yang disutradarai Nan Achnas ini mengambil latar keindangan Gunung Bromo. Selain ketajaman ide cerita, pesona keindahan alam Gunung Bromo membuat film ini memiliki daya tarik luar biasa.
Belum lagi akting dari aktris senior Christine Hakim dengan aktris muda kala itu, Dian Sastro Wardoyo, dinilai pengamat film di tanah air, membuat ‘Pasir Berbisik’ terasa lebih hidup dan enak dinikmati. Totalitas artis papan atas lainnya seperti, Didi Petet, Dik Doang, Slamet Raharjo, Mang Udel, dan Dessy Fitri memperlihatkan film Indonesia juga memiliki kelas tersendiri.
Setelah cukup mendapat perhatian dari insan film di tanah air, ‘Pasir Berbisik’ mampu meraih penghargaan internasional, seperti Best Cinematography Award, Best Sound Award, dan Jury’s Special Award for Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacifik 2001, artis wanita terbaik, Festival Film Asiatique Deauville 2002. Artis wanita terbaik pada Festival Film Antarbangsa Singapura ke-15.

8 film dokumenter yang wajib ditonton




Menonton film tidak harus selalu mengikuti tren box office. Film dokumenter pun banyak yang menarik. Kita bahkan bisa lebih mengenal dunia saat melihat film yang bercerita soal kehidupan nyata.
Bahkan ketika film dokumenter dikemas sangat apik, bukan tak mungkin bisa meraih penghargaan bergengsi seperti Festival Film Cannes misalnya. Ada 8 film dokumenter kelas dunia yang layak tonton.

1. Fahrenheit 9/11 (Michael Moore, AS, 2004)
Opini kritis tentang kebijakan ‘War on Terror’ pada masa Presiden Bush dan cara media massa memberitakannya. Film ini memenangkan Palm d’Or, penghargaan tertinggi Festival Film Cannes ke-57 (2004). Jarang sekali ada film dokumenter yang bisa memenangkan penghargaan ini.

2. Born into Brothels (Zana Briski & Ross Kauffman, AS, 2004)
Zana, wanita fotografer Amerika, datang ke lokalisasi pekerja seks komersial di Sonagachi, Kolkata, India. Ia mengajari mereka memotret dan menyusun film ini dari banyak potongan kehidupan sehari-hari para penghuni lokalisasi.

3. March of the Penguins (Luc Jacquet, Prancis, 2005)
Pengamatan selama setahun tentang migrasi kelompok penguin di Antartika, dengan narasi para aktor terkenal. Film ini membuka diskusi yang luas tentang konsep keluarga di masa modern.

4. An Inconvenient Truth (Davis Guggenheim, AS, 2006)
Film dokumenter terlaris di AS ini mendokumentasikan kampanye pendidikan lingkungan oleh mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, tentang pemanasan global.

5. Dixie Chicks: Shut Up and Sing (Barbara Kopple & Cecelia Peck, AS, 2006)
Cerita personal tentang kelompok band wanita, Dixie Chicks, yang banyak mendapat masalah di negeri sendiri karena selama di London aktif mengkritik kebijakan perang Presiden Bush di depan publik.

6. Earth (Alastair Fothergill & Mark Linfield, Inggris/Jerman/AS/Jepang , 2007)
Film ini mendokumentasikan perjalanan mengunjungi keragaman habitat hewan liar di berbagai penjuru dunia.

7. Pertaruhan (Jacques Perrin & Jacques Cluzaud, Indonesia, 2008)
Empat film dokumenter pendek tentang kontroversi seputar tubuh wanita di Indonesia.

8. Oceans (Jacques Perrin & Jacques Cluzaud, Perancis, 2010)
Film ini menguak misteri bawah laut. Dunia sempat dikagetkan ketika para hiu dibantai dengan kejam demi kepentingan manusia.

Bonus!

Di Buang Sayang Marjinal


Menceritakan betapa sulitnya komunitas indie dalam memproduksi sebuah film panjang dengan modal produksi sendiri. mulai dari proses reading, produksi hampir setahun,  hingga pemutaran film perdana. dalam film ini kita dapat juga menjadikan hal ini sebagai pembelajaran agar kita lebih mudah dalam membuat sebuah film, terlebih lagi dengan alat yang sederhana.

Sumber

8 Film dengan Durasi Terlama

     

Menonton film memang merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, apalagi bila ditemani oleh pasangan ataupun teman beserta camilan. Menonton film-film action, horror, thriller ala hollywood ataupun film bollywood dan thailand mungkin semua orang sudah biasa.


Film-film tersebut biasanya berdurasi sekitar 1,5 jam hingga 2 jam. Tapi pernahkah anda membayangkan bila menonton sebuah film yang durasinya di batas kewajaran? Disini saya akan memberitahukan anda bahwa 8 film ini durasinya benar-benar tidak benar.
Yuk mari kita simak!
8. Berlin Alexanderplatz
 

Meskipun "Berlin Alexanderplatz" adalah sebuah acara televisi yang memiliki durasi panjang yang ekstrim, itu sebenarnya dapat dkatakan sebuah film, dan merupakan film narasi terpanjang dalam sejarah. Film ini berlangsung selama 15,5 jam yang mengeksploitasi seorang pria bernama Franz Biberkopf dan daerah Berlin - Alexanderplatz - di mana dia hidup.

7. 24 Hours Pysco



Hmmm.. Dari namanya kita sudah tahu bahwa ini sebuah film yang gila yang bener-bener akan membuat kita gila karena durasinya memang 24 jam dengan frame yang diperlambat 2 frame per detik dari durasi aslinya yaitu 109 menit. Dengan perlambatan tersebut film ini benar-benar 24 jam. Beranikah anda menontonya tanpa henti?

