Menonton Film Karya Anak Medan


Di tengah banyak perusahaan rumah produksi berslaka nasional gencar memproduksi film-film terbaru, kalangan seniman di Sumatera Utara tak mau ketinggalan. Mereka pun berani terjun di industri ini.    


Penulis: Midian Simatupang 




H Amsyal terlihat sibuk di studio rumah produksi miliknya di Jalan Utama No 1- A Helvetia, Medan, Rabu sore (21/8). Pria bertubuh tambun berdarah Minang ini sedang meyelesaikan pembuatan film terbarunya. "Bulan Juli lalu kita sudah selesai shooting film pendek "Padan". Sekarang sedang tahap edit dan mejelang puasa 2013 kita membuat film iklan TV menyambut Puasa " Ngongesa ", katanya. 

H Amsyal sudah menggeluti dunia perfilman sejak tahun 1982. Awalnya ia masih menjadi pemain di beberapa film produksi televisi Medan. Dua film yang masih diingatnya adalah film "Menuai Badai" yang disiarkan program akhir pekan, TVRI Nasional di Jakarta tahun 2002. Saat itu ia sebagai peran utama. 

Kemudian tahun 2008, ia bermain pada film sinetron  “Anak Siampudan“ sebanyak 14 eposide.
Memiliki pengalaman di perfilman, ia pun mendirikan rumah produksi di bawah bendera PT Widy Production tahun 2007.

 Di perusahan ini, ia merangkul tenaga profesional yang berpengalaman seperti wartawan media cetak, kameranen televisi dan para seniman teater untuk menggarap film. Sejumlah film karyanya adalah, film "Pesona Wisata Langkat“, film Profile ”Kota Medan 314 Tahun“, Film Profil PT Pertamani Medan Grup, VCD “ Sosialisasi Undang Undang Industri dan Perdagangan “, Film Pendek “Padan“. 
Ia melihat perfilman di Sumatera Utara akan semakin berkembang.

 "Saya sangat optimis perfilman di Sumut maju dengan di buktikannya sekarang banyak berdiri Production House di Sumut walaupun selama ini pemerintah tak mendukungnya padahal di Undang-Undang Film sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah," katanya bersemangat. 

Media Identitas

Berkembangnya industri perfilman di Sumatera Utara juga diakui Andi Hutagalung. Menurut pendiri Media Identitas ini, film hasil karya anak Medan kini sudah mendapat sambutan dari masyarakat Sumatera Utara. Ia mencontohkan, film karyanya saat ini malah sudah ditunggu penonton setianya. 

"Sangat di tunggu-tunggu karena kontennya bicara lokal sosial dan melibatkan langsung masyarakat lokal," ujarnya saat disinggung sejauhmana sambutan masyarakat terhadap karyanya.   

Di kalangan insan sineas Medan, nama Andi Hutagalung sudah tak asing lagi didengar. Pria ramah dan murah senyum ini dikenal piawai dalam menggarap film dokumenter. Bukti itu terukur dari tidak sedikit prestasi diperoleh dari berbagai festival film. Film Opera Batak yang digarapnya misalnya, meraih juara pertama di Festival Film Dokumenter di Bali tahun 2011. 

Kemudian juara pertama Lomba Video Dokumenter SOi Indonesia tahun 2010, dan juara pertama Festival Film Kebudayaan Nasional 2012 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Medan. 

Andi mengawali kariernya di industri perfilman dari ikut pelatihan di sebuah lembaga (BMS) di kota Medan. Untuk mendalami dunia perfilman ia rela menjadi relawan liputan video selama dua tahun.
"Dari awal itu saya jadi lebih tertarik untuk mendalaminya terus, coba-coba buat film bersama dengan kawan-kawan di kampus ITM yang akhirnya membuat sebuah komunitas film yg bernama KoFi 52, dan setelah itu kami mendapatkan job kecil-kecilan dari lembaga anak-anak di kota Medan," katanya mengisahkan perjalanan kariernya. 

Seiring berjalannya waktu, ia memutuskan membuka usaha perfilman sendiri dengan mengibarkan bendera Media Identitas pada tahun 2011. Selama terjun di perfilman, sudah tujuh judul film fiksi pendek dan 18 judul film dokumenter dihasilkannya. 

 "Saya mendirikan Media Identitas yang lebih terfokus di dalam bidang spesialis videography yang mengerjakan video profil, video promosi, video report, video klip, film dokumenter dan film fiksi sampai dengan sekarang," pungkasnya. 

Menurut Andi, agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju ke depan, kalangan pelaku industri perfilman harus berani membuat cerita konten lokal, agar bisa sekalian mempromosikan daerah sendiri. "Kerja-kerja seperti ini kita harus bersatu untuk merubah paradikma film lokal, agar lebih dicintai di daerah kita sendiri, kalau bicara keluar juga ini yang sangat dibutuhkan orang luar bisa melihat potensi lokal," tuturnya.

Opique Pictures

Semangat menggarap film lokal tak pernah kendur di pikiran M Taufik Pradana. Meski sudah ratusan judul film dibuat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantaranya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film dokumenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Dalam waktu dekat, Ketua Umum Opique Pictures ini akan memproduksi lagi film indie durasi panjang berjudul “Medan Buzzer”. Garapan film ini bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. 

"Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal," ujarnya.  

Komunitas Opique Pictures terbentuk berawal dari ketika ia masih duduk di kelas dua SMA, dengan teman-temannya iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan pada tahun 2008 lalu dan tanpa sengaja membuat nama produksi Opique Pictures.

 Setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan, menjadi motivasi dasar baginya mendalami dunia sinematografi.

Tak kalah dengan rumah produksi lain, komunitas ini juga banyak menyabet penghargaan dari berbagai ajang festival film diantarnya, Sutradara terbaik versi film dokumenter di Festival Film Anak (FFA) pada tahun 2008, dalam film berjudul “Rumah Kita”, Editor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Impian Anakku”, juara dua film dokumenter FFA pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”. 

"Saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya," terangnya. 

Aron Arts Production


Aron Arts Production juga sedang menggarap film terbarunya. Perusahaan yang didirikan Joey Bangun ini tak lama lagi akan meluncurkan film berjudul "Perlajangen" (Merantau). 

Joy Bangun memang dikenal dengan identitasnya sebagai pembuat film khas budaya Karo. Sudah sepuluh film yang diproduksinya, yakni berjudul Anak Mami, Rondong Durhaka, Jinaka, Melumang La Kepaten, Erpudun La Erpadan, Dalan Robah, Boru Panggoaran, Latersia Juma Peranin, dan Calon Bupati. 

Yang memotivasi dirinya terjun di bidang perfilman karena ia ingin merealisikan imajinasi pikiran pada kearifan lokal yang ada di Sumut.
Ia memulai profesinya di dunia film sejak tahun 2005. Saat itu ia dikontrak sebagai Asisten Sutradara oleh sebuah production house di Jakarta untuk memproduksi sinetron Bawang Merah Bawang Putih. 

Besarnya cinta pada dunia perfilman mendorongnya untuk mendirikan usaha sendiri. Tahap awal dilakukannya adalah mencoba menawarkan ke produser lokal untuk menggarap video klip daerah. 

"Setelah dia (produser lokal) puas, saya menawarkannya untuk membuat film. Pelan-pelan beberapa produser mulai menghubungi saya dan saya bisa membuat lebih banyak film," katanya mengisahkan. 

Melihat peluang bisnis di perfilman cukup menjanjikan, ia akhirnya mendirikan Aron Arts Production. Hasilnya pun tak sia-sia, karya filmnya laku keras. "Sangat menguntungkan. Film saya paling sedikit laku sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu keping,".

Menurutnya, film mengisahkan kehidupan sosial masyarakat pasti laku di pasaran karena televisi nasional hanya menggambarkan secara nasional saja. "Film-film seperti akan semakin maju, apresiasi sangat mendukung, hanya orang-orang kreatifnya yang masih kurang," paparnya.

Daniel Irawan
Pengamat perfilman Medan, Daniel Irawan, melihat fenomena banyak seniman Medan memproduksi film beberapa tahun belakangan ini merupakan tanda positif industri perfilman di Medan sedang bangkit. Hanya, kalangan perfilman harus mampu meningkatkan kualitas dari satu produksi ke produksi lainnya karena kebanyakan masih menyisakan semangat yang luarbiasa besar, tapi belum kualitas hasil yang layak terutama film-film indie.   

Bagi kolektor film ini, perkembangan film-film dokumenter lebig bagus ketimbang fiksi karena masih stuck di satu genre tanpa mau mencoba berkembang ke genre lain. "Kalaupun ada hanya satu-dua. Selebihnya melulu hanya drama," terangnya.

Menurut Daniel, agar usaha industri perfilman di Medan bisa menjanjikan, perlu lebih banyak diadakan workshop-workshop penguasaan teknis karena film adalah sebuah karya visual yang padu, bukan hanya sekedar rekaman gambar tanpa arah. 

"Itu yang masih sering terjadi di film-film indie kita. Bahkan, film daerah juga masih sering berhadapan dengan masalah yang sama. Kualitasnya tak meningkat dan pembuatnya terlena dengan hasil penjualan yang kenyataannya cukup tinggi," paparnya.

Daniel Irawan dikenal kalangan perfilman di Medan sejak menjadi penulis review film di sebuah harian di Medan sejak tahun 1997. Lama kelamaan, hobinya ini berkembang ke aktifitas blogging. Ia banyak menulis tentang film di blognya (danieldokter.wordpress.com) dan akun twitter @danieldokter. 

Tujuannya, agar lebih menjangkau pembaca dan networking yang lebih luas ke orang-orang dalam industri perfilman, tentunya memiliki pandangan yang sama.

Aktif menulis tentang film di blognya, dilirik beberapa media nasional menjadi penulis. Pengetahuannya yang banyak tentang perfilman memberi peluang menjadi juri di beberapa festival film. Bahkan, di industri film nasional, ia dipakai sebagai konsultan skrip atau produksi, salah satunya film ‘Finding Srimulat’. 

Tak hanya sebagai pengamat dan penulis, pada tahun 2002 ia bersama rekan-rekan yang juga punya passion yang sama membuat film indie berjudul ‘Hacker’ untuk sebuah festival film indie di TV swasta. Lantas di tahun 2005 membuat film ‘Lifeline’ dan sebuah short parody yang akhirnya memenangkan kompetisi ‘Shoot It and Spoof It’ di MTV Movie Awards, LA. 