6. Four Stars


Film ini merupakan sebuah film eksperimental yang dibuat oleh Andy Warhol yang terdiri dari 83 gulungan film dengan durasi masing-masing sekitar 33 menit dan total keseluruhan durasi sepanjang 25 jam. Film ini mengambil judul "Four Stars" karena para kritikus film biasanya hanya memberikan 4 bintang terhadap film terbaik dalam tinjauan mereka. Film ini juga merupakan salah satu dari sepuluh film terpanjang dalam sejarah dan mengandung seks grafis, gambar kosong, frame putih bersih
 dan ledakan musik yang sangat keras.
5. The Longest Most Meaningless Movie in the World
 
Ironisnya, dan meskipun film ini berdurasi dua hari, “The Longest Most Meaningless Movie in the World” hanya dapat menjadi kandidat ketiga di daftar sepuluh film terpanjang dalam sejarah. Seperti judulnya ternyata film yang benar-benar tidak ada artinya ini merupakan kompilasi yang tak ada habisnya dari iklan, berita, dan cuplikan berita saham tahun 70 an dan kabarnya film ini dulu ingin dibuat tanpa akhir.
4. The Cure for Insomnia
 


Film ini pada dasarnya adalah sebuah eksperimen yang dirancang untuk memprogram ulang jam biologis bagi penderita insomnia agar mereka bisa tidur lagi. L.D. Groban membaca puisi sendiri selama rentang waktu sekitar empat hari dengan panjang 4000 halaman, yang selingi ​​dengan cuplikan saham, adegan porno, dan video heavy metal. Dan ini bener-bener bakal buat anda tertidur lelap karena durasinya yang 3 hari plus 15 jam.
3. Matrjoschka
 
Film ini merupakan sebuah film dibuat dan diproduksi oleh seniman asal Jerman yaitu Karin Hoerler pada tahun 2006 dengan durasi 95 jam. Dalam 95 jam  tersebut kita akan diberikan pengalaman yang mengerikan dari menonton film ini karena kita hanya melihar anak kecil yang sedang bermain sepeda. Film ini terdiri dari gambar dan urutan berdasarkan satu foto. Ini menunjukkan anak laki-laki mengendarai sepeda, jalan, rumah, garasi, dan langit. Seiring waktu, gambar sebenarnya bergerak, tetapi gerakan-gerakan tersebut sangat lambat sehingga tidak terlihat oleh mata kita. Mengerikan bukan?
2. Cinématon
 

Cinématon adalah film eksperimental  dengan durasi sekitar 155 jam yang disutradai oleh sutradara Perancis Gérard Courant. Ini adalah film terpanjang yang pernah dirilis sampai 2011. Terdiri lebih dari 35 tahun dari tahun 1978 sampai tahun 2006, terdiri dari serangkaian lebih dari 2.719 sketsa diam (cinématons), masing-masing 3 menit dan panjang 25 detik,
1. Modern Times Forever 
 

Modern Times Forever (Stora Enso Building, Helsinki) adalah film oleh seniman Denmark 'kelompok Superflex. Saat ini film terpanjang yang pernah dibuat, yang berlangsung 240 jam (10 hari). Sebuah film tentang apa yang akan terjadi pada gedung Stora Enso yang mana sebagai simbol arsitektur dan ideologis, selama beberapa ribu tahun mendatang jika hanya waktu akan mempengaruhi bangunan. Film ini ditampilkan di Helsinki Market Square 2011 pada layar LED 40m2, sehingga orang bisa melihat bangunan aslinya bersamaan dengan bangunan dalam film tersebut. Dalam film gedung berubah sepanjang waktu. Film ini berlangsung sepuluh hari, yaitu pekerjaan berlangsung selama periode pameran tersebut. Periode pameran terus menerus berarti bahwa film bisa ditonton 24 jam sehari selama sepuluh hari.
Film ini Dibuat untuk IHME Contemporary Art Festival.
 

FILM PERTAMA DI DUNIA




Film pertama di dunia dirilis pada tahun 1903. Film tersebut diambil dari kisah nyata mengenai perampokan kereta besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat.
Film ‘The Great Train Robbery’ dibuat berdasarkan kisah perampokan kereta api pengangkut emas di tahun 1896. jalan ceritanya ini ditulis oleh Thomas A. Edison. dan diproduseri oleh Edwin S. Porter.
Dalam pencatatan sejarah perfilman, film ini adalah film bergerak pertama yang dibuat. Walaupun masih hitam putih dan dibuat tanpa suara (film bisu. red), namun film berdurasi 12 menit ini bisa menjadi inspirasi bagi pembuatan film-film berikutnya
CERITA FILM
The Great Train Robbery adalah film Amerika 1903 Barat ditulis, diproduksi, dan disutradarai oleh Edwin S. Porter. 12 menit, itu dianggap sebagai tonggak dalam pembuatan film, memperluas Porter sebelumnya Kehidupan karya seorang Fireman Amerika. Film ini menggunakan sejumlah teknik inovatif termasuk mengedit komposit, gerakan kamera dan lokasi pemotretan. Ini adalah kesalahpahaman umum bahwa film tersebut mengandung cross cutting, meskipun teknik ini tidak muncul dalam film. Beberapa cetakan juga tangan berwarna adegan tertentu.
Film ini disutradarai dan difoto oleh Edwin S. Porter, mantan Edison Studios kameramen. Aktor dalam film termasuk Alfred C. Abadie, Broncho Billy Anderson dan Justus D. Barnes, meskipun tidak ada kredit. Meskipun Barat, itu difilmkan di Milltown, New Jersey. Film ini telah dipilih untuk pelestarian di Amerika Serikat National Film Registry.
Alur
Film ini dibuka dengan dua bandit bertopeng membobol kantor telegraf kereta api, di mana mereka memaksa operator di bawah todongan senjata untuk menghentikan kereta dan memberikan perintah insinyur untuk mengisi kereta sampai di tangki air stasiun. Setelah itu mereka mengetuk dia keluar dan mengikatnya. Saat kereta berhenti untuk mengisi, bandit, sekarang empat, naik kereta. Sementara dua bandit memasukkan mobil mengungkapkan, membunuh utusan dan membuka kotak barang berharga dengan dinamit, yang lain mengambil para insinyur, menghentikan kereta dan putuskan lokomotif. Para bandit itu memaksa penumpang dari kereta dan merampok mereka dari barang-barang mereka. Satu penumpang mencoba untuk melarikan diri, tetapi langsung ditembak jatuh. Membawa harta mereka, bandit melarikan diri dalam lokomotif, kemudian berhenti di sebuah lembah untuk melanjutkan menunggang kuda.
Kembali di kantor telegraf, operator bangun dan mencoba untuk melarikan diri, runtuh lagi. Putrinya masuk dan mengembalikan dia ke kesadaran dengan melemparkan air di wajahnya. Dia pergi ke ruang dansa terdekat untuk mengumpulkan bantuan, dan orang-orang mengambil senjata mereka dan mengejar bandit. Pagar betis menangkap dengan bandit, dan dalam adu akhir semua bandit tewas.
Tembakan terakhirnya
Sebuah adegan tambahan dimasukkan dalam film. Ini adalah close up dari pemimpin bandit, dimainkan oleh Justus D. Barnes, menembak titik kosong ke arah kamera. Sementara biasanya ditempatkan di akhir, Porter menyatakan bahwa adegan juga dapat dimainkan di awal.
Melemparkan
Para bandit datang di bawah api ketika mencoba melarikan diri dengan menjarah.
Justus D. Barnes. pemimpin dari band penjahat, membidik dan menembak titik kosong di penonton.
Alfred C. Abadie sebagai Sheriff
Broncho Billy Anderson sebagai Bandit / Ditembak Penumpang / Tenderfoot Dancer
Justus D. Barnes sebagai Bandit Siapa Kebakaran Pada Kamera
Walter Cameron sebagai Sheriff
Donald Gallaher sebagai Anak kecil
Frank Hanaway sebagai Bandit
Adam Charles Hayman sebagai Bandit
John Manus Dougherty, Sr sebagai bandit yang Keempat
Marie Murray sebagai Dance-hall penari
Mary Salju sebagai Gadis kecil
George Barnes (uncredited)
Morgan Jones (uncredited)
Produksi dan Pers
Film Porter ditembak di studio Edison di New York City, di lokasi di New Jersey di Mountain Reservation Selatan, bagian dari sistem Essex County Park modern, serta sepanjang Delaware, Lackawanna, dan Barat Railroad. Difilmkan selama November 1903, gambar itu diiklankan sebagai tersedia untuk dijual ke distributor pada bulan Desember tahun yang sama. [1]
The Great Train Robbery memiliki debut resmi di Museum Huber di New York City sebelum dipamerkan di sebelas bioskop tempat lain di kota. [2] Dalam iklan untuk film, agen Edison disebut-sebut sebagai film “… benar-benar unggul dari setiap gambar bergerak yang pernah dibuat “serta” … imitasi setia dari asli ‘Tahan Ups’ yang dibuat terkenal oleh berbagai band penjahat di barat jauh

Sumber

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H



6th August 2013

Keluarga Besar Komfaz Production mengucapkan:
“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN”


Dalam rangka Idul Fitri Tim Kreatif komfaz producktion tetap melaksanakan proses produksi film dokumenter.

PEMAHAMAN DASAR DOKUMENTER




Dokumenter merupakan bentuk film yang merepresentasikan sebuah realita, dengan melakukan perekaman gambar sesuai apa adanya. Adegan peristiwa yang sifatnya alamiah atau spontanitas akan selalu berubah serta cukup sulit diatur, sehingga perlu konsentrasi pada tingkat kesulitan yang dihadapi, sekaligus dengan pemikiran yang kreatif. 
Sineas dokumenter ketika mengawali kerjanya itu sudah harus memiliki ide dan konsep jelas, mengenai apa yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya secara logis serta mampu memukau penonton, berdasarkan aspek-aspek dramatik yang mampu direpresentasikannya.
Dokumenter bukan Reportase
Dokumenter bukan Dokumentasi

Sineas dokumenter bukan reporter tetapi seorang observator, apabila apa yang terlihat dipermukaan bagi reporter sudah memadai, sedangkan bagi sineas dokumenter justru baru bagian awal. Pembuat dokumenter perlu mengeksplorasi lebih dalam lagi apa yang ada dibalik maupun sebab akibat dari peristiwa serta pengalaman dan latar belakang para pelaku peristiwa (subjek) tersebut.
Fakta apa yang harus diketahui penonton untuk mengikuti dan memahami film anda?. Kalimat ini merupakan pijakan sutradara untuk merancang konsep penuturan bagi filmnya. Sineas dokumenter harus memiliki sudut pandang dan pengamatan kuat terhadap objek dan subjeknya, sehingga penafsiran atau interpretasi sutradara tidak merubah konstruksi dan kronologi fakta yang ada. Interpretasi sutradara dapat memenggal-menggal kenyataan yang ada, maka menggunakan tehnik direct sounddapat menjaga dan memagari kesinambungan kenyataan tersebut. Interpretasi terhadap sebuah adegan kisah realita tidak sebebas seperti pada adegan cerita fiksi. Apabila seorang sutradara dokumenter salah atau keliru menginterpretasikan suatu adegan dari peristiwa nyata, itu berarti memanipulasi kenyataan serta mengelabui kepercayaan penontonnya. Tujuan membuat film dokumenter untuk mengelabui atau memanipulasi realita, itu dapat ditemui pada film dokumenter bertujuan propaganda politik.
Untuk memberikan sentuhan estetika pada filmnya, ada empat topik utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yaitu mengenai pendekatangayabentuk dan struktur. Ini merupakan teori dasar yang dijadikan bahan ramuan bagi sutradara untuk menggarap filmnya dengan baik. Belakangan ini terlihat beberapa dokumentaris pemula mulai menggarap film mereka tanpa memperdulikan teori dasar film yang dapat memberikan sentuhan estetika dramatik pada karya mereka. Hal ini didasari suatu keinginan secara instan membuat sebuah film dokumenter, disertai argumentasi bahwa isi adalah yang utama sedangkan estetika adalah masalah berikutnya. Akibatnya pemahaman terhadap perbedaan antara bentuk film berita dengan film dokumenter menjadi rancu.