"Baru-baru ini saya juga membuat film indie ‘Untuk Ibu’ buat sebuah festival film indie selain terlibat di beberapa film indie yang dibuat oleh komunitas film indie di Medan  dan Oktober nanti diundang sebagai film journalist dalam event Tokyo International Film Festival di Jepang," paparnya.
sumber

Kompetisi Festival Teater Anak 2013

Sukses dengan menyelenggarakan Festival Film Anak (FFA) ke-enam tahun 2013, kini Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan Teater "O" USU dan Opique Pictures akan menyelenggarakan kompetisi Festival Teater Anak (FTA) perdana Sumatera Utara. Kompetisi ini dibuka secara umum dengan ketentuan sebagai berikut:

KETENTUAN PESERTA:
- Peserta adalah perwakilan sekolah atau komunitas yang terdiri dari maksimal 15 orang anak, sudah termasuk pemain dan kru pembantu (berusia 6 - 18 tahun)
- 1 (satu) sekolah/komunitas mengirimkan hanya 1 (satu) group.
- Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
- Seluruh proses produksi teater dilakukan oleh anak, dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing (bukan sebagai sutradara)
- Peserta wajib mengisi formulir dan mengikuti tahapan kegiatan FTA

KETENTUAN FESTIVAL:
- Naskah harus original (ditulis sendiri oleh anak)
- Cerita harus sesuai dengan tema yang ditentukan panitia FTA
- Durasi pementasan maksimal 15 menit
- Cerita dan pementasan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok.
- Tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
- Panitia FTA mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta
- Segala kebutuhan properti pementasan disediakan oleh peserta.
- Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat

KETENTUAN TAMBAHAN**
- Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya, meninggalkan aktifitas sekolah, )
- Peserta mendapat persetujuan dari orang tua/guru.
- Seluruh peserta menyerahkan biodata singkat.

TAHAPAN KEGIATAN:
- Pendaftaran dan penyerahan naskah ditutup: 10 Oktober 2013
- Technical Meeting dan pengundian nomor tampil 24 Oktober 2013
- Pementasan: 25 - 26 Oktober 2013
- Penganugrahan: 26 Oktober 2013 (sekaligus penganugrahan)

SEKRETARIAT FTA SUMUT
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
Jalan Abdul Hakim 5A, Pasar I –
Setia Budi, Tanjung Sari Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
Kontak Person: 0823 6964 4244 Pkpa Medan, 0857 6211 1954 Moehammad Ihsan, dan 0831 9725 0111 M Taufik Pradana
Informasi Selengkapnya dapat dilihat:
www.pkpa-indonesia.org

Perkembangan Film Anak di Sumut Perlu Ditingkatkan

Perkembangan kreatifitas anak-anak di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dalam menyampaikan pandangan, gagasan maupun harapannya kini semakin bervariasi dengan keunikan tersendiri. Mulai dari penyampaian secara pribadi maupun berkelompok dalam komunitas. Diantara banyaknya pilihan media yang dipergunakan oleh anak dalam berkreativitas, salah satunya adalah melalui media film anak. Sampai saat ini saja, setidaknya sudah ada lebih dari 15 komunitas film anak yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Sumut.
"Film anak di Sumut mempunyai potensi yang tidak kalah dengan kota-kota besar seperti Jakarta, namun saat ini sarana pendukung untuk mereka masih kurang, dan terkesan diabaikan ini yang harus diperbaiki," ujar Deputi Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Misran Lubis, kepada MedanBisnis, Kamis (5/9).

Misran mengatakan, walaupun dengan usia yang sangat muda antara 6 sampai 18 tahun, anak-anak komunitas film terus berupaya belajar untuk memproduksi sebuah film, baik dengan kategori fiksi maupun dokumenter. Saat ini bisa dipastikan bahwa film merupakan media yang sangat berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Tentunya jika suguhan film yang ditonton adalah baik, maka karekter anak yang sering menontonnya akan menjadi baik dan apabila tontonan yang diberikan adalah yang tidak ramah anak, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang keliru.

"Melihat betapa pentingnya peranan film-film tersebut dalam mempengaruhi perkembangan karakter anak, membuat para komunitas film anak terus berupaya membuat karya-karya yang positif dan layak tonton dengan nilai-nilai kearifan lokal yang kuat. Berbagai potensi baik secara personal maupun alam pendukung, ataupun berbagai permasalahan sosial yang sering kali terjadi di sekitar anak menjadi media yang tepat untuk di publikasikan melalui film," ujarnya.

Misran mengatakan, dengan kreatifitas anak dengan kemampuan yang luar biasa tersebut perlu diberikan apresiasi dan penghargaan yang sangat besar dari perbagai pihak, baik lembaga non pemerintah, pemerintah daerah, pihak swasta dan masyarakat secara bersama. Dalam hal ini, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan sendiri sangat memberikan apresiasi positif dengan penyelenggaraan Festival Film Anak (FFA) kembali, dan untuk kali ini adalah rangkaian festival tahunan ke-enam. Sejak pertama kali, penyelenggaraan FFA tahun 2008 sampai dengan 2013 tercatat sudah ada 111 film yang diperlombakan dengan kategori fiksi dan dokumenter.

Tahun 2013 ini, penyelenggaraan FFA ke-enam dilaksanakan di Aula Martabe Kantor Gubernur Sumatera Utara (31/8) lalu. Tema yang diangkat dalam gelaran FFA ini adalah ”Aku dan Indonesiaku”. Dengan tema tersebut, para peserta diharapkan mampu untuk memberikan gagasan, kritikan, maupun harapan yang baik terhadap berbagai kondisi Indonesia yang anak-anak pahami. Dan tentunya hal itu akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi para pengambil kebijakan untuk mulai mempertimbangkan aspirasi anak, karena mereka adalah tonggak kebesaran bangsa, katanya.