PENDEKATAN
Ada dua hal yang menjadi titik tolak pendekatan dalam dokumenter, yaitu apakah penuturan di ketengahkan secara essai atau naratif. Keduanya memiliki ciri khas yang spesifik dan menuntut daya kreatif kuat dari sutradara. Pendekatan essai dapat dengan luas mencakup seluruh peristiwa, yang dapat diketengahkan secara kronologis atau tematis. Menahan perhatian penonton untuk tetap menyaksikan sebuah pemaparan essay selama mungkin itu cukup berat, karena umumnya penonton lebih suka menikmati sebuah pemaparan naratif. Sebagai contoh, bila kita mengetengahkan selama 30 menit tentang peristiwa peledakan bom di Kuta Bali secara essai, mungkin ini masih cukup menarik. Akan tetapi bila durasi di perpanjang menjadi 60 menit maka ini cukup sulit untuk menahan perhatian penonton. Dengan demikian kita perlu menampilkan tentang sosok profil dan kehidupan si pelaku kebiadaban itu, serta dampak penderitaan yang menimpa para korbannya, sekaligus untuk memperkuat aspek human interest.
Pendekatan naratif mungkin dapat dilakukan dengan konstruksi konvensional tiga babak penuturan. Sebagai contoh: pada bagian awal untuk merangsang keingintahuan penonton, diketengahkan tentang bagaimana peristiwa itu terjadi yang memakan korban ratusan jiwa tak berdosa. Pada bagian tengah di kisahkan bagaimana profil para teroris serta latar belakang kehidupannya dan motivasi kebiadabannya itu, sebagai proses menuju tindakan peledakan bom. Di bagian akhir mungkin dapat di paparkan mengenai bagaimana dampak yang di terima para korban ledakan bom sebagai suatu klimaks yang dramatik, ditambah sejumlah pesan kemanusiaan mengenai terorisme dan kekerasan yang sedang mewabah di Indonesia.        
Menurut saya tak ada salahnya bila menggunakan kombinasi dari kedua pendekatan ini, dengan catatan harus sesuai dengan bentuk penuturan serta isi tema yang akan disampaikan. Sehingga dinamika kreatifitas dapat dituangkan sepenuhnya untuk dapat menuntun penonton agar tetap memperhatikan isi film.
Umumnya setiap isi penuturan dalam film memerlukan pembingkaian (framing) dansudut pandang (point of view), untuk menerangkan dari sisi mana dan siapa yang bertutur dalam film tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya  semacam karakter atau tokoh yang akan menuturkan isi dan pesan dari film, di dalam film dokumenter biasa di istilahkan dengan benang merah penuturan (karakter yang mengikat keseluruhan cerita). Karakter tersebut dapat menjadi semacam identitas yang dapat membangun rangsangan emosi.
Karakter memberikan sebuah observasi terhadap pola berpikir maupun tindakan aksi subjek sebagai reaksi kepada suatu sebab akibat. Apabila film anda memiliki subjek maka sudut pandang subjek tersebut yang dijadikan kunci aksi didalam bertutur. Selain itu karakter dapat pula diposisikan sebagai yang bercerita mengenai tokoh atau subjek itu sendiri, dengan menempatkannya secara in-frame (berinteraksi langsung dengan subjek) atau out-frame (melalui narasi/voice-over). 

GAYA

Membicarakan masalah gaya dalam film dokumenter merupakan suatu pembicaraan yang tak ada habisnya, karena gaya terus menerus berkembang sesuai kreatifitas sang dokumenteris. Gaya dalam dokumenter terdiri dari bermacam-macam kreatifitas, seperti gaya humoris, puitis, satir, anekdot, serius, semi serius dan sterusnya. Kemudian dalam gaya ada tipe pemaparan eksposisi (Expository documentary) yang konvensional, umumnya merupakan tipe format dokumenter televisi dengan menggunakan narator sebagai penutur tunggal. Oleh karena itu narasi disini disebut sebagai Voice of God  karena aspek subjektifitas dari narasi/narator, anda bisa lihat contoh kemasan dokumenter  pada tayangan Discovery chanel dan National Geographic.
Dipihak lain adapula tipe observasi (Observational documentary) yang hampir tidak menggunakan narator, akan tetapi berkonsentrasi pada dialog antar subjek-subjeknya. Pada tipe ini sutradara menempatkan posisinya sebagai observator. Frederik Wisseman dalam “High School I & II” melalui kamera dia hanya mengamati semua kejadian yang terjadi setiap hari di sebuah sekolah menengah umum di Philadelphia, Amerika Serikat. Wiseman berusaha mengetengahkan konflik yang terjadi antara sesama murid, guru dengan murid, hingga antara murid, guru, dan orang tua murid. Akan tetapi konflik yang ditampilkan tak mampu memberikan aspek dramatik, sehingga alur penuturan terasa datar. Konsep Wisseman terlihat sederhana yaitu hanya merekam kejadian sehari-hari yang ada di sekolah itu, filmya itu dianggap mampu menerapkan metode cinema verite, dan menjadi materi bahasan dihampir setiap literatur dokumenter, meskipun butuh kesabaran untuk menikmati film yang terasa monoton itu.
Adapula sutradara yang berperan aktif dalam filmnya, dimana komunikasi sutradara dengan subjeknya ditampilkan dalam gambar (in frame), dengan tujuan memperlihatkan adanya interaksi langsung antara sutradara dengan subjek, ini merupakan gaya Interaktif (Interactive documentary). Apabila ada wawancara maka tipe ini tidak sekedar memperlihatkan adegan wawancara tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana wawancara itu dilakukan. Disini sutradara memposisikan diri bukan sebagai observator tetapi justru sebagai partisipan. Gaya ini dapat di lihat pada karya Michael Moore dalam“Bowling for Columbine” (2002) dan “Fahrenheit 9/11” (2003), dimana sutradara menjadi benang merah di dalam menuntun alur penuturan dalam film tersebut.
Gaya yang kini sangat jarang ditemui adalah gaya dimana film tersebut merupakan sebuah refleksi (Reflexive documentary) dari proses pembuatan (shooting) film tersebut. Dokumentaris Rusia Dziga Vertov merupakan pelopor dalam gaya ini. Dengan filmnya yang berjudul “Man with the movie camera” (1928), Vertov hanya bertujuan merefleksikan dua prinsip teorinya mengenai apa itu film kebenaran (Kino Pravda=Film Truth), dimana semua adegan harus sesuai apa adanya. Kemudian dia menekankan bahwa  kamera sebagai mata film (film eye) merekam realita tiap adegan yang di susun kembali  berdasarkan pecahan shot yang dibuat. Gaya refleksi lebih jauh daripada interkatif karena, fokus utama adalah menuturkan proses pembuatan shooting film ketimbang menampilkan keberadaan subjek (karakter) dalam film.
Gaya yang sudah mendekati film fiksi adalah gaya pervormatif (Performative documentary) karena disini yang lebih diperhatikan adalah kemasannya yang harus semenarik mungkin. Bila umumnya dokumenter tidak mementingkan alur penuturan (plot) pada gaya ini justru diperhatikan. Sebagian mengkategorikannya sebagai film semi-dokumenter. Dokumentaris Errol Morris dalam filmnya “The Thin Blue Line” (1988) merepresentasikan sebuah peristiwa pembunuhan terhadap seorang polisi bernama Robert Wood di Dallas, Amerika Serikat pada tahun 1976. Kasus ini menjadi kontrovesial karena yang dituduh dan dihukum adalah seorang tuna wisma Randall Adams, sedangkan saksi kunci mengatakan pembunuhnya adalah orang lain. Isi cerita didasarkan hanya pada sebuah testimoni serta daya ingat dari para saksi mata. Sehingga bentuk penuturan menjadi seperti sebuah investigasi terhadap kebenaran kasus pembunuhan yang hingga kini tetap gelap. Gaya Morris cukup genit dengan menggunakan tipe shot yang variatif seperti pada film fiksi, hal ini dapat terjadi karena isi cerita dapat direkonstruksi ke dalam naskah (shooting script) sehingga perekaman gambar dapat dilakukan seperti membuat film fiksi, hal ini dapat dilakukan pada dokumenter dengan bentuk penuturan investigasi.

BENTUK
Pada hakikatnya bentuk penuturan pun masih termasuk di dalam bingkai gaya, hanya saja lebih spesifik. Pada prinsipnya setelah mendapatkan hasil riset, kita sudah dapat menggambarkan secara kasar bentuk penuturan apa yang akan kita pakai. Dengan menentukan sejak awal bentuk apa yang akan dikemas, maka selanjutnya baik itu pendekatan, gaya, struktur akan mengikuti ide dari bentuk tersebut. Misalnya bila kita menginginkan bentuk penuturan laporan perjalanan, maka pendekatan, gaya dan strukturnya dapat di rancang bangun, sehingga baik aspek informatif, edukatif maupun hiburan dapat menyatu sehingga memikat perhatian penonton.
Bentuk tidak harus berdiri sendiri secara baku, karena sebuah tema dapat saja merupakan gabungan dari dua bentuk penuturan. Misalnya bentuk penuturan potret dapat saja digabungkan dengan nostalgia atau perbandingan, atau bentuk nostalgia dengan isi penuturan yang mengetengahkan sebuah kontradiksi dari subjek. Sebuah kisah tentang nostalgia dari seorang wartawan perang Inggris yang kembali ke Afganistan setelah selang beberapa tahun, akan memberikan gambaran perbedaan atau kontradiksi mengenai kondisi masa lampau dan masa kini. Perlu disadari bahwa bentuk memang perlu tetapi bukan berarti  membatasi kreatifitas anda, justru sebaliknya harus memperkaya daya kreativitas dengan kemampuan interpretasi visi visual yang mampu mengetengahkan sebuah peristiwa kehidupan secara apa adanya dengan kemasan yang memikat.

STRUKTUR
Apa yang dimaksud dengan struktur disini adalah rancangan konstruksi untukmenyusun/menyatukan berbagai unsur film sesuai dengan apa yang menjadi ide dari penulis atau sutradara berdasarkan tema. Teori film dasar pada penulisan naskah terdiri dari rancang bangun cerita yang memiliki tiga tahapan dasar yang baku seperti: bagian awal cerita (pengenalan/introduksi), bagian tengah cerita (proses krisis&konflik) hingga bagian akhir cerita (klimaks/anti klimaks). Ketiga bagian ini merupakan rangkuman dari susunan shot yang membentuk adegan (scene) hingga sekwens (sequence). Akan tetapi perlu diketahui bahwa pemahaman mengenai struktur film tidak sesederhana seperti yang dikemukakan disini. Struktur film memiliki makna estetika, psikologis dan bahasa sinematografi yang lebih luas lagi.
Menentukan struktur bagi dokumenter tidak semudah pada film cerita fiksi, terutama bila sutradara belum menentukan pendekatan apa yang akan dilakukan berkaitan dengan ide dan tema. Harus diakui bahwa struktur lebih dipentingkan oleh film fiksi dari pada film dokumenter, akan tetapi seni tanpa struktur akan mengalami kekeringan estetika. Penulis mengakui pula bahwa struktur yang merupakan tulang punggung penuturan oleh kebanyakan sutradara dokumenter kadang tidak begitu di perdulikan. Struktur penuturan dalam dokumenter dapat di bagi kedalam dua cara umum yaitu, secara kronologis dantematis. Kedua cara ini sekaligus pula merupakan refleksi dari pendekatan esai dan naratif tadi. Struktur kronologis lebih mudah merancangnya dibanding tematis. Kelebihan struktur tematis ialah kemampuannya merangkum penggalan-penggalan sekwens (sequence) yang kadang tidak berkesinambungan, tetapi dapat di rangkai menjadi suatu kesatuan sebab isi dan tema menjadi bingkai cerita.