Sumber

Komunitas Film di Medan Mulai Menggeliat

Pengamat dan pekerja seni kota Medan, Mukhlis Win Ariyoga menilai perkembangan dunia kreatifitas pembuatan film di Kota Medan semakin menggeliat, ditandai dengan banyaknya komunitas-komunitas film dokumenter yang saat ini bermunculan.
“Medan dulu punya rumah film di Sunggal, namun redup karena  anjloknya perfilman Indonesia kala itu. Namun, belakangan saya melihat geliatnya kembali bermunculan,” ujar Mukhlis Win Ariyoga kepada Analisa, Rabu (27/3).

Ia menjelaskan anak-anak muda Medan yang tergabung dalam beberapa komunitas yang ada memiliki bakat, talent dan keterampilan yang cukup bagus untuk memproduksi sebuah film. Modal utama untuk menuju profesionalisme.

Dari beberapa film yang pernah di tonton, Mukhlis berujar komunitas film dokumenter punya ciri khusus dan kualitas yang cukup bagus. Aktor dan konsep cerita yang ditawarkan pun menarik, meskipun tidak jauh dari persoalan romantisme remaja.

“Dengan budget, pengalaman, dan keterbatasan yang mereka miliki, saya kira kreatifitas mereka patut diapresiasi. Sebab dukungan masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menumbuhkembangkan dunia sineas di Medan,” ujarnya.

Peran pemerintah

Menurut aktor dalam serial TV Si Bolang dan Kisah Anak Nusantara yang diputar TRANS 7 itu peran pemerintah tidak juga dapat dipisahkan. “Mungkin saat ini belum menjadi prioritas, namun mengingat industri kreatifitas di dunia entertainment semakin menjamur, ini dapat menjadi ladang bisnis,” katanya.

Saat ini, katanya, rumah produksi (PH) hanya bermunculan di Jakarta dan sekitar Pulau Jawa saja, untuk Sumatera belum ada.  Pertimbangan inilah yang memungkinkan rumah produksi lokal dapat berkembang pesat.

“Televisi swasta yang berpusat di Jakarta kerap kebingungan bila menggarap cerita-cerita yang mengangkat tentang kultur daerah. Biaya produksi yang tinggi karena harus menyeberangkan alat beserta crew dalam jumlah yang banyak menjadi kendala utama. Hal ini yang seharusnya mampu dilihat oleh para penggiat sineas dan komunitas film di Medan,” ujarnya.

Sumber

Medan, mana film mu?!


Deddy Mizwar Film Naga Bona
Denyut perfilman Medan telah lama binasa. Praktis semua ikut binasa termasuk studio, pekerja, produser dan para pelakon film pun  ikut rahib di telan zaman. Studio film seluar 5 hektare di Sunggal sejak didirikan praktis tak pernah dimanfaatkan untuk produksi film, kini nasibnya  telah ditelan bumi. Para pekerja film tak ada yang bertahan di Medan semuanya hengkang ke Jakarta sebagai kru film.  Produser film tak ada  lagi di Medan. Karena tidak ada kegiatan industri perfilman yang menopang hidupnya profesi produser film.  Walhasil, perfilman Medan pun senyap lebih dari dua dasawarsa.Yang tinggal hanya jejak sejarah sineas Medan  pernah berbuat banyak dalam perfilman nasional.
    Diera digital begitu mudahnya membikin film. Sakin mudahnya, banyak sineas kagetan menjadi sutradara film. Mereka itulah yang mengisi perfilman nasional saat ini, yang kesemuanya kebetulan berdomisili di Ibukota Jakarta. Tak ada sutrdara film nasional saat ini yang berdomisili di luar kota Jakarta. Banyak diantara sineas muda itu sineas asal Medan atau Sumatera Utara. Satu hal yang membingungkan, kondisi rill saat ini, 80% film nasional diproduksi beraroma seks dan klenik.  Hanya satu dua yang berkwalitas. Selebihnya hanya mengejar kwantitas. Bahkan memperburuk moral anak bangsa. Jangan harap kondisi sekarang ini tema kedaerahanan akan tampil, paling cuma "Laskar Pelangi" (Belitung/2008), "Sang Pemimpi" (Belitung/2009), "Naga Bonar Jadi Dua" (Sumatera Utara/2007) namun tidak diproduksi di Medan dan melipatlkan seniman Medan dan terakhir "Seleb Kota Jogja"  (Yogyakarta/2010).
Mengapa sineas Medan tak pernah bangkit? Jawabnya satu; tak ada orang yang berprofesi sebagai produser film di Medan. Dalam produksi film produser memegang peranan penting. Bahwa profesi seorang produser bukanlah pemilik uang, tapi pengelola uang dari investor atas gagasan yang dicetuskannya. Pun juga tak ada sinema grilya yang dilakukan sineas Medan. Artinya memproduksi film secara grilya seperti yang dilakukan sutradara Rudy Soedjarwo  saat memproduksi film "Bintang Jatuh" (2000). Baik mengedarkan dan produksinya dilakukan secara grilya. Untuk mengedarkan film perdana artis Dian Sastrowardoyo itu, Rudy mengedarkannya  dengan memutarnya berkeliling kampus dan ke berbagai daerah dengan alat digital sederhana yang dibawanya sendiri. Saat mengerjakan film "Bintang Jatuh", Rudy Soedjarwo bertindak sebagai sutradara sekaligus produser dan pengedar filmnya sendiri. Kalau itu pengusaha bioskop (Cineplex 21) tidak berpihak kepada perfilman nasional.
    Dalam perjalanan perfilman nasional, Medan pernah memiliki produser  REFIC (Rencong Film Corporation) Abubakar Abdi (1958)  memproduksi "Turang", "Piso Surit" dan  Ordipa (Orang Orang di Kebun Para). Produser Surya Indonesia Medan Film A.Gani Rahman  memproduksi Setulus Hatimu dan  Orando Film Omar Bach, memproduksi "Butet"  serta produser Sinar Film Corporation Ibrahim Sinik memproduksi  "Batas Impian". Sejak itu film nasional hanya mengambil setting Sumatera Utara untuk lokasi syuting seperti film "Secangkir Kopi Pahit", "Sorta", "Buaya Deli" dan Musang Berjanggut".
 