SINEAS DOKUMENTER
Seorang sineas dokumenter (dokumentarisperlu banyak membaca, banyak mengamati lingkungannya, berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat, berdiskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas sosial dan budaya. Seorang dokumentaris adalah seorang pelahap semua bahan bacaan dan rajin membuat kliping tulisan atau berita dari semua media cetak. Karena setiap hari bahkan setiap jam, ada saja peristiwa yang terjadi dan merupakan suatu pengalaman hidup manusia yang mungkin saja menarik untuk di jadikan tema bagi sebuah produksi dokumenter.
Secara khusus sineas dokumenter adalah individu yang harus kreatif. Menguasai teori film dan sinematografi saja tidak cukup, karena disamping itu harus memiliki pengetahuan umum luas dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Kemampuan intelektual(akademis) sangat diperlukan karena membuat dokumenter bertujuanmerepresentasikan kehidupan semua mahluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuh2an, lingkungan alam  yang ada di muka bumi ini secara menarik dan dramatik.
Sebagai sutradara harus menguasai konsep sinematografi, yang memiliki tujuan atau motivasi ketika merepresentasikan bahasa visual melalui media audiovisual, sehingga tidak sekedar kreatifitas eksperimental belaka. Minimal Sutradara harus memahami makna dan tujuan dari metode dasar seperti:
1.    Gerak Kamera (pan, tilt, crabs, track, dollie)
2.    Kesinambungan/kontinuiti  (shot, scene, sequence, screen direction)
3.    Memotivasi emosi penonton
4.    Cutaways (untuk menyingkat waktu dan merubah point of view, terutama bila mengalami kesalahan screen direction)
5.    Makna shot (memahami dampak dari tipe2 shot pada emosi penonton)
6.    Lensa (pemahaman jenis lensa dan tujuan penggunaannya)

Sutradara harus memiliki kejelasan visi dan maksud dari apa yang akan disampaikan dalam film tersebut, disamping yakin pada apa yang mejadi fokus dari isi penuturan serta pesan yang hendak disampaikan. Memiliki pendekatan dan gaya (style) dalam merepresentasikan karyanya itu. Bertanggung jawab serta tegas dalam mengambil keputusan, akan tetapi bukan berarti harus menolak setiap pendapat dari rekan kerjanya.
Mampu mendengarkan, mengobservasi setiap masukan ide, mampu mengadaptasi dan menghayati karakter atau sifat subjeknya. Kendala yang tak diduga sering muncul di lapangan, untuk itu sutradara sebagai pemimpin kreatif harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, serta siap dengan strategi antisipasinya agar tidak mengganggu jalannya proses produksi.
Umumnya untuk mempermudah kamerawan memahami tugasnya melakukan perekaman gambar (shooting), maka dari skenario atau treatment disusun pecahan-pecahan adegan atau sekwens menjadi sejumlah susunan shot disebut breakdown script/shot. Kemudian pada saat shooting ada baiknya dibuatkan catatan visual di sebut daftar shot (shot list) untuk memudahkan pengecekannya nanti saat memasuki proses editing. Hal ini akan mempermudah kerja sutradara dan editor saat menyeleksi dan mencari gambar (stock shot) yang dibutuhkan. Pada proses pembuatan film fiksi daftar shot harus dibuat, sedangkan pada film dokumenter ini bukan suatu keharusan akan tetapi menunjukan sikap profesional dalam efisiensi kerja.            

ADEGAN WAWANCARA
Maksud dari wawancara disini bukan seperti wawancara antara nara sumber dengan seorang reporter berita televisi. Sutradara dan editor di tuntut kemampuannya untuk mengemas adegan wawancara ini dengan menarik sehingga tidak kaku seperti wawancara liputan berita. Misalnya menyusun isi dan adegan wawancara sedemikian rupa sehingga terlihat subjek sedang menceritakan pengalamannya.
Pada saat melakukan riset dan pendekatan terhadap subjek, sutradara sudah harus mempelajari subjek baik karakter, sikap berbicara serta cara menyampaikan setiap jawaban yang diajukan kepadanya. Ada subjek yang selalu menjawab dengan sangat singkat, tetapi ada pula yang terlalu berkepanjangan. Semua ini sudah harus dipelajari saat proses pendekatan. Hal penting bagi sutradara adalah bagaimana agar dapat mengarahkan subjek untuk dengan bebas berbicara, bersikap, bertindak secara wajar.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan wawancara ialah:
q  Harus mengetahui lebih dulu apa yang menjadi objektifitasnya.
q  Apa yang akan diangkat / diungkap dalam wawancara tersebut.
q  Bagaimana mengarahkan wawancara agar apa yang ingin diungkap
            dapat terpenuhi.