Film Musang Berjangut
   Cukup lama sineas  kota  Medan  tak ikut andil dalam perjalanan panjang  perfilman nasional. Padahal sebelumnya Kota Medan  lebih dua dasawarasa  yang lalu,  sineas kota Medan  disegani dalam  kancah perfilman perfilman nasional. Tak lain karya Anak Medan sempat “bicara” dalam perfilman nasional lewat karyanya. Yang namanya Anak Medan (seniman) akan selalu  mengatakan  bahwa Medan gudang seniman, termasuk pekerja film. Itulah semangat Anak Medan untuk berkiprah dalam dunia kesenian termasuk perfilman. Tapi, semua itu hanya semangat. Ide segudang tak ada artinya bila tidak diwujdukan.
    Bisakah perfilman Medan kembali bangkit? Jawabnya; bisa! Film Medan akan bisa "bernafas" jika ada produser film Medan  yang tak semata  beroerientasi Jakarta. Sineas Medan harus tampil dengan kemedanannya, namun bisa menembus peredaran seluruh Indonesia. Tak usah pakai bahasa "deh" dan "dong", pakailah dialek Medan atau bahasa Indonesia yang baik. Sebab 80%  bahasa yang dipergunakan dalam film nasional tak punya sopan santun. Kalimat; "Anjing", "Ngewek" (bersetubuh) dan bahasa pasaran lainnya menjadi bahasa resmi film nasional. Lembaga Sensor Film (LSF) hanya memperhatikan adegan seks vulgar, tanpa memperhatikan bahasa yang tak beradab.  Jika sineas Medan hendak bangkit, jangan harapkan pemerintah daerah untuk membangkitkannya. Sebab bangkitnya perfilman nasional kembali setelah mati suri selama satu dasawarsa  bukan karena campur tangan pemerintah, tapi karena kemauan keras para sineasnya.  Lucunya, Menbudpar "bernyanyi" dalam FFI 2009 kemarin, seakan bangkitnya film nasional karena campur tangan pemerintah. Film nasional bangkit lagi setelah film garapan Riri Reza "Petualangan Sherinna" (1999) dan film bergenre horornya sutrdara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo "Jekangkung" (2002) meledak saat diedarkan di bioskop.
    Sesungguhnya Konsep, ide dan pemikiran seniman Medan tak kalah dengan sineas yang ada di Jakarta. Tapi sayang, dominasi Jakarta sejak munculnya film pertama yang diproduksi sienas negeri ini tak pernah “dipatahkan” kota lain. Jakarta sebagai ibukota dibangun dan dikembangan oleh anak daerah yang tersebar penjuru negeri ini, termasuk dunia perfilman. Nyaris semua sineas negeri ini adalah putra daerah yang menggembangkan kreatifitas keseniannya di Jakarta. Putra Sumatera Utara memberikan kontribusi yang cukup  meyakinkan dalam perjalanan perfilman nasional. Baik sebagai sutradara, penulis skenario, kamerawan, peƱata artistik, produser dan tentu saja sebagai aktor dan aktris. Tapi, semasa di daearah asalnya para sineas itu tidak memberikan apa-apa dalam perfilman nasional. Sebab daerah  tempat asal para sineas  tak memberikan harapan untuk bisa memproduksi film atau mewujudkan kreatiftasnya.
    Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai etnis dan sub etnis serta ras  memiliki segudang gagasan ide cerita yang bisa dilayarlebarkan. Potensi kekayaan ide cerita  bertema horor, komedi, laga, epos maupun drama percintaan seperti tambang emas yang tak pernah dieksplorasi.
    Gagasan cerita yang dimiliki  Sumatera Utara hanya secuil saja yang diangkat ke layar lebar. Karya  novel Merari Siregar dengan "Azab Sengsara," meski masih relevan dengan kondisi sekarang hanya dilakukan sebatas membikin sinetron.  Sinetron  Azab dan Sengsara yang disutradarai Edward Pesta Sirait  itu pun tak pernah ditayangkan meski Pemda Sumut ketika diera Gubernur Raja Inal Siregar cukup mensuport dengan anggaran yang terbilang  besar.
    Selain  cerita legenda, hikayat dan cerita rakyat, Sumut juga punya segudang ide cerita  untuk layar dilayarlebarkan yang bisa disajikan tidak saja berskala nasional tapi juga internasional. Perjalanan Koeli Kontrak dari tanah Jawa yang ditipu Belanda yang rencanakannya akan dikirim ke Suriname, ternyata dikirim ke tanah Deli. Politik kolonial Belanda  membuat munculnya bangsa Tamil dan China di  Sumatera Utara untuk dipekerjakan sebagai kuli di perkebunuan di Tanah Deli. Puluhan tema masih banyak yang belum tergali.
    Kemunculan bangsa China daratan dan Tamil memiliki gagasan ide yang  tak kalah menariknya  dari novel Remy Silado yang dilayarlebarkan oleh Nia DiNata dengan judul yang sama  "Cau Bau Kan" (2001).  Di Medan, ada tokoh multikulturalisme, Tjong A Fie cukup  menarik untuk dilayarlebarkan. Sosok koeli miskin dari China daratan menjadi tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Medan. Tak lain  karena jasanya yang cukup besar terhadap kedamaian dan kemakmuran di kota  Medan.
    Bikin film itu mudah! Namun saat ini tidak ada yang menjadi lokomotif perfilman Medan. Kalau pun ada produser film asal Medan, lebih memilih "bertarung" di Jakarta, seperti yang dilakukan  produser Anthony Pictures lewat  film "Tapi Bukan Aku" (2008), namun hasilnya jeblok. Membikin film seperti membikin pesta, bisa mahal bisa murah. Ratusan tema yang menarik bisa diangkat ke layar lebar. Cerita sederhana jika digarap serius bisa menghasilkan karya apik. Produksi film di Medan jauh lebih murah dari daerah lainnya, dengan peralatan digital dan peralatan yang standar bisa melahirkan sebuah karya film. Tapi siapakah yang menjadi lokomotif perfilman di Medan? Untuk itu diperlukan seorang produser yang loyal dengan perfilman Medan. Bila saja ada produser yang memproduksi film untuk membikin master saja, itu sudah sebuah kemajuan. Sebab, biaya termahal dari produksi film adalah biaya pasca produksinya. Untuk satu juudl film bisa edar serentak di seluruh penjuru negeri diperlukan minimal 40 copy. Jika tidak, para pembajak film di Glodok, Jakarta, siap membajak  film yang sedang beredar. Biaya produdksi film  bisa sampai 3 miliar tak lain karena semua film nasional masih diblow-up di Thailand dan biaya satu copy 10 juta di Inter Studio, Jakarta.
    Sinema  gotong royong, adalah tepat untuk membangkitkan perfilman Medan. Biaya produksi dilakukan secara gotong royong, begitu saat pasca produksi. Artis dan kru tak perlu 100% dari Jakarta. Untuk nilai komersil, setidaknya diperlukan artis Jakarta yang sudah populer. Selebihnya bisa dikerjakan oleh para sineas Medan yang sudah puluhan tahun tak memproduksi film bergaya Medan.  Dengan konsep itu, setidaknya, para pengusaha, pejabat Pemda, politisi dan sponsor bisa mematangkan biaya pasca produksi. Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau menjadi lokomotif perfilman Medan meski hanya untuk memproduksi master film tok?