Dalam hal ini bentuk atau sifat pertanyaan harus memiliki keseimbangan dengan jawabannya. Apakah anda mengajukan suatu pertanyaan khusus dengan tujuan mendapatkan jawaban khusus pula, atau anda mengajukan pertanyaan bersifat umum dan jawabannya pun akan bersifat sama. Satu hal perlu di ingat bahwa setiap pertanyaan harus terfokus dan langsung.
Pada dasarnya dalam produksi dokumenter anda akan melakukan wawancara dua kali, pertama saat riset/hunting yang merupakan proses pendekatan pada subjek, kedua ketika melakukan perekaman gambar (shooting). Pada wawancara pertama, merupakan tahap pemilihan nara sumber, kemudian di wawancara kedua nara sumber sudah dipilih dengan tepat. Harap di ingat betul bahwa wawancara merupakan jantung dari film dokumenter.

LOKASI
Untuk lokasi harus diperhatikan siapa subjek yang akan di wawancarai, berkaitan dengan usia, posisi dan profesinya. Dalam memilih lokasi wawancara (setting), ada dua hal yang perlu diperhatikan:
1.    Bila wawancara dilakukan dalam posisi duduk, memberi kemungkinan subjek yang diwawancarai merasa lebih santai. Ini bisa dilakukan di rumahnya, tempat kerja, atau sebuah tempat yang lingkungannya tenang. Seorang penjabat yang sudah pensiun biasanya memilih lokasi untuk wawancara di rumahnya. Tetapi penjabat yang masih aktif bekerja, akan memilih ruang tempat kerjanya sebagai lokasi wawancara. Dimana latar belakang saat dia diwawancarai akan memperkuat gambaran mengenai posisi jabatannya itu.
2.    Memperhatikan mengenai latar belakang aktivitas subjek cukup penting.  Apabila dokumenter mengenai suatu penelitian, maka lokasi penelitian akan menjadi latar belakangnya. Apabila ceritanya mengenai suatu musibah maka akan lebih baik lokasi kejadian dijadikan latar belakang, daripada di rumah atau memakai latar belakang lain seperti di sebuah taman yang memberikan gambaran ketenangan.

Untuk membantu menentukan lokasi wawancara, ada 3 hal yang harus di jawab:
  1. Apakah latar belakang ini, mampu menggugah perasaan (mood) dan memiliki aspek dramatik ?.
  2. Apakah  latar belakang ini menyebabkan orang yang akan anda wawancarai tidak santai, atau agak gugup, karena banyaknya orang yang lalu lalang disekitar situ. Lingkungan gaduh, dapat mengganggu suasana wawancara ?.
  3. Apakah kesan yang terekam dari latar belakang tersebut tidak terlalu menonjol, sehingga dapat mengalihkan perhatian penonton dari apa yang ingin disampaikan dalam wawancara tersebut ?.

Ke tiga hal diatas perlu diperhatikan sebagai hal yang mendasar, agar keseluruhan imago dan informasi cerita tidak terganggu. Pada umumnya melakukan wawancara di udara terbuka (exterior) akan lebih praktis, karena tidak terlalu repot dengan penataan cahaya. Tetapi ada kemungkinan mendapat gangguan suara (noise) dari lingkungan di sekitar saat melakukan perekaman suara. Perlu di ingat bahwa tidak selalu suara atmosfir lingkungan itu menggangu, kadang justru dibutuhkan untuk memberi nuansa adanya suatu kehidupan nyata di sekitar posisi subjek. Di pihak lain bila penonton mendengar suara noise atmosfir, ini merangsang rasa ingin mengetahui dari mana suara atmosfir itu bersumber, sehingga anda terpaksa perlu memperlihatkan gambar mengenai kondisi dan posisi setting secara menyeluruh, agar penonton tidak penasaran atau kecewa.
Ada pula wawancara dilakukan pada saat subjek sedang melakukan kegiatannya (in action). Tehnik ini memerlukan konsentrasi cukup tinggi, terutama perekam suara (sound man) harus selalu siaga, dipihak lain penata kamera pun harus mampu mengikuti gerak langkah subjek serta mengamati setiap sudut pengambilan yang estetis dalam menyampaikan informasi visual. Sekarang gaya seperti ini banyak dilakukan karena dianggap adegan wawancara menjadi lebih hidup, variatif dan dinamis, ketimbang hanya menampilkan  komposisi gambar  (shot) wawancara yang statis.
Melakukan shot wawancara yang panjang akan menimbulkan rasa bosan pada penonton, apabila anda terpaksa melakukannya karena suatu alasan kuat, maka perlu melakukan variasi sudut pengambilan (camera angle & type shot). Bila shot panjang wawancara tak begitu beralasan maka sisipkan (insert) sejumlah shot lain yang berkaitan dengan isi wawancara. Apabila subjek yang di wawancara memiliki gaya berbicara yang ekspresif, ini memiliki alasan untuk melakukan shot panjang, tetapi tetap dengan sudut kamera dan tipe shot yang variatif.

KOMPOSISI ADEGAN WAWANCARA
Sutradara memperhitungkan posisi kamera sesuai estetika komposisi dan posisi subjek yang diwawancarai. Situasi wawancara seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa dapat dalam posisi diam atau posisi bergerak dan posisi duduk atau berdiri. Kameraman dokumenter umumnya sudah terbiasa dengan situasi demikian. Bila kondisi wawancara dalam keadaan bergerak maka perlu selalu mengatur titik ketajaman lensa (focus) dan mengatur komposisi frame dalam mengikuti gerak subjek. Disamping itu anda harus terus mengontrol kondisi pencahayaan yang stabil dalam posisi yang berpindah-pindah. Meski membutuhkan kerja ekstra, akan tetapi gaya ini sangat dinamis dan lebih menarik untuk dilihat penonton.