Sumber

Pasang Surut Perfilman Nasional

Perkembangan perfilman nasional belakangan ini memang boleh dibilang cukup mengesankan. Ini mengingat penonton Indonesia sendiri mulai bersedia meluangkan waktu untuk menonton film nasional. Bahkan di antaranya cukup getol mengikuti perkembangan film Indonesia. 

Tumbuh berkembangnya perfilman Indonesia memang cukup memprihatinkan. Selama 12 tahun lamanya, perfilman Indonesia sempat mati suri alias mengalami kevakuman. Tidak ada satu pun produksi film dinilai bagus pada tahun 1990-an ke atas.
Munculnya sineas baru seperti Riri Reza, Mira Lesmana, Nia Dinata dan masih banyak sineas lainnya belakangan ini justru menjadi pelopor bagi kebangkitan perfilman Indonesia.
Lain film, lain pula tayangan-tayangan televisi. Justru di saat perfilman Indonesia mengalami kevakuman, tayangan-tayangan televisi, seperti sinetron, infotainment dan talk show mengalami booming dan semakin digemari. Tapi apa yang terjadi sekarang? 
Tayangan televisi yang awalnya memberikan kisah-kisah sinetron menarik, kini berubah bentuk dan nuansanya. Tayangan televisi lebih banyak diisi dengan tayangan-tayangan sinetron berbau mistik sarat balutan religi. 
Tak pelak, kontroversi mengenai tayangan-tayangan tersebut sempat merasuk di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat senang dan sangat menikmati hiburan tayangan-tayangan mistis-agamis. Namun sejumlah kalangan menilai, cerita-cerita seperti itu tidak memiliki kelayakan untuk dikonsumsi oleh sebagian besar penonton televisi Indonesia, khususnya anak-anak.
Inikah yang diharapkan oleh para pencipta film dan sinetron di Indonesia? Siklus yang hampir sama terjadi pada keterpurukan film di masa lalu manakala film-film berbau mistis mulai merajai pasaran. Akibatnya, penggemar film pun satu per satu mulai mundur untuk menyaksikannya. Mereka lebih memilih menonton film-film produksi luar negeri ketimbang film-film lokal.
Dua belas tahun lamanya, perfilman Indonesia tertidur pulas. Kini setelah terbangun kembali dan Piala Citra kembali diperebutkan, lagi-lagi film-film bertajuk horor secara perlahan mulai bermunculan. Sebut saja, film Jalangkung, Bangsal 13, Di Sini Ada Setan, dan Rumah Pondok Indah. 
Seolah sejarah yang sama mulai terulang. Dan tampaknya pencipta film kurang sensitif terhadap keinginan pasar masyarakat Indonesia sendiri.
Kisah misteri yang mencekam dan menakutkan memang bisa menjadi satu bumbu menarik untuk dijadikan tontonan. Tapi bukan berarti penonton akan bisa menimkati bila terus disuguhi kisah-kisah serupa tanpa adanya pembaharuan dalam kisah itu sendiri.
"Siklus perputaran gender film ini bukan menjadi satu-satunya alasan bagi runtuhnya perfilman di Indonesia," kata Mira Lesmana saat dihubungi Suara Karya melalui telepon genggamnya. "Bagi saya, penyebab utama semua itu adalah kurang adanya perhatian pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah film itu sendiri," ujarnya. 
Menurut istri Mathias Muchus ini, kreativitas seorang insan film menjadi modal utama untuk mencerahkan dunia perfilman belakangan ini. Namun kalau harapan yang besar demi perkembangan film Indonesia ini hanya ditumpukan pada segelintir insan film yang memiliki idealisme tinggi tentang perfilman, perkembangan film nasional akan terus tersendat-sendat.
Untuk menunjang hal tersebut, PT Amanja Mega Persada sebagai mitra PT Modern Photo Tbk, distributor produk-produk film dari Fuji melakukan kerja sama dengan Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia). Sebagai organisasi insan insan film di Indonesia, Parfi dipercaya membuka sebuah kelas tempat kursus membuat film. 
Yang diharapkan, tempat kursus seperti ini maka akan memberikan pembaharuan bagi perkembangan film nasional di masa-masa mendatang. Dengan demikian, film-film Indonesia benar-benar bisa menjadi alat komunikasi yang mendidik bagi masyarakat luas.