Ada 3 posisi umum ketika perekaman gambar saat wawancara :
1.  Arah pandang subjek yang diwawancarai menatap lurus/langsung ke kamera.
2.  Sudut kamera tidak berhadapan langsung, tetapi agak miring ke kiri/kanan. Sehingga menimbulkan kesan bahwa subjek sedang berdialog dengan seseorang, yang tidak terlihat didalam layar (off screen).
3.  Baik pewawancara maupun yang diwawancarai tampak dalam layar (on screen).

Pada posisi pertama, dimana subjek yang diwawancarai menatap langsung ke kamera, ini akan memberi kesan wibawa dari tokoh tersebut. Selain itu sang tokoh melakukan kontak langsung dengan penonton. Posisi ini biasanya sangat disenangi oleh tokoh pejabat, dengan tujuan memberi kesan wibawa, tapi juga kesan keintiman dengan masyarakatnya.
Pada posisi kedua, dengan tidak menatap langsung ke kamera, karena posisi sudut pengambilan agak menyamping. Ini memberi kesan wawancara tersebut dilakukan dengan santai. Unsur wibawa agak berkurang, bahkan berkesan informal, bersahabat, kadang memiliki unsur anekdot.
Posisi ketiga, subjek dan pewawancara muncul di frame on screen, biasanya dilakukan pada reportase. Dalam dokumenter kadang dilakukan pula posisi ini, menempatkan kedua pihak didalam frame, dengan tujuan menampilkan kesan konfrontasi.

Setiap posisi yang akan di pilih harus memperhitungkan atau memikirkan mengenai, sejauh mana anda ingin menarik publik untuk terlibat dalam film tersebut. Tentu saja mengenai sudut pengambilan kamera, perlu didiskusikan dengan penata kamera yang punya hak penuh dalam hal ini. Sedangkan sutradara harus lebih memperhatikan subjek yang akan diwawancarainya. Misalnya ekspresi apa yang ingin di dapat dari subjek, bagaimana kondisi pakaiannya, serta bagaimana komposisi latar belakang yang akan di pakai ketika wawancara. Komunikasi sutradara dengan penata kamera mengenai kesan apa ingin didapat dari subjek yang diwawancarai, sangat membantu dalam menempatkan posisi kamera (camera angle) dengan tepat.

ETIKA WAWANCARA
Banyak kesalahan dilakukan para reporter televisi kita ketika melakukan wawancara baik untuk berita, feature maupun dokumenter. Ada beberapa hal perlu diperhatikan sutradara dalam melakukan wawancara, khususnya berkaitan dengan etika ketikameminta informasi dari subjek. Ini penting karena bisa saja sikap anda sendiri yang menyebabkan kegagalan dalam wawancara.
q  Disaat melakukan wawancara mata anda harus menatap pada orang yang sedang anda wawancarai, sehingga dia merasa mendapat perhatian penuh. Harus di ingat bahwa pewawancara adalah pihak yang meminta penjelasan/informasi. Dengan memberikan perhatian penuh maka pihak yang di minta penjelasannya merasakan suasana persahabatan, saling menghormati dan rasa percaya kepada orang yang mewawancarainya.
q  Ada baiknya memulai wawancara dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya mudah atau umum. Sehingga ketika masuk pada pertanyaan khusus, suasana perasaan dan pikiran subjek sudah mantap. Bagaimana ekspresi wajah anda ketika mengajukan pertanyaan juga berpengaruh pada subjek, entah itu dapat memberi suasana santai atau bahkan sebaliknya.
q  Perhatian utama juga perlu diberikan ketika menyusun daftar pertanyaan. Meskipun kadang pertanyaan dapat berkembang saat wawancara, tetapi menyusunnya lebih dulu sebelum wawancara, akan berguna untuk memantabkan  benang merah dan mendapatkan informasi yang lebih terperinci.
q  Jangan terlalu angkuh dengan memperlihatkan kepintaran kita dalam mengajukan pertanyaan dengan bahasa ilmiah (intelektual) terhadap subjek. Karena selain menyebabkan subjek merasa rendah diri juga menyebalkan bagi penonton. Setiap sikap dan materi pertanyaan harus disesuaikan dengan siapa anda melakukan wawancara, dan gunakan bahasa verbal yang komunikatif bagi telinga umum. Perlu di ingat, bahwa anda sedang meminta informasi dari subjek bukan memberikan penyuluhan
q  Anda bukan melakukan wawancara untuk sebuah liputan berita, jadi jangan menginterupsi atau memotong saat subjek sedang memberikan jawabannya, meskipun terasa panjang atau bertele-tele. Karena subjek akan merasa anda tidak tertarik pada jawabannya itu. Akibatnya suasana wawancara akan menjadi kaku karena motivasi subjek sudah berkurang, atau mungkin saja akhirnya subjek menghentikannya. Bila memang subjek terlalu berkepanjangan dalam menjawab pertanyaan sehingga terjadi pemborosan bahan baku, maka lakukan pemotongan wawancara dengan sikap yang sangat simpatik.


Catatan akhir :
Membuat dokumenter berarti bertutur/bercerita dengan gambar berdasarkan wawasan dan kreatifitas visi visual anda, bedakan metode reportase dengan dokumenter. Membuat feature diawali dengan menuliskan narasi yang sebanyaknya, kemudian gambar direkam sesuai apa yang tertulis di narasi, ini sangat bertolak belakang dengan dokumenter, dimana gambar bercerita (bahasa visual) itu merupakan tujuan utama, narasi hanya sebagai pelengkap/pendamping informasi bila gambar tak mampu mengetengahkannya.

Membuat dokumenter berbeda dengan pemikiran membuat reportase, sehingga tak akan bisa membuat dokumenter yang baik apabila metode kerjanya sama seperti membuat liputan berita ‘on the spot’, datang ke lokasi langsung rekam peristiwanya (shooting). Riset/Hunting adalah jantung dari dokumenter, tanpa riset anda hanya bermimpi bila dapat membuat dokumenter yang bermakna dan menarik.