"Kursus seperti itu memang bisa membantu. Tapi alangkah lebih baiknya kalau pemerintah memberikan perhatian melalui jalur akademis yang benar, tanpa melalui kegiatan-kegiatan kursus yang hasilnya bisa kurang mendalam," Mira Lesmana, kakak kandung musisi jazz Indra Lesmana ini.
Bagaimana pun kursus membuat film hanyalah merupakan jalur cepat bagi seseorang untuk bisa mengetahui seluk beluk perfilman. Kelas-kelas seperti ini tidak bisa menjadi salah satu tempat penyaluran apresiasi film bagi insan film itu sendiri. "Kursus hanya membantu, tidak lebih," ujar Mira pula. 
Menurut Mira, sekolah akademis perfilman di Indonesia sampai sekarang masih terbatas. Padahal sekolah akademis perfilman sangat penting bagi perkembangan film-film nasional agar semakin bermutu. Sekolah akademis perfilman, tidak hanya mendidik siswa membuat film. Tetapi, mereka juga diarahkan jalur kariernya. Perkembangan perfilman nasional belakangan ini memang boleh dibilang cukup mengesankan. Ini mengingat penonton Indonesia sendiri mulai bersedia meluangkan waktu untuk menonton film nasional. Bahkan di antaranya cukup getol mengikuti perkembangan film Indonesia. 
Kenapa pemerintah tidak mulai memprakarsai berdirinya sekolah akademis perfilman nasional?


Sumber

Siklus perkembangan film Nasional


 
Perkembangan Perfilman Indonesia, hmm.. sebenarnya Film di Indonesia pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Pada masa itu film disebut Gambar Idoep”. Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang. Film adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Pertunjukan pertama ini kurang sukses karena harga karcisnya dianggap terlalu mahal. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi hingga 75% untuk merangsang minat penonton.

Film cerita pertama kali dikenal di Indonesia pada tahun 1905 yang diimpor dari Amerika. Film-film impor ini berubah judul ke dalam bahasa Melayu. Film cerita impor ini cukup laku di Indonesia. Jumlah penonton dan bioskop pun meningkat. Daya tarik tontonan baru ini ternyata mengagumkan.

Pada tahun 1926, Indonesia membuat film lokal pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng diproduksi oleh NV Java Film Company. menyusul selanjutnya adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah.
Industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun 1931. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop.

Untuk lebih mempopulerkan film Indonesia, Djamaludin Malik mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, setelah sebelumnya pada 30 Agustus 1954 terbentuk PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia). Film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik dalam festival ini. Film ini sekaligus terpilih mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film ini dianggap karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah film yang menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam mengenai para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Kebangkitan perfilman Indonesia

Tahun 1970-an dapat di katakan sebagai bangkitnya era perfilman Indonesia, Papa dan Mama kita dulu mungkin masih terngiang-ngiang dengan film-film lama seperti Ali Topan Anak Jalanan, Romi dan Yuli, dan lain sebagainya, meski demikian jumlah film yang di produksi saat itu masih 604 judul, tapi semuanya berkualitas. dan dialog masih sangat kaku dengan menggunakan kata ganti AKU dan KAU.

Memasuki era 1980-an produksi film di tanah air menjadi 721 judul film, Temanya juga bervariasi, era itu adalah eranya Warkop dan H. Rhoma Irama film-film mereka selalu laris bak kacang goreng. Salah satu momentum bersejarah di era 1980-an adalah screeningnya film Pengkhianatan G-30S/PKI yang penontonnya (meskipun ada campur tangan pemerintah Orde Baru) sebanyak 699.282. di akhir era 1980-an nama Lupus dan Catatan si Boy menjadi ikon tersendiri. Menjelang era 1990-an film-film karya Cinta dalam Sepotong Roti mampu memenangkan berbagai penghargaan di festival film internasional

Terpuruknya Perfilman Indonesia
Era 1990-an dapat dikatakan sebagai Kiamatnya perfilman Indonesia, hal ini disebabkan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Praktis semua aktor dan aktris panggung dan layar lebar beralih ke layar kaca. Selain itu tema yang selalu menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air adalah tema Horror sex, di era 1990-an judul-judul film Indonesia amat sangat vulgar contoh Misteri Janda Kembang, Noktah merah perkawinan, Gairah Terlarang, Meski sejumlah aktor Hollywood kelas B seperti Frank Zagarino, Chintya Rothrock, David Bradley turut meriahkan dunia film tanah air, kondisi penonton tetap tak berubah, Mimin masih ingat judul film warkop terakhir di layar lebar yaitu "Saya duluan dong" setelah itu film tanah air jadi mati suri... Anehnya saat terpuruknya perfilman tanah air banyak yang menyalahkan pihak Amerika (Hollywood) dan Bioskop 21. Namun di sisi lain, di era 1990-an banyak komunitas film-film independen. Beliau-beliau inilah yang akan membangkitkan perfilman tanah air di awal 2000-an

Dunia baru perfilman tanah air

Awal 2000-an sempat muncul salah satu film anak yang menjadi legendaris saat itu, "Petualangan Sherina" dibintangi Derby Romeo, Sherina Munaf. bisa dikatakan "Petualangan Sherina" adalah oase di tengah sepinya bioskop tanah air. Lalu di tahun 2002 muncul pula film fenomenal lainnya yaitu "Ada Apa Dengan Cinta", "Jaelangkung", dan lain sebagainya. Film Indonesia pun menemukan kembali ruhnya. Genre film juga kian variatif, alhasil di tahun-tahun berikutnya penonton mulai tertarik untuk menonton film Nasional, film-film seperti "Heart", "Naga Bonar Jadi Dua", "Ayat-Ayat Cinta" adalah film-film yang mendapat jumlah penonton tertinggi. Bahkan Film Indonesia mampu bersaing dengan film Hollywood secara sehat.

Meski Demikian Perfilman Indonesia masih saja dirusak oleh oknum-oknum Mr. X yang hanya mencari keuntungan kesempatan dalam kesempitan dengan membuat film-film Horror Sex, (admin heran di kota mana sih yang jumlah penonton Horror Sexnya meningkat). Hal ini justru membuat Film Nasional yang bagus menjadi seperti batu diantara lelumutan, lama-lama lumut itu bisa menghancurkan batu itu sendiri, meski sekokoh apapun batu itu.

Di tahun 2011 terjadilah sebuah peristiwa yang justru menjadi Bumerang bagi perfilman tanah air, yaitu Kisruh Film Impor, apalagi di tahun itu Film-film Horror Sex seperti "Goyang Jupe-Depe" dan lain sebagainya menjadi Jamur, Menjamur dimana-mana. Penonton menjadi risih, mereka menginginkan Hollywood kembali seperti dulu, meskipun diantara menjamurnya film Horror Sex itu terdapat film - film berkualitas seperti "tanda tanya" Hanung Bramantyo.

Akhirnya Film Hollywood kembali hadir di tanah air pada bulan Ramadhan tahun itu (admin lupa bulannya mungkin sekitar Juli - Agustus)

Menurut Admin peristiwa kisruh film Hollywood tahun lalu para moviemaker semakin kreatif, film-film Horror Sex menjadi semakin sedikit di tahun ini. sementara film-film Berkualitas seperti The Raid, 5 CM, Garuda di Dadaku 2 (di publish tahun 2011 setelah kisruh). semakin banyak. Ya mimin, berharap semoga kondisi seperti ini berlangsung selamanya, Apalagi salah seorang aktor Indonesia Joe Taslim main film di Fast Six (Pertama kalinya aktor Indonesia main film Blockbuster), mimin pernah berkhayal bahwa akan ada aktor Indonesia mengucapkan Alhamdulillah saat perhelatan academy awards. Ini membuktikan bahwa aktor kita bukanlah aktor kacangan, terlebih lagi yang telah dan akan bermain film di tanah air bukanlah aktor kelas B. Nama-nama seperti Julia Roberts, Mickey Rourke bukanlah nama-nama seperti Chintya Rothrock atau pun Frank Zagarino. Julia Roberts dan Mickey Rourke pernah meraih oscar. Sedangkan Rothrock dan Zagarino adalah aktor-aktor yang filmnya banyak diedarkan dalam bentuk DVD.

Sayangnya, sifat orang Indonesia masih suka latah, jika sedang ramai horor, banyak yang mengambil tema horor, begitu juga dengan tema-tema remaja/anak sekolah. lihat saja setelah sukses AADC, Muncul film Cinta Pertama, atau film-film cinta lainnya setelah sukses Laskar Pelangi muncul pula film si Brandon (mimin lupa judulnya) dan sudah berapa banyak film-film anak yang meski berkualitas tapi kurang laku. Setelah sukses film Ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, film-film seperti Perempuan berkalung Sorban malah hadir. Sinetron-sinetron tentang religi percintaan pun tak terhitung jumlahnya.

Latah, mungkin gak hanya di alami orang Indonesia, di dunia perfilman Hollywood juga begitu, sadarkah teman bahwa tema-tema yang diusung film Hollywood saat ini sebagian besar diangkat dari Novel, Komik, tapi yang menjadi kekuatan adalah bagaimana cara mereka meramu, meski kadang ramuan mereka terasa sinting, seperti mengubah-ubah dongeng. Manusia memiliki sifat ingin sesuatu yang baru dan hal inilah yang dimanfaatkan Hollywood, Korea, dan negara maju lainnya.

Sumber